S. Purwanda: Buku Dongeng dan Anak-anak

ESAI,- Buku anak sangat lekat dengan dongeng. Kuat dugaan, dongeng merupakan cara terbaik menyampaikan sesuatu secara intuitif kepada anak. Seorang anak mungkin belum bisa mencerna rasionalitas berpikir orang dewasa. Cara berpikir orang dewasa yang rumit dan cenderung mendikte. Tapi, lagi-lagi ini butuh penelitian lebih lanjut untuk menjawabnya.

Kemarin, 2 April, kita merayakan hari buku anak sedunia. Perayaan ini bertepatan dengan hari kelahiran pengarang buku anak dari Denmark, Christian Andersen. Penentuan ini tentu berkaitan dengan dedikasi Andersen, yang telah menciptakan tak kurang dari 3381 judul cerita, dan telah diterjemahkan ke dalam 125 bahasa dunia. Beberapa karyanya yang terkenal adalah The Little Mermaid; The Nightingale; and The Snow Queen.

Kita mungkin tidak asing dengan kisah-kisah dongeng dari Andersen. Bahkan lebih tidak asing lagi, mengingat dongeng-dongeng tersebut sudah diaudio-visualkan ke layar televisi. Bentuk audio-visual ini kemudian digemari, seiring perkembangan laju zaman. Tak bisa dipungkiri, walau ajakan untuk berimajinasi perlahan menghilang dalam bentuk audio-visual, bentuk ini bisa jadi juga sebagai sindiran kepada orang tua sekarang yang enggan mendongeng kepada anaknya.

Dongeng adalah cara menjelaskan dengan sederhana sebuah kejadian yang dialami oleh anak. Masa di mana anak mulai bertanya, adalah masa mendongeng yang baik menurutku. Orang tua yang tahu cara mendongeng, merupakan penyimak yang baik; bisa jadi ia adalah pendengar yang baik atau seorang pembaca yang baik. Karena dengan menyimak dan ketelitian dalam meninjau sesuatu, maka hasilnya akan mudah dalam menggambarkan suasana.

Seorang anak yang sering didongengkan, akan tumbuh dengan banyak kosa kata. Anak yang tumbuh dengan banyak kosa kata, akan mudah membangun kalimat; tentu enteng menyampaikan keinginannya. Anak yang tumbuh dengan sedikit kosa kata, akan lebih banyak memendam, diam atau bahkan pemalu. Ia mungkin tahu apa yang ia alami, tapi tidak tahu bagaimana menyampaikannya.

Anak-anak yang sering terpapar oleh teks—karena kebiasaan didongengkan atau kebiasaan membaca—biasanya tumbuh dengan pengetahuan yang lebih. Hal ini yang mungkin dialami oleh Pradeeva, anak perempuan berumur 15 tahun dari Sri Lanka. Sebelumnya ia tidak mendapatkan perlakuan yang layak terhadap akses pendidikan di desanya. Tapi siapa sangka, ia justru melawan dengan sebuah dongeng. Berikut dongeng dari Pradeeva yang berjudul “Ikan Cilik Pergi ke Sekolah.”

Di suatu siang. Ikan Cilik sedang berenang di tepi kolam. Ia melihat seekor kelinci melompat kegirangan. Kelinci itu mendekatinya, lalu ia bertanya. “Apa yang membuat kamu senang Kelinci?”

“Aku baru saja pulang sekolah. Tempat yang begitu menyenangkan. Di sekolah kita bisa bernyanyi, kita bisa bermain, kita bisa belajar, membaca buku, tidur siang, dan makan-makan. Aku suka sekolah!”

Ikan Cilik mendengarnya dengan saksama. “Sekolah, kedengarannya menarik.” Malamnya, Ikan Cilik bertanya pada Ibunya, “Ibu, aku ingin pergi sekolah!”

“Tidak, kamu tidak bisa.”

“Mengapa? Aku juga ingin sekolah.”

“Sekolah itu di darat, dan kita ini hidup di air. Maaf. Hidup ini tidak adil, tapi itulah kenyataannya.” Ikan Cilik tentu bersedih. Ia mesti menerima takdirnya sebagai ikan.

Keesokan harinya, Ikan Cilik menyampaikan kepada Kelinci. Si Kelinci mafhum, kemudian membaginya kepada teman-teman kelasnya. Babi menanggapi dengan sinis, “Tidak, tidak ada alasan untuk membantu Ikan, mereka berbeda dengan kita; bukan bagian dari sekolah.”

Tidak ada teman yang mau membantu Kelinci, akhirnya ia inisiatif, menolong Ikan Cilik. Ia mengambil sebuah akuarium, diisi air, lalu memasukkan Ikan Cilik ke dalamnya. Keesokan harinya, Ikan Cilik itu pergi sekolah, tentunya dibantu oleh Kelinci.

Pradeeva adalah Ikan Cilik yang ia tuliskan dalam dongeng di atas. Pradeeva mengangkat persoalan pendidikan di sekitarnya. Seputar isu kemiskinan, gender, agama, dan strata sosial yang melingkupinya.

Di desa Praadeva, kalau kamu miskin, perempuan, agama minoritas, dan dari kasta terendah, maka hak-hak pendidikan tidak serta merta melekat pada dirimu. Akunya, sebagai orang yang mengalami nasib buruk tersebut. Ia menceritakan hal itu sebagai bentuk diskriminasi yang ia alami, dan banyak anak-anak perempuan sebaya lainnya mengalami hal yang sama.

Kecerdasan dan keberanian Pradeeva dalam menyuarakan ketidakadilan cukup membuat kita tercengang. Anak yang berusia 15 tahun, berimajinasi dengan cerita, membagikan kepada dunia mengenai apa yang ia alami, hingga membuat Toni Morrison—peraih nobel sastra—ikut terharu.

Kekuatan dongeng dan membaca serta keberanian anak menyampaikan persoalan yang dialaminya ternyata bisa menjadi bentuk kritik terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitarnya, tentu dengan metafora yang lugu.

Selamat hari buku, anak-anak.

Penulis: S. Purwanda

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda