Satire: Kalau Bisa Mahal Kenapa Harus Murah

SATIRE — “Kalau bisa mahal kenapa harus murah, mati cuma sekali Sodara! Anggaran pengadaan pakaian dan pin emas untuk Anggota Dewan itu tak perlu Anda persoalkan. Anda ini ngaji dimana? Tidak pernah mendapatkan kaidah tentang: urusanmu urusanmu, urusanku urusanku,” bentak La Rahing tiba-tiba setelah menyeruput kopi dingin di atas mejanya.

Check per check, ternyata ia sedang asyik membaca berita. Beberapa hari ini, menjelang pelantikan yang mulia dan yang terhormat Anggota Dewan, media online dan cetak di kawasan Sulawesi Selatan ramai membahas ‘kembali’ pengangguran, eits penggarapan, eits salah lagi. Maksud saya penganggaran pakaian dan pin emas untuk Anggota Dewan di beberapa daerah seperti Makassar, Parepare, dan Palopo.

Ketiga daerah tersebut berpredikat kota di sematan nama depannya. APBD daerah itu juga berjumlah triliunan. Tak tanggung-tanggung untuk menjadi Anggota Dewan yang baik, tidak mubazir, dan tidak menyia-nyiakan peluang. Nilai tukar pakaian dan pin emas untuk persiapan pelantikan mereka ratusan juta hingga miliaran.

Tercatat di Makassar, anggaran pakaian plus pin emas mencapai Rp. 625 juta untuk kuota 50 Anggota Dewan. Sementara di Palopo, anggaran serupa tercatat Rp. 420 juta untuk 25 Anggota Dewan, dan untuk kota kelahiran Habibie tak mau kalah, Parepare menganggarkan Rp. 398.5 juta juga untuk 25 Anggota Dewan.

Dan lebih trengginas lagi anggaran pakaian plus pin emas bagi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Angkanya mencapai Rp. 2.45 Miliar untuk kuota 85 Anggota. Haddeehh, em, em. Tumpah-tumpah coto Daeng. Ini baru kebijakan dengan konsistensi sangat tinggi dari Anggota Dewan terhormat di Sulawesi Selatan.

Kini tak hanya Uang Panai’ yang membuat para jomblo harus menahan nafas sebelum melamar. Tapi juga masyarakat dihadapkan pada kenyataan kalau Anggota Dewan mereka memang harus senantiasa tampil trengginas, kalau bisa mahal kenapa harus murah.

Ewako! Ini Sulawesi Selatan Karaeng!

Dan bila belum cukup nominal tersebut, rakyat telah sementara bergerak untuk menjamin kenyamanan Anggota DPRnya agar tetap bertahan secara signifikan pada prinsipnya, kalau bisa mahal kenapa harus murah. Infaq #RECEH telah beredar di kotak-kotak amal grup-grup whatsapp dan sosial media terdekat. Sebagian juga telah turun ke jalan. Perintah, Aman!

Sontak hal tersebut mendapat perhatian dari pelbagai pihak. Tak terkecuali dari kaum dhuafa yang semakin dhuafa. Namun menarik memperhatikan para Anggota Dewan yang tak bergeming. Tetap setia dalam mempertahankan haknya. Keteladanan tingkat tinggi bagi penerus-penerusnya. Sangat idealis Hasanuddiiin!

Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 18 tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada pasal 12 ayat (1) kita dapat menyimak aturan terkait pakaian dinas dan atribut Pimpinan dan Anggota DPRD yang terdiri dari pelbagai pakaian sipil hingga harian.

Walau di setiap daerah tersebut tak mengikuti secara konsisten, tapi ngotot tetap adalah sebuah upaya pantang menyerah memperjuangkan nasib sebagai wakil dari rakyat. Termasuk mewakili memakai pakaian mahal dan pin emas. Selanjutnya menarik memperhatikan ayat (2) dari pasal 12 yang termaktub di aturan terkait pakaian dan atribut Pimpinan dan Anggota DPRD sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) disediakan dengan mempertimbangkan prinsip efisiensi, efektifitas, dan kepatutan.

Ayat (2) pasal 12 tersebut seolah-olah telah mengetahui persis bahwa Dewan Perwakilan Rakyat itu adalah tempat orang-orang terhormat juga pilihan yang cerdas, dan sederhana. Tak terkecuali bagi yang terpilih di daerah-daerah. Menjadi prestasi sekaligus prestise. Kebanggaan pribadi tiada tara dan dielu-elukan keluarga.

Selain menjadi obor yang seolah menyalah terang membawa segala macam kebaikan. Menjadi Anggota Dewan pun adalah jalan suci atas nama pengabdian kepada rakyat. Bagi yang belum paham, menjadi Anggota Dewan memang dipercaya sebagai tiraqat bila hendak mencicipi rasanya kehidupan Dewa. Buktinya, tak perlu berkatepe Asgardian, cukup menghilangkan huruf ‘en’ dari kata Dewan. Seketika, dalam kedipan mata bisa langsung bergelar Dewa. Kekuatan besar dengan palu kebijakan yang bisa men-smash apa saja. Tak salah bila posisi Anggota Dewan banyak menjadi primadona.

Fakta itu, telah sangat disadari oleh Bang Iwan Fals sejak dulu. Lagu karya beliau ‘Surat Buat Wakil Rakyat’ dapat menjadi referensi musik tambahan bila belum ada di playlist. Lagu yang sangat pas menjadi pengantar tidur di ruang-ruang siding soal rakyat. Lirik pada lagu Bang Iwan itu sepertinya harus mulai di update. Misalkan pada bagian, “wakil rakyat kumpulan orang hebat.” Yah… kenyataannya DPR itu bukan sekedar hebat lagi saat ini. DPR sudah jadi tiraqat untuk mencapai maqam para Dewa. Hebat sudah tentu, pilihan kata yang bisa menggantikannya, trengginas.

Dewan Perwakilan Rakyat juga, sama sekali tidak seperti warung kopi. Bicara harus lebih teratur dan apalagi bila menyangkut style pakaian. Anggota Dewan yang terhormat tak main-main memilih harga. Ada yang rela mengurut urat leher hingga menyembul untuk suatu tampilan yang difasilitasi uang dari rakyat.

“Rakyat ada yang susah atau tidak, itu soal lain. Ukuran mereka kan harga itu tidak mahal. Mahal itu relativitas. Silahkan rasionalisasikan, bila perlu jika ada yang menganggapnya mark up laporkan saja. Ini adalah kehormatan dan harga diri Anggota Dewan kita yang mulia. Sudah tahu menjadi Dewan itu tak mudah, dan tak gratis, kalian jangan banyak campur,” La Rahing kembali bersorak keras dari mejanya.

Namun demikian, sebagai rakyat yang baik dan belum trengginas. Kita patut berbaik sangka pada manusia pilihan yang di kodratkan menjadi wakil rakyat yang akhirnya kita sebut Anggota Dewan. Tampilan mentereng, belum tentu ia tak rendah hati. Namun Bapak/Ibu/Saudara(i) Anggota Dewan yang kini semakin milenialisme tetap harus kita dukung agar semakin menunjukkan kerendahan dirinya.

Rendah diri nan kukuh pada pendirian, kalau bisa mahal kenapa mesti murah, why not? Coto githu lo. Eits, nalogat maki’e. Coba bayangkan apa bedanya sebagai Anggota Dewan dengan rakyat jelata bila berpakaian biasa-biasa saja dan tidak memakai pin emas. Jangan sampai Anggota Dewan dikira dalam mode penyamaran sebagai pengemis di jalanan yang sementara ngeprank rakyat. Kan bisa menjatuhkan marwah lembaga Negara. #TidakElok.

Bukan begitu para Anggota Dewa, eits Dewan, dengan huruf ‘en’. Berikut semoga dapat menjadi renungan dalam keramaian hiruk pikuk kesibukan Anda sebagai ‘wakil’ rakyat’. Sebuah kyutipan dari Prof (HC) Tan Malaka, ini sebenarnya hanya cocok dibaca bagi penjual buku karena mengandung value promosi mendalam.

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Yah, sesungguhnya hanya butuh sedikit kerendahan hati untuk merasa malu dan tak berlebihan, apalagi menggunakan fasilitas dari uang rakyat. Namun bila kerendahan hati itu telah hilang, dan menyisakan hanya kerendahan diri yang sudah menjadi kebiasaan dan kita anggap benar, lalu berakar menjejali hati, hingga sangat sulit untuk berubah. Sekali lagi kembali kepada judul, kalau bisa mahal kenapa harus murah.

Dan apapun itu ingatlah selalu pesan Presiden Dunia Lain, “Kalau kalian bisa, kenapa mesti harus kita. Selamat datang di watdefak Indonesia,” sumber: Dildo Garis Lurus.

“Harta yang paling berharga… adalah…. Anggota Dewan,” La Rahing meninggalkan gelasnya yang kosong sambil bernyanyi. Setelah tahu diri ternyata sedang ngopi berhadap-hadapan dengan tembok.

Penulis: Ibrah La Iman

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda