KARAWANG, PIJARNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan nasional. Capaian ini menandai kembalinya kejayaan pangan tanah air seperti dekade 1980-an, sekaligus mencatatkan rekor produksi beras tertinggi dalam sejarah satu tahun pemerintahan.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Dengan mengucap bismillah pada 7 Januari 2026, saya Presiden Prabowo Subianto mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan bagi rakyat Indonesia,” ujar Prabowo saat menghadiri Panen Raya di Desa Kertamukti, Karawang, Jawa Barat, dikutip Pijarnews.com dalam laman Kementerian Pertanian, Rabu (7/1/2026).
Prabowo pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh komunitas pertanian. Sebab, target yang awalnya dipatok empat tahun, ternyata bisa dicapai hanya dalam satu tahun masa jabatan.
“Waktu saya dilantik saya beri target swasembada 4 tahun. Terima kasih saudara bekerja keras, kompak. Satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.
Indonesia terakhir kali mencicipi puncak kejayaan pangan pada 1984. Kala itu, Presiden Soeharto diundang berpidato di hadapan FAO di Roma setelah RI sukses swasembada dengan cadangan beras 2 juta ton. Kini, catatan manis itu terulang di mana berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional tahun 2025 diprediksi mencapai 34,71 juta ton, angka yang melampaui kebutuhan domestik tahunan.
Capaian mentereng ini juga terlihat dari rekor stok cadangan beras di Bulog yang mencapai 4,2 juta ton pada Juni 2025. Dari sisi kesejahteraan, Nilai Tukar Petani (NTP) mencatatkan angka 125,35 atau yang tertinggi sepanjang sejarah, sementara sektor pertanian tumbuh signifikan sebesar 10,52 persen pada triwulan I 2025.
Keberhasilan RI memenuhi kebutuhan perut sendiri ternyata membuat kejutan di pasar global. Keputusan Indonesia menyetop keran impor membuat harga beras dunia terjun bebas karena hilangnya permintaan besar dari pasar tanah air.
Harga beras internasional yang semula berada di kisaran USD 660 per metrik ton, kini anjlok menjadi USD 368 per metrik ton. Penurunan tajam sebesar 44,2 persen ini menegaskan posisi tawar Indonesia yang sangat kuat dalam mempengaruhi stabilitas harga pangan dunia.
Di balik kesuksesan ini, pemerintah menjalankan strategi masif melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Kehadiran Perpres Nomor 6 Tahun 2025 menjadi terobosan penting yang menyederhanakan 145 regulasi rumit, sehingga harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi bisa dipangkas hingga 20 persen.
Selain memudahkan urusan pupuk, pemerintah melalui Perum BULOG juga melakukan kebijakan agresif dengan membeli gabah langsung dari petani seharga Rp 6.500 per kilogram. Langkah ini tidak hanya menjamin stok cadangan nasional, tetapi juga secara langsung mendongkrak pendapatan petani di berbagai daerah secara signifikan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi nasional yang kuat antara kementerian, TNI/Polri, asosiasi petani, hingga BUMN Pangan. Menurutnya, swasembada ini adalah kerja kolektif seluruh putra bangsa.
“Atas nama petani Indonesia, kami mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Bapak Presiden. Harga gabah naik, harga pupuk turun, ketersediaan pupuk banyak. Sekali lagi, swasembada ini kerja terbaik Kabinet Merah Putih dari gagasan Presiden dan seluruh petani Indonesia,” ungkap Amran. (*)
Penulis: Faizal Lupphy











