YOGYAKARTA,PIJARNEWS.COM–Prof. Dr. H. Mustaqim Pabbajah, S.Fil., M.A., putra daerah Parepare, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Agama dan Budaya di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) pada (23/01/2026). Pengukuhan berlangsung di Ruang Sidang Lantai 3 UTY dan menjadi momen penting bagi dunia akademik, khususnya dalam kajian agama dan budaya di era digital.
Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Algoritma Pengetahuan Agama dalam Transformasi Digital di Era Disrupsi Teknologi”, Prof. Mustaqim menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara memahami dan menjalankan ajaran agama.
Ia menegaskan bahwa teknologi, termasuk media digital, tidak bersifat netral. Menurutnya, algoritma di berbagai platform digital ikut membentuk cara berpikir, pilihan keagamaan, serta cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan pengetahuan agama.
“Algoritma hari ini bukan hanya mengatur informasi, tetapi juga memengaruhi cara umat beragama memahami kebenaran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Mustaqim menyebutkan adanya dua sisi dalam perkembangan digital. Di satu sisi, masyarakat semakin mudah mengakses informasi keagamaan. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga berpotensi menimbulkan kebingungan dan salah paham jika tidak disikapi secara kritis.
Karena itu, ia menekankan pentingnya sikap bijak dan reflektif agar agama dan budaya tetap menjadi pegangan moral dalam kehidupan masyarakat di tengah kemajuan teknologi.
Pengukuhan ini mendapat apresiasi dari berbagai tokoh dan pimpinan lembaga. Ucapan selamat disampaikan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Parepare, Wakil Rektor I Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Wening Udasmoro, serta Prof. Samsul Hadi dan Prof. Irwan Abdullah dari UGM.
Apresiasi juga datang dari para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), di antaranya Rektor IAIN Parepare Prof. Hannani, Rektor IAKN Ambon Prof. Yance, Rektor IAHN Denpasar Prof. Gede, Rektor IAIN Sorong, serta Rektor IAIN Gorontalo Prof. Faisal, dan sejumlah akademisi lainnya.
Capaian ini dinilai tidak hanya membanggakan keluarga dan daerah asal Parepare, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan pemikiran keagamaan yang moderat dan relevan dengan tantangan zaman digital.

















