S. Purwanda: Urgensi Penerbitan Lokal

Salam perbukuan.

Beberapa tahun yang lalu, embrio komunitas bersemai di kota ini. Beberapa orang memulainya dari Kelas Inspirasi, mereka orang-orang penebar semangat inspirasi di kelas para bocah. Kemudian, semangat itu menular “keluar” ke komunitas kepenulisan, lahirlah: Parepare Menulis.

Apakah ini langkah yang tepat, membentuk kelompok kepenulisan tanpa dimulai dengan bacaan? Saya tidak ingin menggugat apalagi mendebat hal itu di forum ini.

Sebenarnya keraguan saya terjawab dengan sendirinya, setelah beberapa bulan kemudian, Rumah Baca Anak Bangsa dan Teras Baca, lahir. Kehadiran kelompok baca ini, semakin menambah semarak komunitas yang sudah ada sebelumnya.

Toko-toko buku juga mulai bermunculan—semisal Alfarabi—walaupun kemudian tenggelam kembali. Setelah itu muncul lagi yang baru, dengan nama yang tentu berbeda.

Hadirin yang saya cintai…

Peristiwa muncul-tenggelam ini bukan sesuatu yang baru. Kritikus Sastra cum editor fiksi kami di Sampan Institute, Ilham Mustamin—atau kerap disapa Ilo ID—dalam tulisannya yang terbit di Pijarnews, berjudul Distansi Buku dan Parepare, memberikan data terkait penelusurannya mengenai toko buku di Parepare. Menurut Ilham, pada tahun 1950-an ada satu toko buku di Parepare, nama tokonya: Pustaka Akademia. Setelahnya, timbul tenggelam, tapi tetap satu toko buku. Hal ini tentu miris, jika mengaitkan kota ini sebagai ikon “kota pendidikan”.

Kalau toko buku saja hanya satu, bisa diperkirakan, minat beli buku di Parepare pada masa itu, sangat rendah, dan tentu ini setali dengan minat baca yang rendah pula.
Peristiwa timbul tenggelamnya toko buku ini saya namai dengan istilah: Siklus Literasi. Hal ini normal dalam sebuah putaran waktu yang di dalamnya mencakup peristiwa dan tokoh.

Hadirin yang saya banggakan…

Dalam sebuah kegiatan di Desa Alu Sulawesi Barat, saya pernah diminta (didaulat) untuk menjelaskan bagaimana geliat literasi di Parepare. Saya katakan kepada mereka, kami mengalami “siklus literasi”. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Jawabannya sederhana saja: mesti ada yang mengambil peran menjadi “penjaga gawang” di tiap kantong-kantong literasi.

Bagi saya pribadi, kantong literasi mesti mencakup tiga proses penting ini: Baca, Tulis, dan Terbit.

Proses baca berkaitan dengan penggalian pengetahuan, sifatnya mengkognisi nalar dan tindakan manusia. Proses tulis berkaitan dengan pendalaman pengetahuan, sifatnya mengafeksi rasa dan memberi pengaruh dalam susunan kalimat. Sedangkan proses terbit, merupakan akumulasi dari kedua proses sebelumnya. Ibaratnya, penerbitan merupakan “muara” pengetahuan.

Hadirin yang sama berbahagia…

Di Parepare, yang menggawangi kantong bacaan ada beberapa kelompok, seperti Rumah Baca Qalam di IAIN Parepare; Bumi Manusia di Umpar; Scola Aksara di Amsir; Gud Mud dan CAK di Perumnas; Teras Baca; dan masih banyak tempat lainnya yang belum bisa saya sebut satu per satu.

Yang menggawangi kantong kepenulisan juga ada beberapa kelompok, semisal Parepare Menulis; Forum Lingkar Pena Parepare; Orazine di Gud Mud; dan beberapa yang langsung bersifat personal ke beberapa penulis yang sudah masyhur dan “punya nama”.

Untuk kantong penerbitan sendiri, diperkirakan ada tiga, satu, milik dari Gus Ibrah; kedua, ada YBUM Publisher yang dikelola oleh Achmad dan istrinya; dan kawanan di Sampan Institute sendiri.

Saudara-saudari se-primordialku.

Ilham dalam tulisannya Distansi Buku dan Parepare, memberikan sebuah penggambaran tentang sebuah “kota buku yang epik” yang ada di jalan Yasukuni-dori, Kanda-Jimbocho, Jepang. Ia menuliskan, “buku demi buku terpajang sepanjang setengah kilometer di jalan Yasukuni yang lebar.”

Diperkirakan buku-buku telah ada di jalan itu sejak masa Restorasi Meiji, tahun 1880-an. Di jalan itu, ada sekitar 136 toko buku lawas, langka dan bekas, 30 toko buku baru, 25 agen distribusi buku, dan sejumlah besar perusahaan penerbitan dan editing. Bisa kita bayangkan, bagaimana hiruk pikuk perbukuan di sana.

Di Indonesia sendiri, sejarah kota buku dan penerbitan bisa kita temukan di Solo, Jawa Tengah. Bandung Mawardi dalam bukunya Omelan, menuliskan “Dulu, Solo itu kota memiliki puluhan penerbit dan percetakan berpengaruh di tanah jajahan sampai pada masa kekuasaan Soekarno. Sejarah itu berhenti, menjadikan Solo kota sepi penerbitan dan kota kehilangan jejak-jejak toko buku.”

Bagaimana dengan Parepare?
Untuk toko buku—sebagaimana kita ketahui bersama hari ini, siklus itu hadir kembali setelah tutupnya Pustaka Akademia dan Alfarabi—tidak hanya ada satu, tapi ada dua toko buku, yang hari ini eksis di Parepare. Toko buku ini “betul-betul benar” buka toko buku fisik—bukan toko buku maya.

Pertama, toko buku Pustakakilima yang dikelola oleh Muhammad Ismail Makmur dan Alfian Diro Damis. Kedua, toko buku yang buku-bukunya dipajang di etalase Om-om Print, sepertinya dikelola oleh Kaum Dirjanian—istilah ini mengacu pada pengikut Mazhab Landakiah.

Sebenarnya, jumlah 2 toko buku ini sangat sedikit, jika dibandingkan luas wilayah Parepare dengan setengah kilometer jalan Yasukuni di Jepang.

Kalau boleh saya berpendapat, bentuk nyata dari visi kota Parepare sebagai “kota dengan revolusi industri tanpa cerobong asap”, sebenarnya, salah satunya adalah menghadirkan industri perbukuan. Mereka mungkin keliru, menghadirkan plang huruf “riverside dan rumah sakit ainun” sebagai bentuk nyata dari visi “industri tanpa cerobong asap” yang mereka gaungkan.

Saudara-saudariku yang tidak semazhab-sepenanggungan…

Untuk penerbitan dan percetakan di Parepare, lembaga yang hadir mengisi posisi tersebut belum bisa dikatakan sebagai lembaga yang mapan dan profesional. Semisal penerbit Sampan, tidak memiliki alat yang canggih, yang hanya tutup mata, jreng, jadilah 1.000 eksemplar buku.

Di Sampan, belum pernah ada satu buku yang oplahnya di atas angka 500 eksemplar. Jangankan 500, sejauh ini, angka oplah tertinggi berada di angka 180 eksemplar. Tidak sampai 200 eksemplar.

Maka dari itu, kami meminta kepada yang hadir di forum ini, lihatlah hal ini sebagai proyek yang menjanjikan untuk Parepare di masa mendatang. Jika ada keinginan untuk membangun penerbitan dan percetakan yang lebih besar misalnya, sejenis Kapal Induk, silakan, tentu kami sangat senang. Semakin banyak penerbitan di kota ini, maka semakin banyak pengetahuan yang bisa diproduksi. Tentu semakin banyak pula pendistribusian buku ke toko-toko buku.

Toko buku baru bakal bermuculan, merespon kebutuhan pasar buku. Dan tentu, kota ini akan dikunjungi oleh banyak pembeli buku dari berbagai daerah, dan boleh jadi, akan ada peningkatan minat baca. Siapa tahu, bisa saja kan?

Saudara-saudariku…
Penerbitan berguna untuk memproduksi pengetahuan, baik pengetahuan-pengetahuan lama yang kembali dimunculkan, diperbaharui kembali, maupun pengetahuan-pengetahuan yang sama sekali baru ditemukan oleh seorang penulis/peneliti.

Dengan adanya penerbitan, kita bisa “men-dayabudi-kan” pengetahuan, memproduksinya, dan membuatnya berguna untuk semua hal yang sifatnya filantropis. Sederhananya begini, “penerbitan adalah gudang senjata, pabrik kata-kata yang siap ditembakkan!” Kami tunggu kehadiran penerbitan lokal lain di berbagai desa pelosok tanah air ini. Terima kasih atas kedatangannya semua.

Happy party, Gers.
Saya Papanina. Salam Perbukuan.

GudMud Parepare, 15/01/2019, Lektur Kerakyatan ini dibawakan di HUT 3 tahun Sampan Institut.

Penulis: Dr. (HC) S. Purwanda

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda