OPINI:Pagi di ruang pertemuan Hotel Amaris Pettarani, Makassar, berjalan tenang. Tidak ada suara debat yang meninggi, tidak pula presentasi satu arah yang membuat mata berat. Yang terdengar justru bunyi tuts keyboard ditekan berulang, diskusi kecil di sudut-sudut meja, dan sesekali tawa ringan ketika sebuah eksperimen digital berhasil.
Di ruang itulah para jurnalis dan pengelola media lokal belajar satu hal yang kini tak bisa dihindari: bagaimana tetap relevan dan bertahan di zaman kecerdasan buatan.
Puluhan peserta datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Maros, Pangkep, Parepare dan Bulukumba. Mereka membawa kegelisahan yang sama. Dunia jurnalistik berubah terlalu cepat. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ekosistem baru yang menentukan apakah sebuah media akan hidup atau perlahan ditinggalkan pembacanya.
Pelatihan bertajuk Artificial Intelegence (AI) Tools Training for Journalists yang digelar Suara.com bersama Local Media Community (LMC), dengan dukungan penuh Google News Initiative (GNI), menjadi ruang belajar sekaligus ruang uji nyali. Selama dua hari, Senin hingga Selasa, 2–3 Februari 2026, peserta diajak berkenalan, bahkan dipaksa akrab, dengan berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan: Gemini, Google Trends, Pinpoint, NotebookLM, hingga teknik verifikasi gambar dan video berbasis AI.
Pelatihan ini terasa berbeda. Bukan kelas dengan teori panjang yang membuat waktu berjalan lambat. Materi disampaikan singkat, lalu langsung dipraktikkan. Peserta mencoba, berdiskusi, salah, lalu memperbaiki. Interaktif. Dinamis. Jauh dari kesan membosankan. Di sinilah teknologi tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra kerja jurnalis dan editor.
Di depan kelas, Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, berbicara lugas tentang masa depan media. Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu tidak romantis membicarakan kejayaan masa lalu. Ia justru mengingatkan bahwa media hari ini tak cukup hanya hadir dalam bentuk website.
“Karya jurnalistik harus sampai ke pembaca,” katanya. “Kalau pembacanya pindah ke platform lain, medianya juga harus ikut pindah.”
Pesan itu menggema di kepala peserta. Berita tidak lagi hidup di satu rumah. Ia harus mampu beradaptasi di Instagram, TikTok, Facebook, YouTube, dan platform lain yang mungkin bahkan belum ada hari ini.
Para trainer, Muhammad Yunus, Rendy, dan Elga Maulina, membuka dapur kerja Suara.com. Mereka menunjukkan bagaimana AI bisa membantu riset, mempercepat proses kerja, mempertajam data, tanpa menghilangkan nurani dan etika jurnalistik. AI bukan pengganti jurnalis, tetapi alat di tangan jurnalis yang mau belajar.
Puncak pelatihan terjadi di sesi akhir. Peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan diberi tantangan nyata: menghasilkan karya jurnalistik berbasis AI. Tidak hanya satu bentuk, tetapi beragam, naskah berita, audio, video, flyer, hingga infografis. Semua dikerjakan dalam waktu terbatas. Suasana ruang kelas berubah menjadi newsroom dadakan.
Menariknya, penilaian tidak hanya datang dari fasilitator, tetapi juga dari sesama peserta. Setiap kelompok saling mengapresiasi dan mengkritik karya kelompok lain. Dari proses penilaian awal, dua kelompok memperoleh nilai tertinggi yang sama: Kelompok 1 dan Kelompok 3. Situasi itu memicu penilaian ulang yang lebih ketat.
Akhirnya, Kelompok 3 keluar sebagai pemenang. Kelompok ini beranggotakan Sakinah Fitrianti (Harian Fajar), Ardianti (Kabarmakassar.com), Muh Nur Abdulrahman (tirto.id), Mutiara, Andi Azhar, dan Ibnu Munsir. Sementara Kelompok 1 harus puas di posisi kedua, dengan anggota Siti Ulwiyah, Alfiansyah Anwar (pijarnews.com dan Dosen IAIN Parepare), Toto Sudarmongi (infosulawesi), Gita Puspa Oktaviola (harian.news), Muh Arif Alqadri, dan Syafril Rahmat.
Namun, kemenangan sejati bukan soal peringkat. Yang paling penting adalah kesadaran baru yang tumbuh: bahwa jurnalisme tidak mati oleh teknologi. Ia justru diuji oleh kemauan manusia di baliknya untuk terus belajar.
Pelatihan itu mungkin hanya berlangsung dua hari. Tapi dampaknya bisa jauh lebih panjang. Karena di ruangan sederhana itulah para jurnalis lokal kembali diingatkan. AI bukan musuh. Ia hanyalah alat. Dan alat, sebagaimana apa pun bentuknya, hanya akan bermakna di tangan mereka yang bersedia memahami, mencoba, dan terus belajar.
Belajar, rupanya, adalah satu-satunya cara agar jurnalisme tetap bernapas di tengah arus perubahan yang tidak pernah mau menunggu siapa pun. (*)
















