Orang Belanda Membaca Sejarahnya, Refleksi Agustusan di Leiden

“Jiwa Patriotisme, Dibalut Politik Identitas Budaya”

Orang Belanda Membaca Sejarahnya, Refleksi Agustusan di Leiden

OPINI – PIJARNEWS.COM — Kesan pertama yang saya temukan ketika menginjakkan kaki di bandara Ischipool Amsterdam Belanda, adalah negara maju. Belanda merupakan salah satu negara Eropa yang sangat stabil tingkat perekonomian masyarakatnya.

Pemerintah dapat mengontrol laju dan pergerakan ekonomi warganya, sehingga tidak tumpang tindih, ekonomi masyarakat bergerak sejajar tidak timpang, cenderung stabil, sehingga sosial-gap dalam strata kehidupan sangat sulit ditemukan di Belanda.

Standar dan sistim dan pergerakan ekonomi di Belanda menganut sistim terbuka yang sangat tergantung pada perdagangan Internasional, dengan rata-rata pendapatan per kapita orang Belanda adalah € 32,827.99 per tahunya, jika dirupiahkan sekitar Rp558 juta lebih.

Jumlah ini sangat besar jika dibandingkan dengan pendapatan perkapita penduduk di Indonesia yang hanya sekitar 60-100 juta, makanya jangan heran uang rupiah yang bertumpuk tebal, jika ditukarkan ke mata uang euro jadinya hanya beberapa lembaran saja…he..he..he..(sedih rasanya).

Namun yang saya ingin bahas dalam tulisan ini, bukan ekonomi, budaya atau mata uang euronya…melihat jiwa patriotisme bangsa Belanda yang tidak pernah merasa bersalah dalam melakukan penjajahan di bumi Nusantara selama berabad-abad lamaya, nah…itu yang menarik.

Boleh jadi sebagian rakyat Indonesia, berasumsi bahwa orang-orang atau pemerintah Belanda itu merasa menyesal telah melakukan penjajahan yang tidak berperikemanusiaan di Indonesia, mengurung, menyiksa bahkan memaksa dan menguasai ekonomi dan perdagangan rakyat Nusantara selama berabad-abad, dengan memberikan bantuan kepada pemerintah daerah bagi yang memiliki situs-situs peninggalan Belanda, bagi saya ini mungkin pendapat dan asumsi yang keliru yang perlu diluruskan.

Bukti sejarah, penderitaan dan kesengsaraan dapat dirasakan bangsa Indonesia selama masa penjajahan Belanda selama 350 tahun, yah…sekitar 8-9 generasi rakyat Indonesia berada dalam bayang-bayang cengkraman kekuasaan orang Belanda.

Jika dilihat kebesaran bangsa Belanda yang hanya memiliki luas wilayah 41.543 km2,  lebih kecil dari Propinsi Jawa Timur yang mencapai 47.927 Km2 atau luas Propinsi Sulawesi Selatan 46.717 Km2, dengan jumlah penduduk Belanda sekitar 17,02 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang hanya sekitar 0,5%, 1/3 dari negaranya adalah lautan (berada di bawah permukaan laut), jika ditarik ke belakang sekitar 350 tahun yang lalu, boleh dikata penduduknya hanya segelintir saja, jika dibandingkan negeri Nusantara yang besar dan luas.

Negara Belanda adalah bangsa kecil dan penduduknya berjumlah sedikit, namun bisa menjajah negeri Nusantara selama berabad-abad lamanya, mereka datang dari negeri Eropa yang jauh, mengarungi lautan berbulan-bulan, guna ingin mencari kehidupan dan kekayaan untuk membangun negaranya yang sering kebanjiran, karena letaknya yang berada di permukaan air laut, sehingga ada anekdot yang mengatakan….”Negara Belanda itu miskin, namun dia kaya karena Indonesia”.

Upaya kolonialisme bangsa Belanda pada awal penjajahan di Nusantara, menjadi hal yang sangat membanggakan rakyat Belanda, sehingga tertanam dalam jiwanya sebuah semangat patriotisme dan nilai-nilai luhur masyarakat Belanda, dari negeri yang jauh, merupakan negara kecil yang sering kebanjiran, mampu mengarungi lautan berjuta-juta mil jaraknya dengan semangat ingin membangun negara…..hhhhmmmm, seakan menjadi cerita patriotisme (seperti cerita kepahlawanan Gatot koco) yang tetap dipelihara sampai sekarang.

Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa karya-karya sastra dunia yang berjumlah ratusan ribu naskah masih tersimpan baik di perpustakaan Universitas Leiden yang sangat terkenal, hampir setiap bangunan klasik di Belanda tertulis beberapa puisi-puisi dunia, termasuk Chairil Anwar.

Semangat patriotisme rakyat Belanda ini terus dilanjutkan, walaupun dengan cara yang berbeda, diantaranya dengan memberikan bantuan dana pemeliharaan dan perawatan situs-situs pada masa pendudukan Belanda di Nusantara pada berbagai wilayah di Indonesia, dengan kata lain.

Anak-anak Belanda jika ingin mengetahui bagaimana perjuangan dan jiwa patriotisme kakek moyang dan para pendahulunya…..yah hanya datang ke Indonesia saja sudah cukup memberikan, menceritakan bahkan membuktikan siapa pendahulu mereka…..sehingga mereka akan bergumam dalam hatinya……orang Belanda memang jago dari dulu sampai sekarang….he…he…he…

Apa yang dilakukan pemerintah Belanda ini, menjadi sebuah strategi politik identitas tentang semangat patriotisme rakyat Belanda yang dibalut Budaya.

Maka jangan heran, jika ingin belajar sejarah tentang Indonesia, siapa saja….yah harus ke Belanda, ke Universitas Leiden sebagai gudangnya manuskrip di dunia. (*)

 

Penulis: Dr Ali Halidin, Dosen IAIN Parepare

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda