toto

toto

Situs Toto

Situs Toto

Togel Online

toto

  • Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Rabu, 4 Februari, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Opini

Umat Islam dan Tantangan Peradaban: Antara Romantisme Masa Lalu dan Tanggung Jawab Masa Depan

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
10:45, 07 Juni 2025
di Opini
Waktu Baca: 3 menit
Umat Islam dan Tantangan Peradaban: Antara Romantisme Masa Lalu dan Tanggung Jawab Masa Depan

Naharuddin SR

Oleh: Naharuddin SR

 (Ketua Forum MahasiswaPascasarjana IAIN Parepare)


 

Ada saatnya kita berhenti sejenak dan merenung. Namun yang terjadi saat ini baik di negara-negara kaya minyak maupun di pelosok negeri dengan mayoritas Muslim justru menimbulkan pertanyaan besar misalnya; ke mana arah umat ini akan melangkah? Mengapa umat yang jumlahnya besar, sejarahnya panjang, dan ajarannya kaya justru tampak tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan?

Islam bukan sekadar agama, ia pernah menjadi fondasi lahirnya peradaban besar. Namun sekarang, banyak yang merasa asing dengan potensi itu. Dari pendidikan, teknologi, politik, sampai tata kelola sosial semuanya menghadirkan satu kesan: kita tidak lagi memimpin, bahkan belum mampu bersaing secara setara.

Baca Juga

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Dalam sejarahnya, Islam pernah menempatkan ilmu pengetahuan dan akhlak mulia sebagai dua sayap utama kemajuan. Baghdad pernah menjadi kiblat intelektual dunia. Karya-karya ilmuwan Muslim diterjemahkan dan dipelajari oleh Barat hingga ratusan tahun lamanya. Para tokohnya tidak memisahk anantara iman dan logika, antara zikir dan pikir.

Kehidupan umat saat itu bukan hanya tentang kekuasaan atau jumlah pengikut, tetapi tentang kontribusi pada kemanusiaan. Ketika dunia lain masih tenggelam dalam konflik dan dogma, dunia Islam melahirkan rumah sakit, universitas, dan perpustakaan. Itu bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan kenyataan yang dibangun dengan kerja keras, keterbukaan terhadap ilmu, dan semangat ijtihad yang tinggi.

Namun, bab besar itu seakan tertutup. Kita kini hidup dalam dunia yang berbeda, tapi bayang-bayang kejayaan masa lalu masih sering digunakan sebagai pelipur lara tanpa dibarengi usaha serius untuk mengulanginya.

Kita perlu jujur mengakui bahwa kondisi umat Islam hari ini jauh dari kata ideal. Pendidikan masih menjadi sektor yang paling lemah. Di banyak negara Muslim, sekolah tidak mendorong anak-anak untuk berpikir, tetapi sekadar menghafal. Riset tidak menjadi budaya. Diskusi intelektual sering dipersempit hanya pada tema-tema ritual, bukan pada pencarian solusi dari tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi.

Dalam bidang ekonomi dan teknologi, umat Islam masih menjadi konsumen, bukan produsen. Banyak kekayaan alam kita habis diekspor mentah, lalu diimpor kembali dalam bentuk barang jadi. Ketergantungan ini bukan hanya masalah logistik, tetapi juga mentalitas. Kita belum percaya pada potensi sendiri. Dari sisi sosial-politik, perpecahan menjadi wajah yang menyedihkan. Alih-alih bersatu dalam agenda besar membangun umat, energi kita habis dalam konflik internal, baik sektarian maupun kepentingan politik jangka pendek. Banyak negara Muslim justru saling menjatuhkan daripada membangun kekuatan bersama.

Dan yang paling menyedihkan adalah ketika nilai-nilai dasar dalam Islam seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial justru sulit kita temukan dalam kehidupan sehari-hari umat. Di banyak tempat, simbol agama kuat, tetapi substansinya lemah.

Sementara itu, dunia Barat yang dulu sempat mengalami masa kegelapan justru bangkit dengan menerapkan prinsip-prinsip rasionalitas, kerja keras, dan keteraturan sosial. Mereka menghargai ilmu pengetahuan, membangun sistem meritokrasi, dan menegakkan hukum secara adil (meski tentu tidak sempurna). Anehnya, nilai-nilai itu sejatinya diajarkan Islam jauh lebih awal. Islam tidakpernah anti ilmu, bahkan mendorong umatnya untuk belajar sepanjang hayat. Tapi kenyataannya, nilai-nilai itu justru lebih nyata dipraktikkan di tempat lain.

Tentu kita tidak perlu meniru Barat secara buta. Ada banyak aspek budaya mereka yang tidak cocok dengan nilai-nilai Islam. Tapi tidak ada salahnya kita belajar dari keberhasilan mereka bukan untuk menjadi seperti mereka, tetapi untuk menemukan kembali apa yang dulu pernah menjadi kekuatan kita. Kebangkitan Islam tidak bisa dibangun dari wacana semata. Ia harus dimulai dari kesadaran kolektif bahwa umat ini punya tanggungjawab besar, tidak hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga kepada dunia. Umat Islam harus kembali pada semangat awalnya: belajar, bekerja, dan mengabdi.

Pendidikan menjadi titik awal. Sekolah dan pesantren harus melahirkan manusia-manusia berpikir dan berakhlak, bukan sekadar lulusan dengan gelar. Dunia ekonomi pun harus digerakkan oleh prinsip kemandirian. Kita perlu membangun industri halal yang kuat, sistem keuangan Islam yang sehat, dan jaringan perdagangan yang adil.

Dalam bidang kepemimpinan, sudah waktunya kita menolak pemimpin yang hanya menjual simbol-simbol agama tapi tidak membawa umat kearah kemajuan. Kita butuh pemimpin yang jujur, visioner, dan mampu merangkul perbedaan. Semua ini butuh dukungan masyarakat. Setiap individu punya peran. Tak perlu menunggu besar atau berkuasa. Mulailah dari memperbaiki niat, membiasakan berpikir, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Islam bukan hanya warisan sejarah. Iaadalahjalanhidup yang menawarkan panduan untuk membangun peradaban. Tapi ia tidak akan berbicara banyak jika hanya dijadikan slogan atau sekadar dikenang dalam buku pelajaran. Umat Islam bisa bangkit bukan dengan bernostalgia, tapi dengan bekerja, belajar, dan membangun kembali kepercayaan pada ajaran dan potensi diri. Dunia tidak akan menunggu. Kalau kitaingin punya tempat terhormat dalam percaturan global, makakitaharusmulaisekarang, dengancara yang nyata, sederhana, dan jujur. Bukan hanya untuk kita hari ini, tapi untuk generasi yang akan datang. (*)

 

 

Terkait: Opini

BERITA TERKAIT

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

16 Januari 2026
Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

10 Januari 2026

10 Januari 2026
Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

9 Januari 2026
Menangisi Deforestasi

Menangisi Deforestasi

8 Januari 2026
Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

7 Januari 2026
Selanjutnya
Iduladha 1446 H, PDAM Makassar Potong 12 Ekor Sapi

Iduladha 1446 H, PDAM Makassar Potong 12 Ekor Sapi

Berita Terbaru

Belajar Bertahan di Zaman AI

Belajar Bertahan di Zaman AI

4 Februari 2026
Direktur Pijarnews.com Hadiri AI Tools Training for Journalists Suara.com–LMC Didukung GNI di Makassar

Direktur Pijarnews.com Hadiri AI Tools Training for Journalists Suara.com–LMC Didukung GNI di Makassar

3 Februari 2026
UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

3 Februari 2026
Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Pemkot Parepare dalam Rakornas Nasional di SICC Bogor

Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Pemkot Parepare dalam Rakornas Nasional di SICC Bogor

3 Februari 2026
Pasca Dilantik, Rektor Gelar Silaturahmi Bersama IKA UMPAR

Pasca Dilantik, Rektor Gelar Silaturahmi Bersama IKA UMPAR

31 Januari 2026
Hamil 5 Bulan, Ibu dan Anak Gepeng di Pinrang Dipulangkan ke Makassar

Hamil 5 Bulan, Ibu dan Anak Gepeng di Pinrang Dipulangkan ke Makassar

30 Januari 2026
Wujudkan Pesisir Bersih, TNI-Polri dan Mahasiswa KKN Unhas Bersihkan Sampah di Pantai Mattirotasi

Wujudkan Pesisir Bersih, TNI-Polri dan Mahasiswa KKN Unhas Bersihkan Sampah di Pantai Mattirotasi

30 Januari 2026
Senyum Warga Pinrang Terima Sertipikat Tanah Eks Kawasan Hutan, Bupati: Jangan Dijual!

Senyum Warga Pinrang Terima Sertipikat Tanah Eks Kawasan Hutan, Bupati: Jangan Dijual!

30 Januari 2026
Bupati Sidrap Siap Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113, Agendakan Bermalam di Desa Lombo hingga Pasar Murah

Bupati Sidrap Siap Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113, Agendakan Bermalam di Desa Lombo hingga Pasar Murah

30 Januari 2026
Musrenbang, Warga Watang Pulu Suarakan Infrastruktur Hingga Layanan Kesehatan

Musrenbang, Warga Watang Pulu Suarakan Infrastruktur Hingga Layanan Kesehatan

29 Januari 2026

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.