Paisal Risal, Rentang Kisah Anak Pesisir

Paisal Risal

PINRANG, PIJARNEWS.COM — Paisal Risal, S.Sos (24) Lahir di Kelurahan Langa, Kecamatan Matiro Sompe, Kota Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, 23 November 1995. Dia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Mengenyam pendidikan di SD 232 Langnga, SMPN 1 Mattiro Sompe dan SMKN 1 Pinrang. Lalu ia melanjutkan pendidikannya di IAIN Parepare, mengambil Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

Profesinya sekarang bekerja sebagai Staf Komersial Perum Bulog Subdivre Parepare. Kehidupan yang amat sulit harus ia jalani sejak usia dini. Hingga membuat pria setengah baya ini menuturkan kisah hidupnya.

Hidup sebagai masyarakat pesisir, membuatku terlahir sebagai anak nelayan. Di pagi yang masih gelap. Dalam keadaan mengantuk, kupaksakan mata ini untuk terbuka. Aku harus bergegas ikut bersama ayah ke laut menjemput rezeki. Mungkin kebanyakan anak seusiaku masih terbaring di balik hangatnya selimut. Aku yang masih kecil pada saat itu, tidak memperdulikan terpaan angin laut yang terasa begitu dingin, hingga menembus baju yang kukenakan.

Menjadi siswa berprestasi di sekolah, memberiku harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena orangtua tidak sanggup dengan biaya kuliah yang mahal. Lantas hal tersebut menjadi tembok besar yang menghalangi keinginanku. Banyak mendapat dorongan positif dari teman-teman, membuat asaku kembali bangkit. Bermodalkan tekad, aku memberanikan diri mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di kampus IAIN Parepare, yang dulunya masih STAIN Parepare.

Setelah dinyatakan lulus, aku menemui kedua orangtuaku untuk menyampaikan kabar gembira ini. Kata-kata yang sama masih terlontar dari mulut keduanya. Yaitu, mahalnya biaya perkuliahan. Dengan bermodalkan tekad tadi, aku meyakinkan mereka bahwa aku akan berusaha mengurus biaya kuliah sendiri.

Masa-masa kuliah pun telah tiba. Rintangan demi rintangan terasa begitu tajam dan sulit dilalui. Berangkat dari persoalan pertama, masalah biaya yang begitu sulit didapat membuatku ingin cuti kuliah.

Hingga akhirnya semangat motivasi dari salah satu senior, menahanku untuk tidak mengambil cuti. Selama kuliah aku berusaha menafkahi diri sendiri, uang jajan pun bisa dibilang sangat jarang minta kepada orangtua.

Masalah kembali menimpa keluargaku. Usaha jual beli ikan yang selama ini dijalankan keluarga kehabisan modal. Untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian keluarga, ibu mengambil keputusan dengan menjual tanah sebagai bekal berangkat ke Malaysia. Dengan berat hati aku memberi izin kepada keduanya untuk pergi merantau ke negeri orang.

Di Malaysia ujian terus saja berdatangan menimpa keluargaku. Ayah sempat mengalami sakit malaria selama satu bulan. Mendengar kabar tersebut membuatku sangat sedih dan berpikir jika Tuhan menyayanginya maka ambillah, sehingga dia tidak merasakan sakit lagi. Namun, jika masih bisa dipertemukan maka pertemukan. Tidak beberapa lama, Tuhan mendengarkan salah satu doaku, dan memberi kesehatan kepada ayah.

Tidak lama lagi masa pendidikanku akan berakhir. Aku sadar biaya wisuda begitu mahal. Untuk mencari dana, aku harus melakukan sesuatu yang dapat membantu keuanganku, kemudian aku berpikir membangun usaha kecil-kecilan yang bisa kujadikan buat ongkos print dan beli kertas dalam pembuatan skripsi dan proposal.

Melihat keadaan di kampusku sepertinya berdagang adalah usaha yang paling baik, akhirnya aku memutuskan membuka kedai pisang nugget. Dan juga belum adanya pesaing dengan menu jualan yang sama, membuatku semakin mantap menjalankan bisnis ini. Dimulai dari mencari meja-meja bekas, kemudian meja tersebut kusulap menjadi sedemikian rupa, agar menarik pembeli.

Wisudaku tinggal sebentar lagi. Tetapi keluarga tidak ada disamping, aku ingin mereka menyaksikan hari bersejarah dalam hidupku ini. Namun mereka mengatakan tidak bisa kembali dikarenakan mahalnya ongkos pulang. Mungkin aku memiliki usaha sekarang, namun bisnis tersebut tidak akan mampu memboyong keuargaku pulang ke Indonesia. Hingga akhirnya mereka tetap pulang menghadiri acara kelulusanku.

Sementara dana yang mereka gunakan untuk pulang ke Indonesia, berasal dari amplop yang didapat dari tamu undangan pernikahan adikku, yang melaksanakan hajatan di negeri orang. Sesampainya di kampung halaman, kami berencana membeli tanah murah yang cukup untuk mendirikan rumah.

Beban dipundakku semakin terasa berat. Niat ingin memperbaiki perekonomian keluarga mengharuskanku untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik secepat mungkin. Aku mencoba mendaftar di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Bulog. Segala bentuk tes sudah terlewati. Seperti tes kesehatan, wawancara, dan pimpinan. Hasil seleksi akhirnya keluar, dan aku dinyatakan lulus dan bekerja sebagai Staf Komersial Perum Bulog Subdivre Parepare, sampai sekarang.

Sementara usaha pisang nugget terpaksa harus kututup, agar tidak mengganggu pekerjaan ku sekarang. Dari semua usaha yang telah kubangun selama ini bukanlah kebetulan melainkan usaha, ikhtiar, dan doa dari orang tua, sehingga apa yang ku inginkan dapat terwujud. Sementara kesulitan yang kurasakan selama ini tidak akan aku biarkan menjadi alasan untuk tidak bisa mencapai cita-cita dan impian. Ini semua adalah sebagian dari proses dan tahapan-tahapan untuk menjadikanku lebih baik dari yang dulu. Dengan pekerjaan ini, aku berharap dapat membantu dan meninggikan derajat orangtuaku. (klp4)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda