OPINI: Permainan Tradisional di Era Milenial

Oleh: Rusli
(Mahasiswa Pascasarjana Prodi Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Parepare)

Dahulu permainan tradisional sangat populer di kalangan anak-anak. Dengan kemajuan teknologi dengan kecanggihannya yang dapat begitu cepat mengubah pola pikir anak tentang permainan tradisional yang digantikan oleh permainan yang serba digital seperti game online melalui gadgetnya. Anak-anak yang bermain dari gadget itu sendiri hampir keseluruhan hanya bersantai di kamar. Hal itu sendiri dapat mengurangi sosialisasi atau komunikasi anak, sehingga mereka hanya ingin diam dan malu untuk bicara ketika dihadapkan dengan teman-teman sebayanya.

Kini permainan tradisional mulai terkikis eksistensinya. Padahal, beragam manfaat untuk perkembangan anak yang ditularkan permainan tradisional karena fisik dan emosi anak terlibat langsung. Permainan tradisional umumnya mengandung kegiatan fisik, kreatifitas, sportifitas, kecerdasan intelektual, interaksi sosial, dan manfaat lainnya. Seperti dalam permainan maggoli’ (main kelereng) dapat mengembangkan kecerdasan intelektual pada anak karena permainan yang melatih otak kiri anak dan melatih anak menggunakan strategi agar dapat mengumpulkan biji-biji kelereng lebih banyak dari lawan.

Media Thejakartapost pernah menulis berdasarkan data Komunitas Hong, sebuah komunitas pelestari permainan tradisional di Indonesia yang berada di Ciburial, Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. Diperkirakan ada 1.000 lebih permainan tradisional dari Sabang sampai Merauke, tapi yang berhasil tercatat lebih sedikit. Dari jumlah itu, hanya 20 persen yang masih eksis dan tetap dimainkan oleh publik terutama di pedesaan. “Jumlah yang sudah kami kumpulkan sudah ada 890 jenis,” kata pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif dikutip dari situs ciburial.desa.id. Apa yang menjadi perkiraan komunitas ini sangat klop dengan kondisi di lapangan.

Berdasarkan hasil tesis tentang permainan tradisional yang dipublikasikan binus.ac.id, pengetahuan dan  kesadaran orang tua Indonesia terhadap permainan tradisional masih rendah. Padahal para orang tua saat ini tak sedikit yang masih mengalami permainan tradisional saat mereka kanak-kanak. Dalam studi itu, dari total 153 koresponden orang tua, rentang umur antara 20-45 tahun, rasio perbandingan perempuan dan laki-laki sebesar 55 persen dan 45 persen. Sebanyak 80 persen dari mereka berpendidikan S1. Mereka terdiri dari dua kategori, yaitu kalangan yang sudah memiliki anak usia 0-8 tahun, dan kalangan yang belum memiliki anak. Tercatat sebanyak 60 persen dari kalangan yang sudah memiliki anak usia 0-8 tahun menjawab bahwa mereka lebih sering memberikan anak-anaknya permainan berbasis digital. Hanya sekitar 20 persen saja yang menjawab mereka mengarahkan anaknya untuk bermain permainan tradisional. Sebanyak 50 persen dari koresponden yang memiliki anak usia 0-8 tahun tidak mengetahui bahwa permainan tradisional mengandung dan mengajarkan nilai-nilai budaya.

Selain tercatat sebanyak 50 persen cukup tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang permainan tradisional. Sementara itu, koresponden yang belum memiliki anak menjawab sebanyak 53 persen koresponden memilih permainan tradisional untuk diberikan kepada anak usia 3-8 tahun. Ada 31 persen koresponden tidak tahu permainan tradisional mengandung dan mengajarkan nilai-nilai budaya.

Tak heran jika kemudian, permainan tradisional anak kian meredup dan mulai dilupakan. Pemerintah punya andil untuk tak hanya membangkitkan tapi juga melestarikan permainan tradisional yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia.

Permainan tradisional merupakan permainan yang dimainkan anak anak jaman dulu, tentu anak yang lahir di era 90an pasti tidak asing dengan permainan- permainan tradisional tersebut. Permainan tradisional kebanyakan dimainkan secara kelompok. Dalam kehidupan anak-anak di masa lalu bisa dikatakan tidak mengenal dunia luar yang telah menuntun mereka pada kegiatan-kegiatan sosial dan erat dengan kebersamaan, berbeda dengan masa sekarang yang sarat akan perkembangan teknologi seperti gadget yang mengantarkan anak jaman sekarang dengan ketergantungan, bisa dibilang kegiatan-kegiatan sosial, gotong royong kebersamaan sulit untuk kita dapatkan, begitu pula dengan permainan tradisional di era milenial seakan sulit untuk kita temukan anak jaman sekarang melakukan permainan-permainan tradisional karena di era ini telah berkembang permainan- permainan dengan sistem digital seperti game online, medsos dan youtube.

Permainan tradisional juga merupakan kekayaan atau aset budaya bangsa Indonesia, karena permainan tradisional ini diciptakan di Indonesia. Di Sulawesi Selatan sendiri dikenal beberapa permainan tradisional seperti, maggoli’ (main kelereng), ma’ Bong (permainan Bom), Dende di daerah lain, permainan ini di sebut Engklekan, lompat karet, enggo’-enggo’ di daerah lain di sebut dengan permainan petak umpet, cagke di daerah lain di kenal dengan nama gatrik, ma’longgak, ma’gasing, ma’santo, ma’cacca’ (main gambar-gambar), dan lain sebagainya.

Pengenalan serta pelestarian budaya permainan tradisional selain dukungan pemerintah tentu juga sangat diharapkan peran orang tua, masyarakat dan generasi muda. Salah satu upaya pemerintah dalam pelestarian budaya permainan tersebut adalah program Gerakan Indoensia Mengajar atau dikenal dengan Kelas Inspirasi. Program besutan Anies Baswedan dikala menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu juga dalam lingkup Perguruan Tinggi yang ada di Sulawesi Selatan sebagai generasi yang peduli akan pelestarian budaya yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan di bidang seni membuat sebuah program sebagai salah satu bentuk pengenalan budaya yakni Perkampungan Mahasiswa Seni (KAMASE).(*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda