Opini: Tentang Amarah dan Kekuasaan

Jangan pernah menganggap sepele amarah. Seorang diktator sulit bertahan lama karena kekuasannya biasanya diakhiri oleh amarah masyarakatnya sendiri, apalagi dalam kondisi politik yang penuh gonjang-ganjing dan ketidakpastian, masyarakat mulai menduga-duga, menyelidik dan berprasangka dengan liar, amarah yang terakumulasi bisa melumat semua yang ada dihadapannya

Kemarahan, kata Niza Yanay berbeda dengan kebencian, Marah bersifat destruktif, namun transformatif. Perubahan-perubahan besar kerap datang dari amarah yang memuncak, Reformasi 1998 adalah satu diataranya.

Sementara kebencian lebih bersifat merusak, ia tidak keluar dari akal sehat, dan tercipta dari ketidaksukaan yang membabi-buta.

kekuasaan yang menabrak adat serta kebiasaan masyarakatnya akan menimbulkan perlawanan, sebab intimidasi, hak yang dirampas, serta masyarakat yang was-was karena selalu diawasi dimana-mana akan berujung pada kegaduhan politik dan pemerintahan yang bisa adalah karena munculnya sifat ‘naudzubillah’ diktator pada penguasanya.

“Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati” tulis Pramoedya A Toer dalam bukunya, saya terbakar marah sendirian.

Tuhan mungkin sangat mencitai kita, di bulan Ramadhan yang penuh cinta dan kasih ini, ia memperlihatkan banyak hal yang membuat kita sadar bahwa kekuasaan tak selalu berpihak kepada kepentingan masyarakatnya.

Kebijakan-kebijakan bisa saja dikeluarkan dari ego pribadi untuk menguntungkan kelompok sendiri dan melanggengkan kekuasaan. Rasa-rasanya kita sama-sama terkejut saat siaran radio untuk berbuka puasa diseragamkan dan hanya dimonopoli oleh satu siaran saja.

Bukankah lebih baik jika penyeragaman dilakukan untuk semua siaran radio karena masing-masing stasiun radio punya segmentasi pendengarnya masing-masing ? dan bukankah ada banyak hal yang lebih baik diurusi ketimbang mencampuri hal-hal kecil seperti pilihan masyarakat dalam mendengar suara radio ?

Kita pun semakin dikelilingi tanda tanya saat seorang ulama dicekal setelah menyampaikan pendapat berdasarkan hadits dan ayat suci Al-Quran yang diyakini kebenarannya karena mungkin dianggap bisa menyadarkan masyarakat soal “benar” versi penguasa yang selama ini dipraktikkan sehari-harinya. Bukankah benar juga bisa berasal dari kesalahan yang diulang-ulang ?

Walapun terlalu jauh, namun kita bisa mengambil contoh pada fakta jika matahari mengelilingi Bumi pun adalah repetisi dari kesalahan yang terus berulang sehingga dianggap menjadi sebuah kebenaran ratusan tahun yang lalu yang kemudian dianulir oleh Nicolaus Copernicus yang beranggapan bahwa Bumi lah yang mengelilingi Matahari. Karena lebih logis dan didasari atas sejumlah fakta dan didukung oleh referensi yang lebih kuat, maka teori bumi mengelilingi matahari lah yang kemudian dipercaya sampai sekarang.

Tidakkah mata kita semakin terbuka setelah kejadian-kejadian dalam sebulan terakhir ini?

T. Snyder dalam bukunya On Tyranny: Twenty Lessons from the twentieth Century yang diulas majalah Tempo baru-baru ini menekankan dalam pelajaran pertama dari 12 pelajaran yakni “jangan buru-buru patuh”.

“Adalah salah jika mengasumsikan penguasa yang menaiki kursi kekuasaan melalui institusi demokratis tidak mengubah atau menghancurkan institusi itu sendiri,” ulas Majalah Tempo

Sebagian menganggap demokrasi adalah sebuah pesta sementara yang lainnya lagi menggapnya sebagai sebuah ritual, dan laiknya sebuah pesta mari kita menghangatkan lantai dansa dan bersenang-senang menyambut peluang suksesi yang baru, tapi seperti dalam menjalankan sebuah ritual, hati-hatilah sebab salah bertindak maka pedihnya akan lama kau tanggung.

Kecerdasan tanpa cinta pernah menciptakan sebuah teror yang dibalut teater demokrasi penuh sandiwara namun diakhiri dengan amarah oleh masyarakatnya sendiri setelah bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya, bukankah kita bisa mengulanginya lagi 2018 mendatang dalam sebuah suksesi kepemimpinan di kota kecil kita yang kita cintai dan sedang berkembang ini ? (***)

Risal Akbar / Ra
Alumni Teknik Energi Politeknik Negeri Ujung Pandang
Tulisan lainnya berserakan di portal online Kompasiana dan Hipwee, serta kolom opini media cetak lokal Makassar

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda