Tetap Survive di Masa Pandemi, Cerita Warga Sidrap Hidup di Rantau

SIDRAP, PIJARNEWS.COM — Pandemi Covid-19 berdampak di hampir semua bidang. Salah satunya sektor ekonomi dan bisnis. Kondisi itu dirasakan oleh nyaris semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang hidup di rantau. Tujuan merantau untuk meraih mimpi sukses kini harus ditelan terlebih dahulu, mengingat kondisi pandemi Covid-19 belum berlalu.

Seperti Amran Tarumpu misalnya, warga asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, yang kini merantau di Ibu Kota Jakarta. Pria (48 tahun) itu hidup bersama ke empat anaknya selama 9 tahun di Jakarta.

Kondisi Pandemi Covid-19 praktis mengubah perilaku dan kondisi kehidupan mereka, terutama soal finansial. Jika sebelum pandemi bisa berlebih, namun kini mereka bersyukur bisa untuk biaya makan dan membayar kontrakan.

“Kita tinggal di rantau tentunya mau tidak mau tetap harus mencari nafkah untuk keluarga. Untuk kehidupan sehari-hari seperti bayar uang kontrakan. Alokasinya lebih digunakan pada kebutuhan pokoknya. Jadi intinya tidak selancar dululah,” ujar Amran saat dihubungi via Whatsapp, Rabu (30/12/2020).

Bisnis barang impor yang dilakoni Amran tidak semulus saat sebelum masa pandemi Covid-19. Saat ini, kata Amran, barang kosmetik impor tidak ada dan terlambat, belum lagi jika barang ada, konsumennya sedikit, mengingat hajatan pengantin yang kini dibatasi.

“Tidak seperti dulu lagi, karena dalam bisnis itu kan ada saling keterkaitan jadi bisa saja barang ada tapi masyarakat belum membutuhkannya, seperti pesta pengantin yang dilarang, dampaknya barang jualan kosmetik saya yang biasa untuk riasan pengantin pesanannya berkurang,” ucap Amran.

Kondisi pandemi ini omzet pendapatan Amran menurun tajam hingga 65 persen.
“Dari 100 persen dulunya, ya sekarang hanya 35 persen karena bisa jadi barang yang kita butuhkan yang biasanya mudah sekarang susah didapatkan karena sifatnya ada yang impor,” ungkapnya.

Untuk bertahan di masa pandemi, Amran dan ke empat anaknya kini harus mengencangkan ikat pinggang dan sedikit menutup erat isi kantongnya.

“Kami hanya bisa berdoa semoga pandemi segera berakhir dan selama ini juga berusaha untuk tidak boros, sehingga penghasilan yang dulu disimpan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sambil menunggu normal kembali, walaupun kadang tiba-tiba ada saja pesanan tak terduga dari langganan-langganan bisnis yang lama memesan,” katanya.

Amran berharap dengan kondisi saat ini pemerintah diharapkan menyalurkan tepat sasaran dan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan tidak dilakukan pemotongan.

“Kami berharap kepada pemerintah dengan kondisi begini mohonlah pengawasan terhadap bantuannya kepada masyarakat. Harus lebih ketat, karena bantuan tersebut sangat dibutuhkan terutama jika berupa beras. Itu bisa dikomsumsi sampai 1 bulan jika benar-benar sesuai. Artinya jangan lagi ada pemotongan dari pihak tidak bertanggung jawab,” harapnya. (Agus Salim)

 

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News