Sarjana Islam Harus Adaptif di Era Digital

PAREPARE, PIJARNEWS.COM–Perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke- 19 resmi dibuka malam tadi malam  Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, Ph.D
di Grand Marcure Batavia Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.

Pembukaan AICIS berlangsung cukup meriah dan dihadiri ribuan sarjana muslim dari seluruh Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara menghadiri acara pembukaan ini sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara ini secara resmi.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang mengusung tema Digitalizing Muslim Life ini sangat penting digelar bagi umat Islam di Indonesia dan dunia pada umumnya.

“Umat Islam hari ini hidup dalam era digital yang sangat cepat dan tidak mungkin ditolak. Umat Islam harus sadar dan berpacu dengan waktu dalam menyiapkan diri. Jika tidak, umat Islam akan tertinggal oleh zaman,” tutur Rudiantara

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat memaksa sarjana Islam harus adaptif dan memberikan pencerahaan dan penyadaran kepada umat Islam. Khususnya dalam pemahaman keberagamaan tentang ajaran Islam moderat, damai dan toleran.

Rudiantara menyebutkan jika teknologi digital hari ini telah dimanfaatkan oleh kelompok umat Islam yang berpaham radikal dan intoleran. Media digital di Indonesia telah dipenuhi konten-konten yang cukup berbahaya dan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rudiantara yang disebut terlibat aktif dalam organisasi Dewan Masjid Indonesia meminta Sarjana Muslim harus berpacu dengan kelompok-kelompok radikal ini untuk mendakwahkan ajaran Islam yang penuh cinta kasih, damai, dan toleran di media-media digital.

Sementara Direktur Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin dalam sambutannya menyebutkan bahwa peranan Kemenag RI sangat besar, khususnya dalam membangun tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia.

“Saat ini Kemenag RI membina ratusan perguruan tinggi, madrasah dan pesantren di Indonesia. Sekitar 2,5% lembaga pendidikan indonesia dikelola oleh Kementerian Agama. Jumlah peserta didiknya tidak kurang dari 25 juta orang,” papar Kamaduddin pada awal sambutan. Jumlah tersebut  sangat signifikan dan berkontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penyelenggaraan Annual Internasional Conferensi on Islamic Studies (AICIS) merupakan salah satu upaya Kemenag RI untuk memberikan kontribusi dalam menata kehidupan masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia. Pertemuan cendekiawan Islam dalam kegiatan AICIS ke- 19 fokus membicarakan tentang Islam di era digital.

Melalui AICIS akan memunculkan banyak pokok-pokok pikiran dan rekomendasi tentang pengembangan dan pemanfaatan media digital dalam kehidupan umat Islam. Hal yang paling urgen adalah bagaimana meredam dan menangkal paham dan gerakan radikalisme yang mulai intens memanfaatkan media digital untuk melakukan propaganda dan provokasi kepada masyarakat.

Saefudin, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare yang ikut sebagai peserta memberikan tanggapannya terkait isu yang berkembang dalam pembukaan AICIS, khususnya masalah gerakan digitalisasi.

“Kita tidak bisa menghalagi siapa pun memanfaatkan media digital, termasuk kelompok ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Oleh karenanya, kita harus berlomba dengan mereka untuk memperkaya konten-konten keagamaan di media digital, agar masyarakat dan umat Islam lebih tercerahkan,” katanya. (rls/dmh)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda