Tiba di Parepare, Dua Pengungsi Tsunami Palu Disambut Tangis Keluarganya

Korban Tsunami Palu
Nurmila dan Herlina, dua bersaudara korban gempa dan tsunami di Palu tiba di Kota Parepare, Jumat malam 5 Oktober 2018. --alfiansyah anwar/pijarnews--

PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Keluarga korban gempa dan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah terharu saat menyambut kedatangan dua anggota keluarganya saat tiba di Tonrangeng, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Jumat malam 5 Oktober 2018.

Soalnya, satu dari dua anggota keluarganya ini menyaksikan rumahnya dilanda gempa kemudian dihempas tsunami setinggi tujuh meter di Pantai Silae, Palu.

Sebelum tiba di Parepare, dua bersaudara Nurmila (21 tahun) dan Herlina (19 tahun) menumpangi pesawat gratis Hercules milik TNI dari Palu ke Kota Makassar.

Dua bersaudara
Dua korban tsunami Palu saat berkumpul bersama keluarganya di Tonrangeng, Kota Parepare. –alfiansyah anwar/pijarnews–

Selanjutnya, dua pengungsi ini menumpangi mobil angkutan umum menuju Parepare sejauh 150 kilometer. Saat tiba di Parepare, ibunya bernama Enny menunggunya di pinggir jalan kemudian membayarkan ongkos mobil kepada sang sopir. Sebab, kedua anaknya ini tidak memiliki lagi uang akibat rumahnya tersapu gelombang tsunami di Pantai Silae, Kota Palu. Ibunya kebetulan tidak berada di Palu saat gempa dan tsunami lantaran menghadiri pesta perkawinan keluarganya di Kota Parepare.

Dari dua korban pengungsi ini, satu diantaranya yakni Herlina mengaku melihat langsung air tsunami menghantam rumah orang tuanya. “Saat gelombang air pertama datang, saya naik ke pondasi rumah. Setelah itu, saya bersama ayahku Rahman Dolo berlari ke luar rumah dan mencari tempat yang tinggi,” ujar Herlina menceritakan kisah perjuangannya saat Palu digoyang gempa dan terjangan Tsunami.

Menurut Herlina, ayahnya sempat terbawa air tsunami sebelum akhirnya bisa menyelamatkan diri.

Herlina mengaku air tsunami menerjang perkampungan Pantai Silae setinggi tujuh meter. Akibatnya, sebagian besar rumah rusak.”Termasuk rumah orang tua kami retak akibat gempa dan seluruh perabotan rumah tangga hancur diterjang tsunami,” kata Herlina.  

Usai gempa dan tsunami, Herlina bersama anggota keluarganya tetap bertahan dan tidur di jalan depan rumahnya. Bila malam hari, suasana cukup gelap karena minim penerangan lampu. Karena trauma, dua bersaudara ini kemudian memilih pulang ke rumah neneknya di Tonrangeng, Kota Parepare. Sedangkan ayahnya Rahman Dolo dan tiga saudara Herlina masih bertahan di Kota Palu.

Data Tagana Kota Parepare menyebutkan, saat ini terdapat 52 pengungsi korban Gempa dan Tsunami Sulteng berada di rumah keluarganya di Kota Parepare. Itu berarti jumlah tersebut bertambah menjadi 54 orang, setelah dua orang pengungsi yakni Nurmila dan Herlina tiba di Parepare Jumat malam.  (*)

Penulis : Alfiansyah Anwar

 

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda