Refleksi 85 Tahun GP Ansor: Memikirkan Ulang Gerakan Pemuda Ansor

OPINI,- NKRI rumah kita, Pancasila ideologi kita, merawat keduanya, memperpanjang denyut nadi Nusantara”

Sejak kelahirannya Gerakan Pemuda Ansor telah banyak terlibat berdialektika dalam konteks ruang dan waktu di Nusantara. Jauh sebelum Indonesia mendeklarasikan diri sebagai bangsa yang merdeka, GP Ansor telah mewujud sebagai organisasi kepemudaan dibawah payung Nahdlatul Ulama. Usia 85 tahun bukanlah usia yang muda lagi, tapi usia yang cukup banyak merasakan deras ombak momen-momen bersejarah. Artinya bahwa organisasi mesti dan terus berefleksi, evaluasi dan berfikir futuristik disetiap pertambahan usianya.

Dalam bentangan sejarah, GP Ansor telah mengalami konfrontasi begitu kuat dengan peristiwa penting, mulai dari masa-masa pergerakan pra-kemerdekaan, Ansor senantiasa mengawal bangsa ini dalam pergerakan melawan kolonialisme.  Ijtihad NU pada tahun 1935 yang menganggap Indonesia sebagai Dar Islam, mengantarkan Ansor untuk melakukan konfrontasi dengan para penjajah yang mencengkeramkan kuasanya di negeri ini. Puncaknya adalah Resolusi Jihad  22 Oktober 1945, dimana Ansor mengawal fatwa NU untuk jihad melawan sekutu yang mencoba melakukan agresi meliter ke Indonesia. Yang berikutnya ialah melawan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila dan NKRI, yaitu ideologi Komunis. Peristiwa G30/S PKI, di mana titik baliknya adalah upaya penumpasan PKI seakar-akarnya, Ansor melalui Banser (Barisan Ansor Serbaguna) mengambil peranan yang sangat signifikan.

Seperti yang pernah di ucap oleh Founding Father Banga kita, Soekarno, bahwa “Perjuangan saya lebih muda karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Hal tersebut yang menjadi tantangan besar perjuangan GP Ansor hari ini. Sebagai bentuk nyata GP Ansor menjaga Keutuhan NKRI dalam konteks kekinian, GP Ansor berupaya menjaga ideologi bangsa dari rongrogan ideologi lain, baik berupa pemikiran maupun organisasi, baik dari luar agama islam maupun sesama muslim sendiri. GP Ansor harus berhadapan dengan ormas sesama muslim yakni Hisbut Tahrir Indonesia atau HTI, karena berupaya menggantikan ideologi kita yakni Pancasila dengan Ideologi Khilafah yang memang sebenarnya tidak cocok dalam konteks Keindonesiaan.

Berbagai cercaan dan makian datang silih berganti menghantam tubuh GP Ansor membuatnya semakin dewasa dan penguatan mental. Keterlibatan GP Ansor mengawal semangat keberagamaan yang toleran dan semangat bernegara yang solid bisa dikatakan sebagai bagian dari manifestasi dari karakter ijtihadis progresif. Karakter semacam ini  tidak hanya bergelut dalam pengayaan wacana keagamaan, tetapi pada level praktis juga ingin berpartisipasi bagi tersemainya perdamaian dan keamanan di Republik ini. Sebab, merawat keindonesiaan yang damai berarti melestarikan warisan para pejuang kemerdekaan. Apalagi di dalam sejarah kemerdekaan ada keterlibatan ulama yang turut berjibaku.

Pada tahun ini ada beberapa refleksi atau upaya memikirkan ulang masa depan organisasi yang sepatutnya dilakukan oleh GP Ansor. Pertama ialah Jihad Milenial, sudah barang yang pasti bahwa sebagian besar kehidupan kita hari ini dikendalikan oleh kecanggihan teknologi. Arus informasi yang begitu banyak dan begitu cepat berseliweran di beranda dunia maya kita dimana kebenaran dan kebohongan begitu mudah tercamput tak terfilter. Karena sedang menghadapi generasi milenial, yang hampir separuh waktu hidupnya ada di dunia maya. Melalui internet, virus hoax, fake news dan hate speech ini mudah menyebar, dan menjangkiti semua penggunanya, khususnya anak muda.

Selanjutnya, radiasi virus ini akan mampu menjebol dinding “etika” yang menjadi benteng pertahanan anak muda. Dan ini jelas menjadi ancaman yang sangat berbahaya terhadap masa depan bangsa. Upaya GP Ansor ialah semaksimal mungkin memfiltrasi diri dan berupaya mengedukasi masyarakat tentang adanya HOAX, fake news serta Hate speech itu, nah itulah yang dimaksud dengan jihad milenial.

Yang kedua ialah, ditengah tahun politik yang begitu sensitif terhadap kemunculan embrio-embrio konflik sesama masyarakat. Kader GP Ansor harus tetap merawat akal sehat, jauh diatas keterlibatan secara politk baik sebagai aktor maupun partisipan, ada persatuan yang lebih penting, ada kemanusiaan yang tetap jadi priortias utama, dan ada tali silaturahmi ukhuwah basharia, ukhuwah addina, dan ukhuwa watoniyah yang mesti harus tetap dijaga. Maka dari itu sebagai kader Ansor kita mesti menyejukkan situasi yang panas, mulai dari hal-hal yang paling sederhana, postingan dan interaksi media sosial misalkan.

Sebagai pesan penutup di tulisan saya yang sederhana ini, GP Ansor harus bisa istiqomah memposisikan diri sebagai salah satu penggerak kepemudaan yang merawat Indonesia sebagai negara yang selalu dinafasi Pancasila dan UUD 45. Semoga GP Ansor semakin produktif melahirkan pemikiran dan pandangan keagamaan yang moderat dan inklusif agar bisa membentengi kehidupan berbangsa yang toleran serta memperkuat nalar NKRI.

Selamat Hari Lahir Gerakan Pemuda Ansor Ke – 85!

Penulis:

Awal Maulana, Anggota GP Ansor Parepare.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda