Dampak Pandemi Covid-19 Ganggu Kesehatan Mental, API Sulsel Beri Pendampingan Gratis

Ahmad Yasser Mansyur

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM — Sejak Indonesia terpapar Covid-19 pada Maret lalu, berbagai dampak dirasakan masyarakat. Salah satunya dampak psikologis yang dialami individu maupun keluarga.

Bahkan hingga tanggal 8 November 2020, Indonesia telah melaporkan 437.716 kasus positif menempati peringkat pertama terbanyak di Asia Tenggara.

Asosiasi Psikologi Islam (API) Sulawesi Selatan yang membawahi tim relawan psikologi Islam Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Indonesia Timur, Universitas Islam Negeri Alauddin dan IAIN Parepare menggelar tanggap darurat program kesehatan mental dengan memberi dukungan psikologi spiritual.

“Dukungan kesehatan mental baik psikologis maupun spiritual ini dilakukan secara online dan itu gratis,” tutur Ahmad Yasser Mansyur, S.Ag, S.Psi, M.Si, Ph.D, Koordinator Relawan  kepada Pijarnews.com, Selasa (9/11/2020).

Dosen Fakultas Psikologi UNM ini memaparkan  asosiasi tersebut berfokus pada penyelesaian masalah kepada aspek psiko religius/spiritual yang merupakan pendekatan psikologi dan agama dalam penyelesaian masalah.

“Pada saat pandemi kita sudah langsung   membuat   program ini sampai sekarang   dan terus  banyak  menerima masukan dari warga khususnya di Sulsel yang mengalami  dampak psikologi adanya wabah pandemi virus corona,” katanya.

Alumni doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini melanjutkan, berdasarkan pengalamannya mendampingi masyarakat, terbanyak mereka mengalami ketakutan terhadap kematian, disusul kekhawatiran dirinya dan keluarganya terpapar virus corona.

Ketakutan akan kematian itu sangat mengganggu pikiran, perasaan bahkan secara fisik juga. Sehingga ada psikomatis yang muncul seperti dada sesak, pikiran kacau, kalut, susah tidur, sulit konsentrasi. Akibatnya, stres dan psikomatis. Psikomatis ini dapat membuat terganggunya organ-organ pada tubuh yang mengakibatkan susah tidur, susah bangun, susah konsentrasi, susah makan, dan berkeringat kalau malam hari.

“Sehingga kami para dosen yang tergabung dalam asosiasi psikologi Islam melakukan pendampingan akan problema yang mereka hadapi berupa bantuan konseling dan psikoterapi,” jelas ayah enam anak ini.

Yasser sendiri saat ini telah mendampingi 12 orang termasuk yang positif corona.
Pendampingan dilakukan lewat WhatsApp dengan metode konseling dan psikoterapi. Konseling untuk masalah ringan seperti stres dan psikoterapi untuk masalah berat misalnya kecemasan dan depresi. Adapun konseling yang diberikan seperti penguatan-penguatan keilmuan maupun spiritual.

Penguatan keilmuan misalnya mengenai ciri-ciri virus corona dan gejalanya seperti apa jika seseorang terpapar. Sedangkan penguatan spiritual lebih menekankan pada isi Alquran seperti yang tercantum dalam Qs. Ali Imran: 173, Hasbunallah  Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Sehingga yang diharapkan dari pendampingan secara spiritual ini adalah sikap sabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah Swt.

“Saya pernah melakukan pendampingan pasien yang positif corona lalu jadi negatif, dan dia berhenti mengonsumsi obat anti depresi karena sudah tak cemas lagi,” pungkas Direktur Rumah Konseling Qur’ani Indonesia tersebut. (*)

Penulis dan Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News