OPINI : The New Normal, Alasan Pembatalan Keberangkatan Haji Abu Yazid

agus muchsin
Oleh : Agus Muchsin*

OPINI — Setelah menunggu antrian dalam kurung waktu lama bagi calon jemaah haji Indonesia, tahun ini dinyatakan oleh pemerintah melalui Kementrian Agama, batal untuk diberangkatkan akibat pandemi virus corona. Alasan rasionalnya, karena belum ada indikasi dari Arab Saudi akan membuka akses bagi calon jemaah haji tahun 2020 untuk negara lain.

Penundaan pemberangkatan tersebut, oleh sebagian calon jemaah dianggap terlalu dini, tanpa lebih awal menunggu keputusan Arab Saudi. Namun pemerintah melalui Kementrian Agama RI berkeyakinan tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan persiapan layanan calon jemaah, meski dalam beberapa pekan kedepan Arab Saudi membolehkannya.

Kebijakan pemerintah tentang pembatalan keberangkatan haji tahun 2020, diakui menuai kekecewaan atas jemaah terutama bagi usia lanjut, yang entah tahun berikut masih memenuhi persyaratan kemampuan fisik.

Sekadar mengurangi rasa kecewa, tulisan ini mengingatkan satu kisah seorang ulama bernama Abu Yazid Al Bustami, saat melakukan perjalanan haji dari Persia. Setiba di Bashra sempat berziarah ke salah seorang ulama bernama Syekh Darwis. Ringkas cerita, pembicaraan dalam pertemuan itu meminta Abu Yazid mengurungkan niat untuk mendatangi Baitullah.

Abu Yazid al-Bustami adalah sufi abad III Hijriyah berkebangsaan Persia, lahir tahun 804 M/188H. Namanya dalam literatur tasawuf ditulis dengan Bayazid Bastami (بايزيد بسطامى). Nama ini populer setelah dikaruniai seorang putra bernama Yazid, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Abu Yazid (Arti: Ayah Yazid).

Berikut ringkasan kisah pertemuan Abu Yazid al Bustami dengan Syekh Darwis;

Naskah
–ist–

Artinya:
Abu Yazid Al Bustami hendak melakukan perjalanan ke Ka’bah untuk menunaikan haji, ketika tiba di Bashrah, Al Bustami berziarah ke seorang sufi yang cukup dikenal penduduk Bashrah. Al Bustami di tanya oleh sufi yang bernama Syekh Darwis. Apa yang engkau inginkan wahai Abu Yazid?
Abu Yazid: aku ingin ke Mekah berziarah di Baitullah. Darwis bertanya: Apakah engkau memiliki bekal dalam perjalanan ini? Abu Yazid menjawab. Ya. Darwis bertanya: Berapa banyak? Abu Yazid berkata: 200 Dirham. Darwis berkata: Berikan padaku dirham itu, dan tawaflah mengelilingiku sebanyak 7 putaran. Abu Yazid pun memberikannya dan berkatalah Darwis: wahai Abu Yazid hatiku adalah Baitullah demikian juga Ka’bah adalah Baitullah. Sambil menjelaskan perbedaannya, bahwasanya Allah tidak pernah masuk di Ka’bah semenjak di bangun, akan tetapi Dia (Allah) tidak pernah keluar dari hatiku semenjak dijadikannya.

Kisah di atas menarik untuk di analisis dengan berdasar pada alur cerita dan background kajian dari dua sosok tokoh tersebut, dengan paradigma sebagai berikut:
1. Abu Yazid Al Bustami dan Darwis adalah tokoh sufi dan filsafat.
2. Kisah tersebut bernuansa Tasawuf dan Filsafat yang terkolaborasi dengan kajian Fikhi.
3. Abu Yazid memilih membatalkan keberangkatannya karena didominasi oleh kajian filsafat dan tasawuf
4. Abu Yazid mengurungkan niat berziarah ke Baitullah setelah berdiskusi dengan Syekh Darwis tentang esensi Baitullah (rumah Allah), yakni antara Ka’bah dan hati (qalb) hamba yang senantiasa mengingat Allah swt.
5. Kisah menggiring pada asumsi bahwa hati seorang hamba yang senantiasa berdzikir lebih mulia dari makhluk lain.
6. Kisah ini masih dalam kontrol kajian Fikhi karena tidak menganggap bahwa Abu Yazid telah menunaikan haji setelah bertawaf mengelilingi Syekh Darwis sebanyak tujuh (7) kali.

Kisah di atas membuka tabir keilmuan dalam Islam yang selama ini diwarnai kecenderungan untuk tidak menerima disiplin ilmu lain. Ahli Fikhi (fukaha) enggan melegitimasi ilmu tasawuf, atau sebaliknya ahli tasawuf (sufi) menolak keberadaan ilmu Fikhi.

Batalnya keberangkatan calon jemaah haji tahun 2020 akibat merebaknya virus Covid 19, sebaiknya dikaji dengan ragam pendekatan keilmuan, dengan mengkolaborasikan antara Fikhi, Tasawuf dan Filsafat sehingga, perbedaan atas konklusi ilmiah, dapat dipahami berdasarkan metodenya (manhaj), atau dijadikan referensi untuk memilih aktivitas ibadah yang memiliki nilai sama.

Dengan demikian, alternatif terhadap batalnya keberangkatan haji tahun 2020 ini, sebaiknya dikonsentrasikan pada kegiatan Riyadha Al Nafsi (latihan penempaan jiwa), sebagai upaya menghidupkan hati, melalui zikir, dan banyak melakukan ziarah ke ulama yang senantiasa berdzikir pada Allah swt., karena esensi pelaksanaan haji akan tercapai melalui ibadah tersebut. (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News