PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Nama Prof. Dr. Hj. Muliati, M.Ag kini tercatat sebagai salah satu guru besar perempuan inspiratif di IAIN Parepare. Pencapaian jabatan fungsional tertinggi di dunia akademik ini tentu bukan perjalanan instan. Ia memulai segalanya dari nol, bermodalkan kedisiplinan, pengalaman organisasi, dan tekad kuat sebagai anak petani.
Prof. Muliati lahir di Desa Sempang, Kabupaten Pinrang, pada 31 Desember 1960. Ia merupakan anak kedelapan dari 11 bersaudara. Meski berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya selalu menanamkan prinsip bahwa ilmu adalah harta yang tidak akan habis, meskipun dibagikan kepada orang lain.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 112 Pinrang dan tamat pada tahun 1973. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun di Pinrang, kemudian melanjutkan ke PGAN di Kota Parepare. Pada masa itu, PGA merupakan lembaga pendidikan menengah kejuruan keagamaan negeri yang bertujuan mencetak calon guru agama Islam, yang kini telah beralih menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
Karakter disiplin Prof. Muliati mulai terbentuk sejak masa kuliah di IAIN Alauddin Ujung Pandang, yang kini menjadi UIN Alauddin Makassar. Pada semester tiga, ia menjadi perempuan kedua di angkatannya yang bergabung dalam Resimen Mahasiswa (Menwa).
“Disiplin saya sebenarnya terbentuk dari situ. Tepat waktu, bahkan cara makan pun diatur. Pelatihannya sangat berat di Pakatto, tetapi di situlah saya belajar memaknai kehidupan,” kenangnya.
Selain aktif di Menwa, ia juga terlibat dalam Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi IMDI, serta pernah menjabat sebagai Ketua Seksi Keputrian di Senat Mahasiswa.
Setelah menyelesaikan studi S1 pada tahun 1987, Prof. Muliati tidak langsung menjadi dosen tetap. Ia memulai karier akademiknya sebagai asisten dosen di Universitas Muslim Indonesia (UMI) selama tiga tahun. Saat itu, ia menjadi asisten Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., yang kini menjabat sebagai Menteri Agama RI.
“Saya pernah menjadi asisten beliau di UMI. Beliau kakak senior saya. Sampai sekarang, kalau bertemu, beliau masih mengingat nama saya,” tuturnya.
Pada tahun 1991, ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mengabdi sebagai guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) selama kurang lebih 15 tahun. Setelah itu, pada tahun 2005, ia beralih tugas menjadi dosen di STAI DDI, dan pada tahun 2010 resmi bergabung sebagai dosen di IAIN Parepare.
Prof. Muliati dikenal memiliki etos kerja tinggi dalam menempuh pendidikan lanjut. Ia berhasil menyelesaikan program Magister (S2) di Universitas Muslim Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.
Selanjutnya, ia menempuh pendidikan Doktoral (S3) di UIN Alauddin Makassar dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu kurang dari tiga tahun, bahkan menjadi salah satu lulusan tercepat di angkatannya.
“Saya menyelesaikan S2 kurang dari dua tahun, dan S3 kurang dari tiga tahun. Itu semua berkat kerja keras dan disiplin,” ujarnya.
Meski perjalanan akademiknya terbilang cepat, jalan menuju gelar profesor tidaklah mudah. Prof. Muliati mengaku harus melalui berbagai tantangan berat. Usulan guru besar pertamanya pada tahun 2013 sempat tertunda karena persoalan kesesuaian bidang kepakaran.
Ia juga harus menjalani ujian kompetensi yang ketat di kementerian, yang menuntut persiapan intensif.
“Dalam ujian kompetensi itu banyak yang sampai menangis. Saya belajar hampir sebulan penuh untuk mempersiapkan semuanya,” ungkapnya.
Kini, sebagai Guru Besar dalam bidang Teologi Islam di IAIN Parepare, Prof. Muliati menjadi salah satu sosok penting dalam upaya transformasi kampus menuju UIN Anre Gurutta Kiai Ambo Dalle. Baginya, gelar profesor bukanlah simbol kebanggaan semata, melainkan amanah untuk terus meningkatkan dedikasi kepada almamater dan masyarakat.
Reporter: Faizal Lupphy
















