Esai; Surat untuk Robert Alberts (102 Tahun PSM Makassar)

Penulis: Imam Dzulkifli (Jurnalis, pecinta PSM)

PIJAR ESAI — Apa kabar, Meneer? Saya berharap kamu sehat dan tetap suka minum kopi. Dua hari lalu saya melihatmu di komputer kantorku. Kamu berbaju dan bercelana putih di tempat fitnes.

Oh iya, mulai paragraf ini, saya akan menyapamu dengan “tuan” saja. Biar teman-teman saya yang tak tahu apa arti meneer, juga bersedia melanjutkan membaca.

Ini memang surat terbuka, Tuan. Toh isinya tidaklah penting. Saya sekadar mengirim peregang otot. BBC menulis, membaca adalah aroma terapi. Ada empat ribu responden di London yang terlibat dalam pengambilan kesimpulan itu. Dan tuan butuh rileksasi agar tak terlalu tegang memelototi klasemen.

Sebagai seseorang yang mencintai PSM, saya senang betul dengan raihan tim ini sekarang. Bukan semata karena 62 poin dari 32 laga dan piala itu berpeluang kita tempatkan pada sebuah lemari di Makassar, tetapi juga lantaran apa yang pemain tampilkan.

Bagi kami yang pekerja kantoran atau teman-teman saya yang juga seharian mencari nafkah, menonton PSM di sore atau malam hari adalah air hangat yang mengucur dari kepala. Sungguh menghibur ketika bola dari Hamka jatuh ke dada Pluim kemudian bergulir di antara dua bek lawan dan Ferdinand menyelesaikannya dengan baik. Dia akan berlari ke pinggir dan menunjuk ke langit.

Andai Rasyid sudah bisa main, komplet betul pertunjukan itu. Dia Totti kalau di Serie A.

Saya juga menyukai Tibo. Anak Papua itu penari yang hebat. Mudah-mudahan dia pulih sebelum Senin, 6 November. Gocekannya asyik.

Dan kami paham, seni yang ditunjukkan anak-anak PSM adalah terjemahan dari skenario di kepalamu. Tidak betul-betul mirip Ajax di era 90-an, tetapi kerapian ala Belanda cukup kentara di situ. Atau mungkin karena selain Pluim, ada Klok juga di tengah.

Di mata saya, tuan sudah lebih profesor daripada Arsene Wenger. Tetapi tentu tak bisa dibandingkan dengan profesor yang sedang ingin bertarung jadi gubernur di tanah rantaumu saat ini, Tuan. Dia profesor betulan.

Lalu mengapa surat ini harus ada? Saya merasa perlu mewakili mereka yang juga berpikiran bahwa PSM juara atau tidak musim ini, murni garis tangan. Kalaupun ada yang sedikit bermain, ini memang Liga Indonesia, Tuan. Bukan Inggris. Hanya kadang-kadang mirip Italia.

Yang jelas, tujuan dari ikutnya PSM di kompetisi, yakni bertarung dan menjadi wadah menumpahkan gairah para suporter, sudah tercapai, Tuan. Kalau kemudian kita juara, itu sungguh bonus yang tidak kecil..

Daeng Uki, sahabat saya yang entah masih suka minum susu atau tidak pernah bilang ini di Bojonegoro: kalau suka PSM, jangan hanya bersorak ketika menang dan mengejek pemain saat kalah. Cinta, masih kata dia, tidak sekurang ajar itu.

Makanya, saya berharap tuan tidak terbebani. Bali dan Madura sedang hebat-hebatnya. Tetapi pengamat kok merasa keduanya punya kelemahan besar. Khusus Bali, kata pelatihnya si Widodo itu, pasukannya lemah dalam transisi di babak kedua. Nah, Zulham atau Rahmat bisa kau andalkan di atas menit 65′, Tuan.

Tetapi ah, tuan kan yang jagoan strateginya. Empat tahun di Malaysia dan enam tahun di Singapura, tim asuhanmu selalu superior. Arema juga pernah kau bawa juara.

Melalui surat ini, saya sekadar ingin berterima kasih atas segala yang telah PSM tunjukkan.

Hampir lupa, hari ini 2 November. PSM tepat 102 tahun. Apa tuan merayakannya? Saya juga berencana membuat pesta. Ada setengah biji pepaya di kulkas dapur saya. Mungkin baik bila saya menjadikannya es buah. Sebenarnya saya juga senang salad, namun saya tak tahu cara membuat saus mayonesnya.

PSM dahulu itu Makassar Voetbal Bond, nama dari negerimu, Tuan.

Sudah ya. Surat ini sudah terlalu panjang.

Dan mudah-mudahan tuan tidak lupa saya. Nama saya Imam Dzulkifli. Masih di FAJAR. Entah di 2010 atau 2011, kita cukup dekat. Kalau tak salah ingat, kau memanggilku Boy.

Pernah suatu sore di Sidoarjo, tuan mendorong saya dari pinggir kolam renang. Pemain-pemain PSM yang sedang pemanasan di dekat taman, terpingkal-pingkal. Goran, Mitrovic, dan Deny yang paling terbahak. Untung tuan tidak terlambat menarik tangan saya. Sumpah, saya anak desa yang tak tahu berenang.

Saat melihat saya menendang bola di Karebosi, tuan bergurau bahwa andai masih butuh satu pemain, saya juga akan teken kontrak di PSM. Waktu itu stand up comedy belum booming.

Tuan juga yang mengajari saya makan spageti. Sebagai peliput PSM, saya kerap di restoran yang sama dengan para pemain. Dan oleh tuan, mereka dilarang makan nasi. Saya terpaksa ikut-ikutan bule. Spageti turun lambat ke leher saya, Tuan.

Dan ini rahasia ya. Dahulu, usai sarapan dan lagi-lagi hanya terigu yang bukan mi itu di meja, Syamsul dan beberapa pemain lain kabur ke sebuah warung coto. Saya cukup ingat karena mereka juga mengajak saya saat itu. Tetapi tolong jangan hukum Syamsul dengan push up, Tuan. Itu peristiwa lebih dari enam tahun lalu. Syamsul juga orang baik. Kalau memungkinkan, mainkanlah dia di dua laga sisa. Daya juangnya dibutuhkan.

Sampai jumpa, Tuan. Saya berharap selain selalu sehat dan bahagia, tuan juga bisa segera fasih berbahasa Indonesia. Saya dengar tuan masih memakai penerjemah sampai sekarang. Itu sungguh menyita slot jatah orang di bench, Tuan. Ternyata, hebat 4-2-3-1 tak menjamin hebat juga di pelajaran bahasa ya.

Tetapi sudahlah, ewako sajalah, Tuan!

Maros, 02.11.17

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda