Sabu Asal Cina Mudah Dikirim Lewat Udara, Ternyata Pakai Cara Ini

Dir Res Narkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan mengeluarkan 5 kg sabu dan 150 butir ekstasi berkedok bungkusan teh hijau asal Cina saat rilis di Mapolda Sulsel, Senin (30/4).(mks)
Dir Res Narkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan mengeluarkan 5 kg sabu dan 150 butir ekstasi berkedok bungkusan teh hijau asal Cina saat rilis di Mapolda Sulsel, Senin (30/4).(mks)

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM– Sabu asal Negara Cina semakin mudah masuk ke Indonesia. Jika selama ini Bandara dianggap memiliki sistem pengamanan sangat ketat, berbeda dengan pengakuan bandar sabu jaringan internasional, asal Gowa.

Bandar besar sabu asal Gowa, HS (48) mengaku, selama 10 tahun terjun sebagai pengedar, lalu kini menjadi salah satu bandar besar dengan jaringan internasional, ia masih tetap mengirim sabu asal Cina masuk ke Indonesia menggunakan jalur udara dan beberapa jalur lainnya.

Jalur udara yang dimaksud yakni, baik pengiriman lewat paket maupun diantarkan oleh kurir. Tidak hanya saat masuk ke Indonesia. Termasuk saat sabu asal Cina dikirim lagi ke kabupaten/kota yang ada di Indonesia.

Terakhir ia mendapat paket 5 kilogram (kg) sabu dan 150 butir ekstasi dari Cina dengan cara dikirim dari masuk ke Tawawu, Malaysia. Dari Malaysia dikirim lagi ke Kota Medan, Sumatera Utara. Dari Medan baru rencana dikirim ke Makassar dengan dijemput salah satu kurir asal Makassar. Seluruhnya dikirim lewat udara.

“Menurut pengakuannya, lewat udara lebih menguntungkan. Saat ini lebih mudah dan cepat sampai di Makassar. Dibanding pelabuhan terlalu lama dan banyak harus dilakukan,” jelas Dir Res Narkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan, saat rilis di Mapolda Sulsel, senin (30/4).

Lanjut mantan anggota BNN RI ini, pengiriman sabu 5 kg dan 150 butir ekstasi tersebut dikirim dari Cina dengan berkedok pembungkus teh hijau Cina. Pembungkus itu sendiri menggunakan aluminium foil yang sangat murah di Cina. Satu lembar pembungkus dari aluminium foil di hargai Rp50 rupiah, sedangkan di Indonesia hingga Rp100 ribu rupiah.

Untuk pengemasan sabu ke pembungkus teh tersebut juga dilakukan tertutup dipinggir pantai. Dimana di Cina dengan mudah dapat dilakukan dengan tenaga kerja yang digaji sangat murah.

“Pembungkus dari aluminium foil ini tidak terdeteksi X- Ray, apalagi jika dikirim masuk dengan jumlah banyak bersamaan dengan teh beneran,” ungkap Hermawan.

Kemudian tahun 2017 lalu dirilis bahwa 250 ton narkoba jenis sabu masuk ke Indonesia dari cina. Akan tetapi setelah di evaluasi ternyata dari 100 persen sabu masuk ke Indonesia hanya 20 persen dari negara Cina. Sisanya berasal dari beberapa negara, diantaranya, Miyanmar, Thailand dan India.

“Hanya saja, sabu dari negara lain ini dikemas di Cina, karena itu tadi. Cina juga menguasai jalur Asia. Link kuat dan memudahkan jalur laut yang tidak terdeteksi,” terangnya.

Diketahui pengungkapan jaringan internasional tersebut bermula saat keberadaan DPO bandar besar asal Gowa, HS berhasil ditemukan. Kamis (19/4) Dit Res Narkoba Polda Sulsel langsung menurunkan mata-mata membuntuti dan menempel ke HS. Bahkan saat Selasa (24/4) saat HS berangkat ke Medan melalui Bandar udara Internasional Sultan Hasanuddin, ia masih diikuti. Di Medan sendiri HS melakukan penjemputan sendiri paket 5 kg yang dikirim dari Cina lewat Tawawu, Malaysia, lalu ke Medan, Sumatera Utara.

Saat paket diduga sabu berada di HS, polisi lalu membuntuti hingga ke salah satu hotel di Medan. Di Hotel inisial RAZ itulah HS ditangkap bersama barang bukti sabu 5 kg dan 150 butir ekstasi. Disana juga polisi berhasil menangkap kurir suruhan HS, yakni HW (24) pria asal Makassar. Tugas HW harusnya ia yang membawa 5 kg sabu dan 100 butir ekstasi tersebut ke Makassar menggunakan pesawat terbang.(mks)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News