OPINI; Selamat Jalan vs Selamat Tinggal

Oleh : Dr H Muhammad Saleh, Wakil Rektor III IAIN Parepare

OPINI — Saat melepas seseorang yang akan bepergian, terkadang yang muncul kesedihan tetapi boleh jadi juga kegembiraan, sehingga terucap Selamat Jalan. Namun, orang yang akan bepergian akan membalas dengan ucapan Selamat Tinggal.

Selamat Jalan, merupakan 2 kata yang tergabung untuk memaknai betapa perpisahan itu sesuatu yang terkesan dan akan terkenang.

Bila kedua kata ini dipisahkan akan memberi makna yang berbeda. Selamat dalam KBBI memiliki makna 1) terbebas dr bahaya, malapetaka, bencana; terhindar dr bahaya, 2) pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb): — datang; — jalan; — malam (pagi, siang); — tahun baru; — tinggal;

Kata ‘jalan’ bermakna: bergerak maju, atau meninggalkan tempat semula. Apabila kedua kata ini digabung ‘ Selamat Jalan’ akan bermakna: pemberian salam kepada yang akan pergi semoga dapat melalui perjalanan dengan selamat.

Kata ‘tinggal’ bermakna: menetap, masih tetap ditempatnya sementara yang lain sudah pergi. Apabila menjadi kalimat Selamat Tinggal akan bermakna: Pemberian salam kepada yang ditinggalkan semoga tetap mendapatkan kebahagiaan, selamat dalam hidupnya.

Ramadan akan berpisah dengan kita, hanya beberapa hari lagi akan meninggalkan kita. Setiap hari senantiasa bercengkrama dengan ramadan untuk memburu derajat ketakwaan. Namun, kehadiran ramadan dibatasi waktu, hanya satu bulan (29 atau 30 hari)

Amaliah Ramadan tidak terlewatkan bagi orang-orang istiqamah, namun masih banyak diantara kita berguguran di tengah jalan, tidak sanggup lagi meladeni ramadan.

Puasa sebagai ibadah khusus ramadan tetap dijalani walau panas terik, adanya godaan untuk mempersiapkan “hari kemenangan” dengan baju baru, santapan hari raya, mudik yang melelahkan.

Tidak sedikit saudara kita rela membatalkan puasanya demi persiapan eforia hari kemenangan.

Membaca Alqur’an tetap dilakukan dengan berburu pahala yang sangat berlimpah, walau lebih banyak yang tidak lagi membuka lembaran-lembaran mushab, karena mereka lebih asyik membuka lembaran resep terbaik yang akan dipajang di atas meja menyambut tamu “silaturrahim” untuk saling memaafkan.

Berbagi dengan sesama, berinfaq, sedekah, memberi sajian berbuka yang setiap malam diumumkan di masjid, diviralkan di media sosial mudah-mudahan aktivitas dibungkus dengan “keikhlasan” bukan riya, pamer ‘ketakwaan’.

Banyak saudara kita yang juga berkeinginan untuk berbagi tetapi tidak ada sesuatu yang bisa dibagi. Boleh jadi karena masih belum yakin kalau berbagi akan menambah rejeki.

Aktivitas Ramadan akan berakhir, kalimat Selamat Jalan Ramadan akan terucap. Akankah ramadan pergi meninggalkan kita membawa kesan yang baik. Akankah ramadan membuat laporan kepada Sang Khalik bahwa selama kita menjamunya terladeni dengan baik. Akankah ramadan melaporkan kepada Sang Maha Agung bahwa semuanya dilakukan secara ikhlas,
tulus dan mengharapan keridhaan Allah untuk meraih ketakwaan.

Bagi yang ditinggalkan, ramadan akan berucap: Selamat Tinggal wahai para pemburu Amaliah ramadan. Ramadan berpesan tetap istiqamah melanjutkan perjuangan ramadan.

Hasil sesungguhnya dari amaliah ramadan bukan pada saat bulan ramadan, tetapi bagaimana setelah ramadan, akankah tetap istiqamah mewujudkan buah amaliah ramadan di sebelas bulan berikutnya.

Puasa tetap dilakukan, 6 hari di bulan syawal dilanjutkan bulan-bulan selanjutnya dengan puasa Senin-Kamis. Sanggupkah????

Qiyamul Lail, walau tarawih tidak ada di luar ramadan tetapi dapat digantikan dengan bangun di tengah malam untuk shalat Tahajjud. Sanggupkah????

Bersedekah/berbagi, walau janji di bulan ramadan akan dilipat gandakan pahala, namun kebiasaan berbagi tidak ada salahnya tetap dilakukan di luar ramadan. Sanggupkah????

(hanya buah tangan mensandingkan antara pikiran dan tindisan pada keyboard mengisi waktu saat menelusuri jalan berliku, berlobang, walau tidak macet)
#goresan_menelusuriArusMudikParepare_soppeng) (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda