MAKASSAR, PIJARNEWS.COM--Dalam mendukung ketahanan pangan Nasional Tim pakar Universitas Hasanuddin Makassar yang diketuai oleh Prof.Dr.Ir.Elkawakib Syam’un,MP dan beranggotakan Prof. Dr. Ir. Sylvia Sjam, M.S (pakar Keahlian Teknis), Dr. Andi Syahwiah. A. Sapiddin, SH.,MH. (Pakar Regulasi dan Legal), Dr.Ir.Idris Summase, M.Si, (pakar Pasar dan Bisnis Model), juga ahli dari BRIN yaitu Dr. Retno Pangestuti, S.P, M.Sc melakukan pertemuan di Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas pada Rabu (29/10/2025).
Pertemuan tersebut diadakan diadakan dalam rangka kajian awal pra studi kelayakan di IPB University untuk produk bawang merah tahan fusarium (BATAFUS) yang telah melalui uji riset awal oleh peneliti IPB yaitu Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si., dalam rangka program hilirisasi Riset Prioritas Nasional untuk Dorongan Teknologi 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemensaintekdikti).
Sebelumnya, Tim pakar Unhas telah melakukan kunjungan lapangan dan FGD pada tanggal 22-23 Oktober 2025 di IPB University. Kunjungan lapangan bertujuan untuk mengetahui secara langsung produk bawang batafus serta spesifikasi produk yang diteliti. Prof Elka selaku ketua tim menyebutkan bahwa bawang sebagai komoditi strategis nasional dalam menyukseskan program nasional diantaranya MBG (Makan Bergizi Gratis) yang terus digaungkan oleh pemerintah sebagai kunci dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara keseluruhan sehingga dapat meningkakan daya saing nasional dalam menyambut Indonesia Emas 2045.
Dalam kunjungan kelapangan, tim pakar memberikan beberapa rekomendasi yang bermanfaat untuk di terapkan oleh peneliti sehingga produk bawang batafus dapat ditingkatkan ke tahap berikutnya.
Sedangkan pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan setelah kunjungan lapangan, tim pakar dan tim inventor melakukan pembahasan secara mendalam terkait beberapa aspek seperti aspek bisnis, keuangan dan legal. Melalui evaluasi menyeluruh, tim pakar menilai potensi komersialisasi produk tersebut dari berbagai sisi—mulai dari teknologi produksi, ketersediaan bahan baku, kelayakan pasar, regulasi dan lisensi, kompetensi sumber daya manusia, hingga aspek investasi dan keberlanjutan industri.
“Diharapkan produk bawang merah batafus dapat direkomendasikan menjadi salah satu produk nasional yang menjadi prioritas dalam hilirisasi nasional sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan berdampak langsung dalam nilai tambah ekonomi lokal masyarakat,” pungkas Prof. Elka. (rls)



















