Praktisi Politik Transformatif ini Sampaikan Evaluasi Kritis terhadap Arah Kebijakan pada Visi Misi Calon Walikota Parepare

Safar Muchtar, Praktisi Politik Transformatif
Safar Muchtar, Praktisi Politik Transformatif

PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Debat kandidat terakhir calon Walikota dan Wakil Walikota Parepare telah berlangsung hari ini, Senin 18/6/2018. Debat yang diikuti oleh pasangan calon nomor urut satu, Taufan Pawe – Pangerang Rahim dan pasangan calon nomor urut dua Faisal Andi Sapada – Asriady Samad bertempat di Novotel Makassar dan disiarkan langsung Celebes TV serta dipandu oleh Fauziah Erwin.

Berbagai macam pandangan dan tanggapan masyarakat bermunculan dan tentunya juga hingga komentar warganet banyak mengisi grup-grup diskusi baik di dunia maya maupun di warung-warung kopi. Dari sekian banyak pengamatan itu, yang menarik adalah pendapat yang diutarakan Praktisi Politik Transformatif, Safar Muchtar.

Safar Muchtar, mengutarakan bahwa belum ada calon kandidat yang memiliki konsep utuh pembangunan berbasis potensi kawasan dan belum ada konsep peningkatan output kualitas pendidikan. Selain itu Safar juga menyampaikan belum adanya pemimpin di Kota Parepare yang mampu menyajikan instrument berbasis informasi teknologi yang memudahkan akses informasi pelayanan publik dalam berbagai aspek.

“Pembangunan berbasis potensi kawasan dapat kita klasifikasi menjadi tiga zona ekonomi. Zona pertama yang secara administratif berada di Kecamatan Ujung merupakan zona pada sector jasa dan niaga. Zona kedua meliputi Kecamatan Bacukiki, Bacukiki Barat adalah zona pertanian dan perkebunan. Ketiga adalah zona potensi maritime atau perikanan dan kelautan yang berada di Kecamatan Soreang. Dari semua calon belum ada visi yang memuat tentang konsep dan strategi pengembangan pada tiga zona dengan keunggulan potensi masing-masing dalam rangka mengoptimalkan sumber daya pada masing-masing zona,” jelasnya.

“Contoh misalnya potensi kemaritiman, perikanan dan kelautan, nelayan kita tidak hanya butuh peralatan namun juga butuh peningkatan kapasitas baik itu dalam rangka memanfaatkan keterbatasan peralatan untuk mendapatkan hasil yang optimal maupun kreatifitas dalam mengolah hasil tangkapan tersebut. Pada prinsipnya belum ada yang menyentuh peningkatan kapasitas pada pelaku sektor strategis pada zona masing-masing. Begitupun juga dengan sektor pertanian, belum adanya peningkatan kapasitas untuk masyarakat tani baik dalam rangka bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian juga intensitas keberlanjutan sektor pertanian atau perkebunan tersebut. Walaupun dengan jumlah lahan yang terbatas, namun penting untuk menjaga ciri khas dan karakter wilayah khususnya Bacukiki sebagai kawasan pertanian perkebunan,” ungkap Safar Muchtar dengan gaya khasnya bercengkrama dengan santai dan cerdas.

“Terkait pendidikan saya mengamati yang ada adalah seolah-olah pendidikan itu hanya soal baju seragam, hanya soal spp, atau hanya soal pembayaran dan secara umum bukan hanya soal mendapatkan layanan yang sifatnya konsumtif. Namun yang terpenting juga kita secara serius untuk melahirkan kebijakan yang berdampak pada pemerataan kualitas pendidikan. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melakukan pemerataan kualitas atau meningkatkan image seluruh sekolah yang dinaungi pemerintah Kota Parepare agar memiliki standar mutu yang sama dalam perspektif publik. Tujuan kita adalah tidak ada diskriminasi dan deferensiasi dalam pelayanan pendidikan,” jelas Safar Muchtar yang juga Ketua Hubungan International BPC HIPMI Parepare.

“Pola sederhana yang kita bisa lakukan adalah melakukan inventerisasi dan redistribusi Guru. Pada setiap sekolah itu mutlak adanya guru-guru kreatif dan inovatif dan tidak menutup kemungkinan polarisasi kontrak guru kreatif dan inovatif serta professional seperti pada rujukan Negara pendidikan yang maju seperti Finlandia. Fundamen epistemology sumber daya manusia di sana berorientasi pada manajemen kolaborasi, itu yang mereka dapatkan di bangku sekolah dan diterapkan pada praktek kehidupan. Sedangkan saat ini kita di Parepare mendapatkan pola kompetisi dan itulah yang diterapkan di dunia nyata pada saat dewasa,” tukasnya penuh semangat.

“Begitu juga di Kota Parepare belum ada pemimpin yang mampu menyajikan instrument berbasis informasi teknologi. Untuk memudahkan akses informasi pelayanan publik dalam berbagai aspek. Contoh misalnya hadirnya sebuah pelayanan yang berbasis aplikasi yang bisa kita mengetahui informasi terkait kinerja pemerintah secara umum. Progres pembangunan, data sumber daya manusia, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, tata kelolah anggaran, potensi wisata, wilayah posisi tangkapan ikan untuk nelayan dan lain sebagainya. Semua itu kita berharap bisa diakses secara online dan update. Smart city bukan sekedar label atau untuk hanya nama,” jelas pemuda yang mengakui dirinya sebagai pelajar audiotorial.

“Walaupun secara umum kita melihat di Kota Parepare mengalami kemajuan yang cukup signifikan pada beberapa tahun terakhir. Namun saya kira perlu kita mengantisipasi juga pertumbuhan jumlah penduduk dan jumlah kendaraan dalam suasana kota yang berkembang ini. Oleh karena itu sudah sangat perlu menghadirkan kebutuhan sarana transportasi publik untuk menjawab kebutuhan metropolitan,” tutup Safar Muchtar, Praktisi Politik Transformatif dari Parepare.

Editor: Ibrah La Iman

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News