Tema MIWF 2019 Cara Penulis Merespon Dinamika Perebutan Kuasa

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM — Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali digelar 26-29 Juni 2019. Tahun ini memasuki tahun ke-9, dan mengusung tema People, sebagai respon terhadap Pemilu—yang paling kompleks—yang baru saja selesai.

Dalam Bahasa Inggris, People bila diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah: orang, tapi juga berarti rakyat. People (rakyat) seringkali hanya diperhatikan saat perebutan kekuasaan. MIWF mencoba menempatkan People dengan cakupan yang lebih luas, dengan membuka banyak ruang percakapan tentang orang-orang yang berdedikasi di berbagai bidang.

Tahun ini, sebanyak 68 orang penulis dan pembicara yang akan ikut berbagi pengalaman dan cerita tentang karya-karyanya di MIWF. Di antaranya Agustinus Wibowo, Intan Paramaditha, Fira Basuki, Reda Gaudiamo, Joko Pinurbo, Yandy Laurens, Haidar Bagir, dan Prof Sangkot Marzuki yang akan berbagi tentang perjalanannya melintasi batas-batas bangsa, lembaga dan disiplin ilmu pengetahuan.

MIWF kian berkembang menjadi festival of ideas yang menjadi pertemuan seniman lintas disiplin, budayawan, aktivis, intelektual yang ingin terhubung langsung dengan warga lokal. Ada 58 total mata acara yang akan berlangsung dan berpusat di Fort Rotterdam dan lima kampus di Makassar yakni: Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Islam Negeri Alauddin, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Universitas Kristen Indonesia Paulus.

MIWF semakin membuka diri untuk kerjasama internasional. Salah satu wujud nyata kerjasama terjalin yakni pertukaran penyair Indonesia Timur dan Inggris. Tiga penyair terpilih dari Indonesia Timur adalah Irma Agryanti (Lombok), Jamil Massa (Gorontalo) dan Mario F. Lawi (Kupang). Sedang tiga penyair dari Inggris adalah Roseanne Watt, Rufus Mufasa, dan William Letford. Mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan di Makassar International Writers Festival dan Contains Strong Languange Festival di Inggris, di Makassar 26-29 Juni 2019 dan di Inggris 27-29 September 2019.

Paul Smith, Country Director of British Council, Indonesia menyatakan, “Kami bangga menjadi bagian Dari MIWF dan mendukung program ‘UK-Indonesia Indigenous Language Poetry’ yang merayakan keberagaman budaya Indonesia dan Inggris—dua bangsa yang sangat beragam dan penuh dengan energi kreatif. Program ini mengajak penyair Muda Indonesia dan Inggris untuk menyelami bahasa adat dan berkolaborasi dalam karya-karya puisi,” jelasnya

Paul juga berkeyakinan di tengah derasnya arus informasi dan perbincangan, puisi dan bahasa adat memiliki kekuatan yang unik dalam melestarikan dan memproduksi pengetahuan, mencatat gagasan, dan menjembatani perbedaan.

Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid berharap program pertukaran penyair ini bisa menjadi jembatan kabudayaan antara dua negara. “Ini bisa menjadi awal dimana Indonesia Timur membuka diri untuk kerjasama internasional, jadi tidak perlu lewat Jakarta lagi.”

Tahun ini MIWF juga merayakan tahun internasional bahasa asli. “Kami ingin melihat apakah penyair yang terpilih ini bisa kita fasilitasi lebih jauh untuk mengeksplor dan menjelajahi lagi akar mereka melalui bahasa asli, bahasa Ibu mereka. Bagaimana itu bisa dituangkan dalam karya-karya puisi mereka,” kata Lily yang juga menjadi salah satu kurator.

Kurator MIWF untuk Pertukaran Penyair Indonesia Timur-Inggris adalah M. Aan Mansyur, Shinta Febriany, dan Lily Yulianti Farid. Ketiga kurator ini juga memilih Emerging Writers—penulis-penulis muda dari Kawasan Timur Indonesia. Mereka adalah Fadli Refualu (Makassar), Safar Banggai (Banggai), Baiq Ilda Karwayu (Mataram), Nurul Fitroh (Makassar), dan Giovanni A. L. Arum (Kupang).

Tim MIWF menerima 195 naskah, jumlah ini tidak termasuk yang melewati batas waktu yang ditetapkan. Dimana jumlah cukup banyak dan cukup beragam, persebaran daerahnya juga bukan Hanya daerah-daerah kota besar di Indonesia Timur tapi juga kabupaten.

“Banyak anak muda tertarik menulis
dan mempercayakan MIWF untuk membaca karyanya,” kata Aan. Tahun ini MIWF juga mengumumkan sister festival dengan Festival Sastra Banggai (FBS). Kedekatan geografis dan keterikatan emosional antara kedua festival ini menwujud dalam perayaan tahun ini. Sebuah koneksi yang termalin lebin erat, jadi buat Anda yang hendak melakukan perjalanan, bisa sekali jalan, 4 hari di Makassar dan 4 hari di Luwuk.

“MIWF seperti kakak yang menjadi bayangan FBS,” kata Ama Achmad penggagas FBS, yang juga pernah terpilih menjadi Emerging Writers pada tahun 2014. FBS yang memasuki tahun ketiga ini akan berlangsung 30 Juni-3 Juli 2019.

MIWF juga mengusung konsep Zero Waste Festival sebagai bentuk kampanye melarang penggunaan plastik sekali pakai. Komitmen ramah lingkungan ini dimulai oleh para relawan dan tim kerja yang wajib membawa botol air minum isi ulang. Kami juga membentuk tim Zero Waste yang akan bertugas selama festival. Seluruh sampah yang dihasilkan saat festival akan dipilah, dijadikan kompos, didaur ulang agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

MIWF tahun lalu mencatat ada 24.000 pengunjung, bisa dibayangkan jika semua pengunjung membeli air minum kemasan, maka terbayang sampah yang dihasilkan. “Ini isu serius, yang mungkin kita coba atas dengan langkah sederhana. Mulai dari diri sendiri,” ungkap Lily.

Tema People ini juga didedikasikan buat para volunteer. People yang membuat MIWF berjalan hingga hari ini adalah para relawan yang mau bekerja bersama-sama dan berbagi. Tahun tercatat ada 119 relawan yang bekerja bersama-sama mewujudkan terlaksananya MIWF ini. (rls)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda