Oleh : Suryaningrat, M.Kom (Dosen Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pamulang)
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi katalis utama dalam transformasi bisnis digital marketing di era ekonomi digital. AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai inovasi teknologi pendukung, melainkan sebagai sumber daya strategis yang mampu menciptakan nilai tambah dan keunggulan kompetitif bagi organisasi. Dalam perspektif akademik, pemanfaatan AI dalam digital marketing sejalan dengan teori Resource-Based View (RBV) yang menekankan bahwa keunggulan kompetitif berkelanjutan diperoleh melalui pemanfaatan sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak tergantikan (Barney, 1991).
Penelitian terkini menunjukkan bahwa kemampuan AI dalam menganalisis big data, mempersonalisasi konten, serta mengotomatisasi pengambilan keputusan pemasaran menjadikannya aset strategis yang sulit ditiru oleh pesaing (Verhoef et al., 2021). Lebih lanjut, Huang dan Rust (2021) menegaskan bahwa integrasi AI dalam aktivitas digital marketing meningkatkan efisiensi, akurasi targeting, serta kualitas pengalaman pelanggan. Oleh karena itu, AI berperan penting dalam memperkuat kapabilitas pemasaran digital dan mendorong peningkatan kinerja bisnis secara berkelanjutan.
Dalam praktik digital marketing, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memegang peranan krusial dalam pengelolaan dan analisis data konsumen dalam skala besar (big data). Meningkatnya interaksi konsumen melalui berbagai platform digital menghasilkan volume data yang kompleks dan terusbertambah, sehingga memerlukan teknologi cerdas untuk mengolahnya secara efektif. Menurut Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2017), era Marketing 4.0 menuntut perusahaan untuk mengintegrasikan teknologi digital guna memahami perilaku konsumen secara lebih personal, kontekstual, dan berkelanjutan.
AI memungkinkan kebutuhan tersebut terpenuhi melalui penerapan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) dan analitik prediktif yang mampu mengidentifikasi pola perilaku, preferensi, serta niat pembelian konsumen secara real-time. Studi terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam analisis data pemasaran tidak hanya meningkatkan akurasi segmentasi pasar, tetapi juga memperkuat personalisasi pesan dan penawaran (Davenport, Guha, Grewal, & Bressgott, 2020). Dengan dukungan AI, strategi digital marketing dapat disesuaikan secara dinamis berdasarkan perubahan perilaku konsumen dan kondisi pasar.
Lebih lanjut, kemampuan AI dalam memberikan wawasan berbasis data mendukung pengambilan keputusan pemasaran yang lebih cepat dan tepat, sehingga meningkatkan efektivitas kampanye serta kualitas pengalaman pelanggan secara keseluruhan (Verhoef et al., 2021).
Dari sudut pandang teori Customer Relationship Management (CRM), penerapan AI dalam digital marketing berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hubungan antara perusahaan dan konsumen. Payne dan Frow (2005) menegaskan bahwa pengelolaan hubungan pelanggan yang efektif memerlukan pemanfaatan teknologi informasi untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang konsisten dan bernilai. Chatbot berbasis AI, sistem rekomendasi produk, serta personalisasi konten merupakan contoh implementasi AI yang memperkuat keterlibatan (engagement) dan loyalitas pelanggan.
Selain itu, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berperan penting dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional sebagaimana dijelaskan dalam teori Decision Support System (DSS). Turban et al. (2011) menyatakan bahwa system pendukung keputusan berbasis teknologi memungkinkan organisasi mengolah informasi secara sistematis sehingga mampu menghasilkan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan rasional. Dalam konteks digital marketing, AI berfungsi sebagai inti dari DSS modern dengan kemampuan menganalisis data pemasaran secara real-time dan berkelanjutan.
Pemanfaatan AI memungkinkan optimalisasi kampanye iklan digital melalui pengaturan anggaran otomatis, pemilihan saluran pemasaran yang paling efektif, serta penyesuaian pesan berdasarkan respons audiens. Selain itu, AI membantu penentuan target audiens secara lebih presisi melalui analisis perilaku dan preferensi konsumen, sehingga mengurangi pemborosan biaya pemasaran. Evaluasi kinerja pemasaran juga dapat dilakukan secara otomatis dan terukur melalui dashboard analitik berbasis AI yang menyajikan indikator kinerja utama secara komprehensif. Dengan demikian, AI tidak hanya meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pemasaran, tetapi juga mendorong keunggulan operasional dan daya saing bisnis secara berkelanjutan.
Namun demikian, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam digital marketing tidak terlepas dari berbagai tantangan etis dan sosial yang perlu mendapat perhatian serius. Teori etika bisnis menekankan pentingnya prinsip transparansi, keadilan, serta perlindungan terhadap privasi konsumen sebagai landasan utama dalam pemanfaatan teknologi (Boatright, 2012). Dalam praktik digital marketing, AI sering kali mengandalkan pengumpulan dan analisis data konsumen dalam jumlah besar, termasuk data perilaku, preferensi, dan aktivitas daring, yang berpotensi menimbulkan risiko penyalahgunaan data apabila tidak dikelola secara bertanggungjawab.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kurangnya transparansi algoritma dan pengelolaan data yang lemah dapat menurunkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap perusahaan (Martin, 2022). Selain itu, bias algoritmik juga berpotensi menciptakan ketidakadilan dalam penargetan pemasaran. Oleh karena itu, penerapan AI dalam digital marketing harus diimbangi dengan tata kelola data yang baik (good data governance), penerapan prinsip akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data yang berlaku. Pendekatan ini penting untuk memastikan pemanfaatan AI yang etis, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Dalam pandangan penulis, keberhasilan penerapan kecerdasan buatan dalam bisnis digital marketing tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam mengintegrasikannya dengan kompetensi manusia. Hal ini sejalan dengan konsep Human–AI Collaboration yang menekankan bahwa AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran strategis manusia (Davenport & Kirby, 2016). Kreativitas, empati, dan penilaian etis tetap menjadi domain utama manusia dalam merancang strategi pemasaran yang berkelanjutan.
Sebagai kesimpulan, kecerdasan buatan memiliki peran strategis dalam bisnis digital marketing apabila dimanfaatkan secara tepat dan bertanggungjawab. Integrasi antara teknologi AI, teori manajemen pemasaran, dan nilai-nilai etika menjadi kunci untuk menciptakan praktik digital marketing yang efektif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan konsumen. (*)
















