Ibrah La Iman: Tuhan Jatuh Cinta Padamu Saat Melempar Telur

OPINI, PIJARNEWS — Sebelumnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Egg Boy. Aksi yang mestinya di cap mubazir. Masa setega itu dengan telur, ia menghancurkannya. Apa kata ayam yang melahirkan telur itu dengan susah payah, keadaan itu antara hidup dan mati. Will Connolly harus mempertanggungjawabkan kelakuannya itu kepada ayam-ayam sedunia, Anda bisa dituntut oleh Chicken Association of Universe (CAU) karena tidak berperiketeluran.

Semestinya, uang donasi yang sekira 423juta untuk membeli telur ayam yang Anda dapatkan itu sebagai ganti rugi untuk ayam yang Anda pecahkan telurnya di kepala seseorang. Eh.. malah Anda ini menyumbangkannya untuk keluarga korban penembakan di New Zealand. Gegabah Antum, bisa kualat dengan ayam. Sampeyan ini malas atau malasa sebenarnya tidak mau menerima uang sebanyak itu. Secara, uang sebanyak itu Anda bisa gunakan untuk memproduksi telur pemusnah massal.

Mungkin yah, mungkin Will Connolly yang sedang viral ini tak pernah masuk di kelas-kelas pelatihan atau mentoring hingga keberaniannya tak terukur. Tanpa data. Anda ini mengkepruk kepala senator Australia Fraser Anning. Tau kan siapa dia? Pe + Ja + Bat. Yah… telur ayam itu tak sebanding dengan kepalanya yang berisi standar kebencian ganda. Kasihan telur ayamnya. Lain kali tolong Anda pertimbangkan dengan matang.

Will, suatu waktu Anda datang ke Indonesia mari kita ngopi. Anda butuh private class tentang kemurnian cinta. Mau sukses, maka cintailah pekerjaan. Mau langgeng, maka cintailah pilihan. Mau bahagia, maka cintailah kehidupan. Mau apa lagi? Mau makan, maka cintailah makanan (jangan dilempar-lempar). Mau minum, maka cintailah kopi. Hehe…

Cinta menjadi cara paling terbuka untuk menggapai atau kata lain dari meraih, selain istilah untuk memenuhi apa saja. Termasuk bila hendak Tuhan jatuh cinta padamu. Namun sangat lazim cinta menjadi ungkapan receh. Atau juga terkadang dijerumuskan sebagai alasan. Hal spontan bisa menjadi kerikil dalam sepatu bila Anda tidak bisa memastikannya. Coba jawab ini, seberapa cinta Anda pada sebutir telur? Dan seberapa telur cinta pada Anda?

Will Connolly juga sepertinya belum mengenal hiruk pikuk cinta di Indonesia, dimana Tuhan selalu ada dalam berbagai pentas. Baiklah sebagai pecandu telur dengan kecap, mari kita paparkan sebagian dari yang ada. Bagaimana cinta di Indonesia itu sangat filosofis, pluralis, radikalis, liberalis, mojokis, dan lain sebagainya.

“Kenapa mau menikah dengan orang yang tidak bekerja?,” tanya orang tua pada anaknya. “Saya mencintainya Ma’!,” jawab anaknya. Tiba-tiba pernyataan pamungkas selalu muncul. “Kamu mau makan apa? Makan cinta!,” tukas orang tuanya. “Iya Mama, makan tak makan, asal bisa bersamanya,” terang anaknya. Beuggghhh… saat-saat inilah mungkin yang dimaksud oleh Kang Habiburrahman El Shirazy sebagai “Ketika Cinta Bertasbih”.

Selain itu agar Pencipta dapat mencintaimu, maka sangat perlu mempelajari dan terus latihan sekeras-kerasnya untuk mencintai ciptaannya (baca: telur).

Olehnya itu perkenankan melalui tulisan ini uluran tangan dan tumpahan diri ini ada dalam jabat juga pelukan saudara/sahabat/keluarga yang berbeda pilihan juga pandangan ataupun sedang dalam pilihan dan pandangan yang sama. Semoga semuanya tetap dalam keadaan Ayat-ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih, atau bisa juga dalam keadaan Cinta di Ujung Sajadah (Asma Nadia), atau Senandung Cinta (Jalaluddin Rumi). Yang jelasnya semua itu adalah judul buku yang sangat penting Will Connelly baca sampai tuntas. Agar telur tidak menjadi korban.

Penulis:

Ibrah La Iman (Pemerhati Telur)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda