Ratna, mahasiswi asal Sukabumi saat transaksi menggunakan QRIS bale by BTN di Warung Coto H Daeng Tayang, Jl Sultan Hasanuddin, Makassar (Foto: Dian Muhtadiah Hamna)
MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Ratna (41) bolak-balik menatap layar ponselnya. Sembari bergumam, ia kembali memastikan dirinya tidak berhalusinasi. Ya, di tengah kondisi keuangan yang lebih kering dari dompet tanggal tua, tiba-tiba layar bale by BTN menampilkan sesuatu yang nyaris mustahil, saldo. Ya, saldo. Bukan sisa poin, bukan notifikasi promo, tapi uang sungguhan.
“Ini beneran? Kok ada saldo? Siapa yang transfer?” gumamnya, sambil menatap layar ponsel dengan ekspresi antara haru, heran, dan takut salah lihat. Jari telunjuknya bahkan sempat mengusap layar, siapa tahu itu cuma salah lihat. Ia bahkan sampai menghitung jumlah angka yang tertera di sana.
Setahun terakhir, mahasiswi S3 Jurusan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) ini memang setia menggunakan bale by BTN untuk hampir semua urusan hidupnya. Mulai bayar uang kuliah, cicilan KPR, belanja kebutuhan harian, sampai urusan perut yang tak pernah mau kompromi. Sayangnya, kesetiaan itu tak dibarengi dengan perhatian pada fitur dan keuntungan yang ditawarkan. Ratna tipe pengguna aplikasi yang penting bisa bayar, urusan bonus belakangan-atau malah lupa.
Sebagai pendatang di Makassar, dunia Ratna praktis hanya berputar di dua titik sakral: kosan dan kampus. Rute lain? Kadang dia mengincar merchant-merchant kulineran yang bekerja sama dengan bale BTN. Di Makassar, ada Warung Coto H Daeng Tayang, Jl Sultan Hasanuddin atau di Kopitiam, Jl Hertasning. Cashback mulai Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per sekali transaksi. Bergantung promo saat itu.
Bagi Ratna, bale jadi penyelamat hidup. Semua bisa beres dari layar ponsel, tanpa harus tersesat atau salah naik pete-pete (angkutan umum di Makassar). Apalagi, statusnya sebagai pengguna KPR BTN membuat hubungan Ratna dan bale kian erat-resmi, tapi jarang saling menyapa.
“Saya biasanya isi saldo sesuai kebutuhan. Bulan kemarin rasanya sudah habis,” katanya sambil tersenyum malu, senyum khas orang yang baru menemukan uang di saku celana lama. “Jadi pas lihat masih ada saldo lumayan, ya kaget. Apalagi lagi krisis begini,” tambahnya ditemui di kampusnya, Jl Perintis Kemerdekaan KM.10, Senin (26/1/2026).
Kalau Ratna dikejutkan oleh saldo tak terduga, cerita berbeda datang dari Rezkiawati Syam (30). Gadis muda yang baru merintis bisnis rumahan ini justru jatuh cinta pada bale by BTN sejak awal-bukan karena drama saldo misterius, tapi karena promo cashback yang menggoda iman.
Baginya, setiap transaksi ke bank lain adalah peluang untuk berhemat biaya admin. Sedikit-sedikit lama-lama jadi modal usaha, pikirnya. Di saat yang lain sibuk menghitung pengeluaran, Rezkia sudah menghitung cashback.

Apalagi, sebagai generasi Z sejati, Rezki—sapaannya—merasa akhir pekan tanpa nongkrong itu seperti kopi tanpa gula: ada, tapi hambar. Nongkrong bukan sekadar duduk manis dan foto estetik, melainkan agenda wajib yang tak bisa ditawar. Untungnya, hobi sosial ini tak selalu berujung pada dompet merana.
Lagi-lagi, bale by BTN jadi penyelamat. Lewat promo cashback hingga Rp15.000 di sejumlah merchant favorit anak muda, Rezki bisa tetap ngopi cantik tanpa harus menyesali saldo setelahnya. Bagi Rezki, ini semacam win-win solution: nongkrong jalan, dompet pun masih aman.
“Cashback-nya lumayan. Buat anak usaha rumahan kayak saya, bisa buat nambah bahan atau sekadar jajan lagi,” ujarnya sambil tertawa. Bagi Rezki, Bale bukan cuma aplikasi perbankan, tapi kawan setia yang paham betul gaya hidup generasi Z—suka nongkrong, tapi ogah rugi.
Dua cerita, satu kesimpulan, bale by BTN bukan sekadar aplikasi. Kadang ia jadi penyelamat di saat krisis, kadang jadi partner setia yang diam-diam menguntungkan. Tinggal penggunanya saja-mau sadar sekarang, atau kaget belakangan.
Buka Rekening Lebih Mudah
Di sudut kantor BTN KCP Hasanuddin Makassar, Maria Dinar tampak fasih menjelaskan penggunaan bale by BTN kepada seorang nasabah perempuan. Gesturnya santai, bahasanya ringan, seolah sedang memberi tutorial aplikasi, bukan urusan perbankan yang biasanya bikin dahi berkerut.
“Buka rekening sekarang nggak perlu antre lama. Sambil rebahan juga bisa,” katanya, enteng. Kalimat yang langsung terdengar seperti angin segar bagi generasi yang alergi duduk terlalu lama di ruang tunggu.
Menurut Maria, lewat bale by BTN, membuka rekening baru cukup bermodal KTP dan koneksi internet. Tak perlu fotokopi berlembar-lembar atau mondar-mandir ke loket. Bahkan, dari rumah pun urusan perbankan sudah bisa beres sebelum sempat malas.
Ia menjelaskan, bale dirancang sebagai super app perbankan yang mengikuti tren masa kini. Bukan cuma soal transfer dan cek saldo, tapi juga menjawab gaya hidup penggunanya yang serba cepat dan serba digital. “Buat generasi milenial dan gen Z, bale itu cocok. Banyak fitur yang mendukung lifestyle mereka,” ujarnya.
Mulai dari pembayaran tagihan, transaksi ke berbagai merchant, hingga promo-promo yang bikin dompet tetap tersenyum meski gaya hidup sedang aktif. Singkatnya, bale bukan sekadar aplikasi bank, tapi teman seperjalanan yang paham betul: zaman sekarang, semua maunya praktis—kalau bisa rebahan, kenapa harus ribet.
Saat peluncuran bale by BTN pada Februari tahun lalu, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu seolah ingin menegaskan satu hal penting: BTN sudah naik kelas. Aplikasi ini, kata dia, adalah bukti bahwa BTN kini semakin kompetitif dan siap menjawab tantangan sebagai bank transaksional. Artinya, nasabah tak perlu lagi membuka banyak aplikasi hanya untuk mengurus hidup yang sudah cukup rumit.
“Cukup satu aplikasi untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan hidup,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi terasa sangat relevan di era ketika memori ponsel lebih sering penuh oleh aplikasi ketimbang galeri foto.
Sebagai super app, bale by BTN menawarkan pengalaman perbankan yang terbilang lengkap. Mulai dari pembukaan rekening tabungan dan e-Deposito, layanan transaksi perbankan, pengajuan kredit, pendaftaran merchant, hingga ekosistem lifestyle unggulan. Bahkan, bagi nasabah prioritas, ada Plus by BTN Prioritas yang siap memanjakan.
Tak berhenti di situ, bale juga menghubungkan nasabah dengan ekosistem perumahan. Platform BTN Properti kini terintegrasi langsung, lengkap dengan fitur pengajuan KPR online yang lebih efisien tanpa harus bolak-balik sambil membawa map tebal berisi berkas.
Bagi yang hobi mengatur masa depan, bale menyediakan pengelolaan portofolio investasi. Sementara untuk kebutuhan masa kini, tersedia cashback hingga 30 % di 51 merchant nasional dan 1.731 merchant lokal. Dari urusan rumah sampai urusan nongkrong, semua kebagian.
Semua inovasi ini, lanjut Nixon, sejalan dengan visi baru BTN 2024–2029 bertajuk “Beyond Mortgage”. BTN kata dia ingin menjadi mitra utama dalam pemberdayaan finansial keluarga Indonesia. Memang, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menunjukkan kinerja yang solid dan berkelanjutan. Sepanjang tahun 2025, BTN berhasil membukukan laba bersih konsolidasian Rp3,5 triliun, tumbuh 16,4 % yoy, ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga, efisiensi biaya, serta penguatan margin bunga bersih (NIM) yang meningkat menjadi 4,2 %. “Ini adalah hasil transformasi bisnis yang konsisten dan disiplin dalam pengelolaan keuangan,” tutur Nixon saat HUT BTN ke-76, Selasa (10/2/2026).
Jadi, BTN tak lagi hanya soal KPR, tapi hadir untuk mendukung seluruh kebutuhan transaksi keluarga—dari rencana punya rumah, sampai sekadar cari cashback buat ngopi sore. Singkatnya, bale by BTN bukan cuma aplikasi. Ia adalah bukti bahwa urusan keuangan kini bisa selesai tanpa drama.
Sasar Segmen Spesifik
Di tempat berbeda, Dosen Manajemen Keuangan Politeknik LP3I Makassar, Ahmad Firdaus menuturkan, ekosistem QRIS berkembang pesat dan mengalami pertumbuhan signifikan sejak diluncurkan pada 2019 oleh Bank Indonesia (BI). Dia merilis laporan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) jumlah pengguna QRIS mencapai 58 juta pengguna, naik 9,4 persen dibandingkan Kuartal III 2024.
“Jumlah pengguna QRIS menunjukkan pertumbuhan sepanjang tahun 2025. Pada kuartal I 2025, jumlahnya mencapai 56 juta. Lalu naik menjadi 57 pengguna di kuartal berikutnya,” sebutnya ditemui di sela-sela membimbing skripsi mahasiswa. Handphone Ahmad Firdaus tiba-tiba berdering. “Sebentar…,” ucapnya pendek sembari berlalu mengangkat telepon.
Lima menit, Daus-sapaan karibnya, muncul lagi. Sekilas, penampilan Daus tampak seperti mahasiswa yang dia ajar. Usianya memang baru kepala tiga.
“Kalau mahasiswa baru, suka dikira saya mahasiswa di sini juga. Hehe,” katanya berseloroh. Cepat-cepat Daus kembali ke topik awal. Dia cerita, transaksi digital kini menjadi gaya hidup cashless yang penting. Segalanya praktis, efisien dan lebih aman. Tanpa perlu bawa duit tunai yang kadang kita lupa taruh dompet sendiri.
Tidak heran apabila, nilai transaksi QRIS di Q3 2025 mencapai Rp128 triliun, naik 102,1 % dari periode yang sama tahun lalu dan melonjak 20,1 % dibandingkan Kuartal II 2025. Pun, kehadiran bale by BTN memiliki peran yang cukup strategis dalam memperkuat tren penggunaan QRIS di Indonesia, terutama karena posisinya yang menyasar segmen spesifik.
“BTN memiliki basis nasabah yang kuat di sektor KPR. Dengan mengintegrasikan QRIS ke dalam aplikasi bale, nasabah yang awalnya hanya menggunakan bank untuk cicilan rumah, kini terdorong untuk menggunakan saldo mereka dalam transaksi harian. Sehingga hal ini mendukung target pemerintah dan Bank Indonesia dalam menciptakan classless society,” ujar Daus yang mengambil program doktor Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu.
Memang, di bale by BTN memiliki tujuh fitur andalan seperti QRIS, transfer bank lain, transfer sesama BTN, cardless withdrawal, top up ShopeePay, top up GoPay dan top up Dana. Fitur-fitur ini membuat transaksi harian nasabah jadi lebih praktis.
“Saya juga sebenarnya baru-baru pakai bale by BTN. Itu gara-gara istri saya yang kuliah di Universitas Terbuka, bayar UKT-nya lewat BTN. Saya lihat fiturnya, wah boleh juga,” kata Daus blak-blakan.
Pada akhirnya, bale by BTN mengajarkan kita satu pelajaran berharga: jangan pernah meremehkan recehan cashback. Karena di tangan yang tepat, kumpulan Rp15 ribu itu bisa menyelamatkan harga diri saat dompet sudah masuk fase kritis di tanggal tua. (*)
Penulis: Dian Muhtadiah Hamna















