Gurutta’ Shodiq: Berawal Dari Mimpi (Refleksi Setahun NU Care – LazisNU Parepare)

PAREPARE, PIJARNEWS.COM — NU Care – LazisNU Parepare pada bulan Ramadhan 1440 H – 2019 M genap berusia setahun. Umur yang masih belia namun dengan pencapaian luar biasa. Gedung kantor dan Istana Tahfidzul Qur’an PCNU Parepare yang berlantai empat sebentar lagi rampung secara keseluruhan. Dan hal itu tak terlepas dari peran Gurutta’ Shodiq Asli Umar bersama Tim NU Care – LazisNU yang dengan semangat keikhlasan mengajak dan menyampaikan pentingnya sedekah, infaq, zakat dan wakaf.

Tak tanggung-tanggung bantuan tidak berhenti mengalir, berzak-zak semen, juga tegel, pasir, kerikil, dan bahan bangunan lainnya dapat terkumpul dengan cepat. Hingga gaji tukang dan bantuan makanan untuk masyarakat setiap Jum’at. Begitu pun silih bergantinya tamu dari kalangan Syeik, Ulama, Pengusaha, Pejabat, dan lain-lain berdatangan mengunjungi Gedung PCNU Parepare.

Tak ada yang menduga tanah lokasi gedung yang sebelumnya miring itu, hari ini dapat menjadi pusat gerakan, khususnya bagi warga Nahdliyyin Parepare. Setelah Istana Tahfidzul Qur’an telah terealisasi, sementara berjalan proses wakaf dan pengumpulan sedekah untuk pembangunan Pesantren Pariwisata Nahdlatul Ulama Kota Parepare.

“Semuanya berawal dari mimpi,” terang Gurutta’ Shodiq merenungkan kembali awal mula diinisiasinya NU Care – LazisNU.

Saat itu, beberapa pengurus PCNU Parepare sedang santai bersama Haji Tasming Hamid, Mustasyar NU Parepare di Rumah Kopi Sweetness dan tiba-tiba Gurutta’ Shodiq melintas dan singgah. Hingga pada akhirnya ia menyampaikan bagaimana kalau kita buat NU Care – LazisNU di Parepare. Semua menanggapi positif, maka di hubungilah Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Parepare, K. Hannani Yunus. Berselang beberapa saat beliau datang, dan belum lama setelah kopi tersaji kesepakatan bersama pun telah bulat untuk adanya NU Care – LazisNU Parepare.

“Bismillah, Al Fatihah ila NU Care – LazisNU Parepare,” spontan doa dipimpin Ketua NU Parepare yang diamini oleh yang hadir.

Setelah itu, Gurutta’ Shodiq mengusulkan adanya Istana Tahfidzul Qur’an di Gedung Kantor PCNU Parepare. Sekali lagi semua yang hadir merespon positif dan mendukung.

“Serius moga Ustadz?, masiri’ ki’ tuh kude’ na jaji, yang penting ada mau fokus kerjakan,” ucap Haji Tasming Hamid sebagai Mustasyar mengingatkan dengan sedikit bercanda.

Hal itupun disanggupi Gurutta’ Shodiq dan semuanya juga siap membantu untuk mewujudkan Istana Tahfidzul Qur’an. Ketua Tanfidziyah NU Parepare pun mendaulat Gurutta’ Shodiq sebagai Ketua NU Care – LazisNU Parepare atas persetujuan PCNU dan Mustasyar.

Setalah itu dengan niat “li’ilaihi kalimatillah” semua bergerak dan di luar dugaan dalam waktu seminggu semen dapat terkumpul dalam bentuk DO kurang lebih 1500 zak dan sejumlah uang untuk pembayaran upah tukang. Dan terus berlanjut.

Setelahnya ada program KOIN NU (Kotak Infaq NU) dengan metode “one day one thousand rupiah”. Koin NU lalu disebarkan ke internal maupun eksternal warga NU. Selain itu juga laporan penggunaan dana secara transparan semuanya di posting ke grup whatsapp dan sosial media hingga seluruh warga dapat mengawasi dan memberikan masukan.

Termasuk perkembangan pembangunan dan program disebarluaskan di pelbagai platform sosial media dan aplikasi messenger. Ternyata dengan kuasa Allah SWT pembangunan Istana Tahfidzul Quran dan Kantor PCNU banyak mendapat respon dari masyarakat. Bahkan tidak sedikit dari sahabat-sahabat Muhammadiyah ikut menyumbang bahkan ada dari Non Muslim, juga ada dari luar daerah dan luar negeri.

“Ketika selesai pengecoran lantai empat, kami meneteskan air mata, subhanallah berkah Inayah-MU ya Allah. Alhamdulillah cita-cita kami dapat terwujud dan infaq dari hamba-hambaMu semoga menjadi amal jariyah. Lantai 1 untuk Istana Tahfidzul Qur’an, Lantai 2 untuk pertemuan, sedangkan lantai 3 untuk Banom NU, dan lantai 4 untuk kantor,” jelas Gurutta’ Shodiq.

Saat ini pula Istana Tahfidzul Qur’an telah membina peserta didik sebanyak 70 orang dan dibimbing langsung Al-Hafidz Muh. Said Ramadhan dari Ponpes Sirojul Mukhlashin Jawa Tengah, dan tidak memungut biaya sepeserpun untuk belajar di Istana Tahfidzul Qur’an, semuanya gratis. (rls/bcl)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda