toto

toto

Situs Toto

Situs Toto

Togel Online

toto

  • Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Minggu, 8 Februari, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Kesehatan

dr Mangku Sitepoe, 24 Tahun Bekerja Tidak Digaji dari Uang Pasien

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
08:51, 05 September 2019
di Kesehatan, Kisah Inspiratif
Waktu Baca: 2 menit
dr Mangku Sitepoe, 24 Tahun Bekerja Tidak Digaji dari Uang Pasien

dr Mangku Sitepoe

JAKARTA, PIJARNEWS.COM — Kisah inspirasi hadir dari seorang dokter bernama Mangku Sitepoe. Jika kebanyakan dokter dibayar tinggi untuk mengobati pasien, hal berbeda justru terjadi pada dr Mangku. Dia dengan suka rela bekerja tanpa menerima imbalan sama sekali.

Dr Mangku berpraktik di klinik Santo Yohanes Penginjil di Jalan Sambas, Kebayoran Baru. Selama 24 tahun, dia bekerja tidak digaji dari uang pasien.

Apa yang dilakukan dr Mangku bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Karena dia mengobati pasiennya tanpa mengharapkan keuntungan sama sekali. Berikut ini kisah inspirasi dan kesederhanaan dr Mangku yang layak dicontoh:

*Memberi Pengobatan Gratis

Dokter Mangku Sitepoe bercerita awal mula berdirinya Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Tarsisius. Berawal dari tahun 1995, dia bersama empat rekannya, Iwan Darmansyah seorang farmakolog lulusan Universitas Indonesia, Pastor Bertens Guru Besar fakultas kedokteran Atmajaya Jakarta, Gunawan pengusaha dari Semarang, Wijanarko bekas Staf Pribadi Presiden Soekarno, melakukan kegiatan sosial berupa pengobatan gratis.

Baca Juga

Azizul, Putra Mansyur Semma, Jadi Imam dan Mengajar Alquran di Madinah

Anugrah, Bocah Pengantar Penumpang Kapal ke Pulau-pulau Terdekat dari Makassar

Dalam rapat evaluasi, satu rekan Mangku bernama Iwan Darmansyah menilai kegiatan sosial akan terasa jika dilakukan secara berkesinambungan. Sementara kegiatan pengobatan gratis yang dilakukan mereka dirasa tidak seperti yang dia harapkan.

“Kalau berobat gratis sekadar kasih obat. Bagaimana seterusnya, orang yang sakit saat kita tidak lakukan kegiatan (tidak bisa berobat)?” kata Mangku.

Yayasan gereja tempat Mangku dan empat kawannya kemudian memfasilitasi bangunan untuk dijadikan klinik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. September, 1995, klinik pertama pun beroperasi. Mangku mengatakan tidak ada tarif kepada pasien saat klinik pertama beroperasi. Segala keperluan klinik mulai dari obat-obatan, kursi, meja, dibeli dengan uang pribadi mereka dan para donatur.

Saat itu, Mangku mengingat, sedikitnya ratusan pasien datang ke klinik. Jumlah itu membuat Mangku dan beberapa rekannya kewalahan. Namun, mereka tak mau lelah karena kembali ingat tujuan mendirikan klinik.

• Memasang Tarif Rp 10.000

Setelah melakukan pengobatan gratis, kemudian pada tahun 2003 diberlakukan tarif sebesar Rp 2.500 bagi pasien yang ingin berobat. Kebijakan ini dikeluarkan karena adanya informasi bahwa sejumlah pasien nakal menjual kembali obat-obatan dari hasil berobat mereka di klinik.

“Uang Rp 2.500 itu sama sekali bukan untuk kami,” kata dr Mangku Sitepoe.

Tahun berjalan, jumlah pasien pasang surut. Jika per tahun Mangku menangani ratusan pasien setiap kali praktik, belakangan jumlah pasien terus menurun. Tepatnya saat BPJS dilakukan secara nasional.

“Rata-rata tinggal 75 pasien per praktik,” kata Mangku sembari menerka.

Perubahan jumlah pasien juga berlaku dengan perubahan tarif. Selama 2003 hingga 2015, mengambil kebijakan menaikkan tarif bagi pasien yakni Rp 10.000. Kalaupun pasien tak sanggup membayar, tak apa. Toh, berapa pun tarifnya mereka tidak digaji dari uang tersebut.

*Tidak Mengambil Keuntungan

Selama praktek dr Mangku bersama kawan-kawannya memang sengaja tidak mengambil keuntungan apa pun dari praktik mereka demi rasa sosial, altruism.

Lagi pula, finansial dr Mangku dan rekan-rekannya tidak akan kekurangan karena tetap punya penghasilan di luar praktik klinik yang saat ini sudah berkembang menjadi St Yohanes Penginjil dan Tarsisius. Selain itu, ia dan rekan-rekannya tidak setiap hari praktik di klinik.

Dia pun bertekad tidak akan “pensiun” berpraktik membantu mengobati masyarakat tidak mampu meski hanya tersisa ia dan satu rekannya, Pastor Bertens yang masih hidup. (*)

Sumber: merdeka.com
Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Terkait: Kisah inspiratif

BERITA TERKAIT

Azizul, Putra Mansyur Semma, Jadi Imam dan Mengajar Alquran di Madinah

Azizul, Putra Mansyur Semma, Jadi Imam dan Mengajar Alquran di Madinah

31 Januari 2025
Anugrah, Bocah Pengantar Penumpang Kapal ke Pulau-pulau Terdekat dari Makassar

Anugrah, Bocah Pengantar Penumpang Kapal ke Pulau-pulau Terdekat dari Makassar

3 Desember 2024
Kisah Nurdin, Berbekal Jualan Ikan Sukses Mengantarkan Tiga Putrinya Jadi Sarjana

Kisah Nurdin, Berbekal Jualan Ikan Sukses Mengantarkan Tiga Putrinya Jadi Sarjana

1 Desember 2024
Bertagline Pantang Kenyang sebelum Pulang, “Warung Dian” Idola Mahasiswa Layani Lebih Tiga Dekade

Bertagline Pantang Kenyang sebelum Pulang, “Warung Dian” Idola Mahasiswa Layani Lebih Tiga Dekade

11 Agustus 2022
Pria Lulusan SD Membuat Pesawat dari Bahan Rongsokan

Pria Lulusan SD Membuat Pesawat dari Bahan Rongsokan

28 November 2019
“Tak Pernah Terlalu Tua untuk Bermimpi”, Nenek Lulus S2 Usia 90 Tahun

“Tak Pernah Terlalu Tua untuk Bermimpi”, Nenek Lulus S2 Usia 90 Tahun

2 Agustus 2019
Selanjutnya
Bobol ATM, Isinya Sebagian Disumbang ke Rumah Ibadah

Bobol ATM, Isinya Sebagian Disumbang ke Rumah Ibadah

Berita Terbaru

Bermalam di Lokasi Milad Muhammadiyah Sidrap, Bupati Dialog Langsung dengan Warga

Bermalam di Lokasi Milad Muhammadiyah Sidrap, Bupati Dialog Langsung dengan Warga

8 Februari 2026
Wali Kota Parepare Dukung Drag Race Diesel di Mattirotasi, Dorong UMKM dan Sport Tourism

Wali Kota Parepare Dukung Drag Race Diesel di Mattirotasi, Dorong UMKM dan Sport Tourism

8 Februari 2026
Pengurus Aisyiyah Tiga Desa Dilantik, Wabup Sidrap Sampaikan Pesan Ini

Pengurus Aisyiyah Tiga Desa Dilantik, Wabup Sidrap Sampaikan Pesan Ini

7 Februari 2026
Belajar Bertahan di Zaman AI

Belajar Bertahan di Zaman AI

4 Februari 2026
Direktur Pijarnews.com Hadiri AI Tools Training for Journalists Suara.com–LMC Didukung GNI di Makassar

Direktur Pijarnews.com Hadiri AI Tools Training for Journalists Suara.com–LMC Didukung GNI di Makassar

3 Februari 2026
UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

UMPAR Gelar Pengembangan Akademik dan Dosen

3 Februari 2026
Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Pemkot Parepare dalam Rakornas Nasional di SICC Bogor

Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Pemkot Parepare dalam Rakornas Nasional di SICC Bogor

3 Februari 2026
DAD PIKOM IMM Politani Pangkep Resmi Digelar, Cetak Kader Immawan dan Immawati Berkemajuan

DAD PIKOM IMM Politani Pangkep Resmi Digelar, Cetak Kader Immawan dan Immawati Berkemajuan

1 Februari 2026
Pasca Dilantik, Rektor Gelar Silaturahmi Bersama IKA UMPAR

Pasca Dilantik, Rektor Gelar Silaturahmi Bersama IKA UMPAR

31 Januari 2026
Hamil 5 Bulan, Ibu dan Anak Gepeng di Pinrang Dipulangkan ke Makassar

Hamil 5 Bulan, Ibu dan Anak Gepeng di Pinrang Dipulangkan ke Makassar

30 Januari 2026

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.