OPINI:Di masa lalu, imajinasi masyarakat tentang sosok pahlawan hampir selalu identik dengan peperangan, pertumpahan darah, dan pengorbanan fisik di medan laga. Pahlawan adalah sosok yang mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, dan harus hadir secara fisik di tempat konflik. Namun, peradaban manusia berubah. Medan perjuangan tidak lagi hanya berada di darat dan lautan, tetapi bergerak ke ruang-ruang digital yang kita sentuh setiap hari. Dunia kini berada dalam genggaman gawai, dan dari situlah muncul generasi pahlawan baru: mereka yang berjuang melalui ilmu, empati, dan solidaritas digital.
Kepahlawanan masa kini tidak lagi ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh kekuatan moral. Tidak lagi diukur dari seberapa keras seseorang bersuara, melainkan seberapa dalam ia menggerakkan hati, menyebarkan manfaat, dan memelihara nilai kemanusiaan. Inilah fase baru dalam sejarah umat manusia, ketika gawai bukan sekadar alat hiburan, tetapi berubah menjadi wasilah amal.
Makna Tindakan Bermakna: Perspektif Max Weber
Sosiolog Jerman, Max Weber (1978), memberikan konsep yang sangat relevan untuk memahami kepahlawanan zaman ini. Weber membedakan tindakan sosial manusia dan menegaskan bahwa suatu tindakan hanya menjadi “bermakna” jika ia diarahkan kepada orang lain dan digerakkan oleh nilai. Weber menyebutnya sebagai wertrationales Handeln atau tindakan rasional berorientasi nilai. Di sini, motivasi etis jauh lebih penting daripada keuntungan pribadi.
Jika seseorang memanfaatkan teknologi untuk mengajar secara daring, mengedukasi publik tentang bahaya hoaks, membantu penggalangan dana kemanusiaan, menjadi relawan digital saat bencana, atau menebar optimisme di tengah situasi sosial yang suram, maka sesungguhnya ia sedang menjalankan tindakan sosial bermakna. Weber menyebut bahwa tindakan semacam ini jarang ditemukan di masyarakat modern yang cenderung kalkulatif, materialistis, dan berorientasi hasil. Justru karena kelangkaannya, tindakan itu menjadi bibit kepahlawanan.
Pahlawan menurut Weber bukanlah orang yang selalu terlihat di panggung publik, tetapi mereka yang konsisten menjalankan nilai, meski tanpa tepuk tangan. Kepahlawanan lahir bukan dari popularitas, tetapi dari ketulusan.
Teknologi sebagai Jalan Amal
Dalam pandangan Islam, amal saleh tidak pernah dibatasi oleh ruang dan zaman. Nilainya tidak berkurang meski dilakukan dengan medium baru. Teknologi hari ini adalah “jalan amal” atau ruang terbuka di mana seseorang dapat menebar manfaat tanpa batas geografis dan tanpa harus bertemu secara fisik.
Melalui gawai di tangan, seseorang bisa berdonasi untuk Palestina, membantu guru-guru di pelosok mendapatkan akses pendidikan, menyiarkan pengajian, menyebarkan dakwah rahmatan lil ‘alamin, hingga menghibur mereka yang sedang bersedih. Allah menegaskan dalam Q.S. Al-Mā’idah: 2:
“…wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā…”
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Bahkan, dalam hadis sahih diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw bersabda:
“Ahabbu an-nāsi ilallāhi anfa‘uhum lin-nās.”
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lain.”
Jika manfaat itu kini bisa lahir dari jejaring digital, maka amal tersebut sama berharganya dengan bantuan langsung. Klik yang menggerakkan donasi, unggahan yang menebar ilmu, atau pesan penguatan untuk mereka yang putus asa, semuanya bernilai ibadah. Teknologi tidak lagi netral; ia berubah menjadi instrumen dakwah dan kemanusiaan.
Sebagai Rektor IAIN Parepare, saya menyaksikan bagaimana mahasiswa, dosen, dan aktivis digital mampu mengubah teknologi menjadi media pencerahan. Sebagai Ketua PC NU Parepare, saya melihat bagaimana kader-kader muda NU membangun gerakan sosial berbasis digital yang santun, edukatif, dan inklusif. Dan sebagai pimpinan pesantren, saya merasakan bahwa dakwah di zaman ini bukan hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui layar-layar kecil yang dipegang jutaan orang.
Solidaritas Digital: Gotong Royong Era Baru
Bangsa Indonesia lahir dari nilai gotong royong. Di desa, masyarakat membangun rumah bersama; di kota, kita berkumpul untuk saling membantu. Kini gotong royong menemukan wajah baru: solidaritas digital.
Castells (2012) menyebut fenomena ini sebagai networked solidarity, atau solidaritas yang muncul bukan karena paksaan kekuasaan, tetapi karena kesadaran moral sesama warga bangsa. Seseorang yang membuat platform donasi daring, mengajar tanpa bayaran melalui kelas digital, memverifikasi informasi untuk mencegah hoaks, atau mengkampanyekan sikap toleransi, sesungguhnya tengah melanjutkan semangat kebangsaan.
Mereka tidak menunggu perintah. Mereka memulai perubahan dari ruang pribadinya, dari akunnya, dari jejaring kecilnya. Nilainya mungkin sederhana, tetapi dampaknya bisa menembus ribuan kilometer.
Dalam perspektif Islam, inilah manifestasi ukhuwah insāniyah, persaudaraan kemanusiaan. Nabi SAW bersabda:
“Al-muslim akhul muslim, lā yazlimuhu wa lā yakhzulu.”
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzalimi dan tidak membiarkannya dalam kesusahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saat bencana menimpa, relawan digital menginformasikan titik evakuasi. Ketika pandemi melanda, anak muda membuat aplikasi pemetaan oksigen dan donasi. Ini bukan sekadar kreativitas teknologi, tetapi ekspresi iman dan kemanusiaan. Di sinilah kepahlawanan baru tumbuh.
Tantangan: Antara Amal dan Algoritma
Namun, teknologi bukan tanpa bahaya. Dunia digital menyimpan jebakan yang halus. Amal dapat berubah menjadi tontonan; kepedulian berubah menjadi konten; solidaritas menjadi strategi pencitraan. Zuboff (2019) menyebut zaman ini sebagai kapitalisme pengawasan, ketika perhatian manusia menjadi komoditas dan popularitas menjadi ukuran keberhasilan.
Likes, followers, dan views dapat mengaburkan niat. Kita harus bertanya kepada diri sendiri: apakah kita menolong karena ingin membantu, atau karena ingin dilihat membantu?
Islam mengingatkan pentingnya keikhlasan. Dalam Q.S. Al-Insān: 9, Allah menggambarkan orang saleh:
“Innamā nut‘imukum li wajhillāh, lā nurīdu minkum jazā’an walā syukūrā.”
“Kami memberi makan kepada kalian semata-mata karena mengharap ridha Allah; kami tidak menginginkan balasan maupun ucapan terima kasih.”
Inilah pahlawan digital sejati: tetap menolong meski tidak viral, tetap berbagi meski tidak disorot kamera, tetap peduli meski tanpa tepuk tangan.
Dalam perspektif Weber, tindakan seperti ini murni bernilai karena orientasi nilainya, bukan karena ganjaran sosialnya. Kepahlawanan digital adalah keikhlasan di tengah sorotan publik.
Pahlawan yang Menyala di Balik Layar
Pahlawan zaman now tidak lagi berperang dengan senjata, tetapi dengan ilmu, empati, dan teknologi. Mereka tidak hadir di halaman depan media massa, tetapi berada di balik layar. Mereka mengirimkan harapan kepada dunia, satu pesan demi satu pesan. Mereka menyalakan cahaya di tengah gelapnya kebencian digital, memadamkan api hoaks dengan pendidikan, dan menyembuhkan luka sosial dengan jaringan kemanusiaan.
Mungkin mereka tidak akan dicatat dalam buku sejarah. Nama mereka tidak disebut dalam upacara kenegaraan. Namun setiap klik kebaikan yang mereka lakukan tercatat di sisi Tuhan. Amal yang tersembunyi tetap bersinar di hadapan-Nya.
Di tangan mereka, teknologi berubah menjadi doa yang bergerak,
doa yang menjelma menjadi tindakan, dan tindakan yang menyalakan harapan.
Inilah pahlawan zaman now:
mereka yang menjadikan teknologi bukan sekadar alat,
tetapi jalan amal, solidaritas, dakwah, dan kemanusiaan.
Semoga di tengah derasnya arus digital, kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pejuang nilai-nilai kemanusiaan. Sebab peradaban tidak dibangun oleh alat, tetapi oleh hati yang bening dan niat yang lurus. Dunia hari ini membutuhkan bukan hanya orang pintar, tetapi orang baik—pahlawan yang menyala, meski berada di balik layar. (*)
Penulis selain sebagai Rektor IAIN Parepare, juga sebagai Ketua PC NU Parepare, dan Pimpinan Ponpes Zubdatul Asrar Lappa Anging Parepare.


















