• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 12 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI; Social Distancing, Dominasi Kekuatan Fatwa dan Filsafat

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
26 Maret 2020
di Opini
Agus

Oleh : Dr Agus Muchsin, M.Ag*

OPINI — Slogan lucu, menggelitik terbaca melalui facebook “bersatu kita sakit bercerai-berai kita sehat”. Ibarat sebuah kaidah umum (al qawa’id al kulliyah), maka keberlakuannya temporal oleh karena adanya slogan umum dan sifatnya mendasar (asasiyah) “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Motif dua slogan di atas sebenarnya berbeda, satu untuk lelucon dan yang lainnya untuk menumbuhkan semangat perjuangan dan persatuan untuk mengusir dan mempertahankan negara dari tekanan kolonialisme. Di era merebaknya penyakit corona maksud dari jargon ini adalah bersatu untuk melawan virus covid 19, namun bukan dengan kekuatan alutista tapi dengan kesadaran untuk stay at home dan menghindari tempat ramai dikunjungi orang (social distance).

Kerakter orang berbeda, entah karena ingin menghibur atau karena dinamisasi pemikiran yang terus berkembang, seiring dengan perubahan perilaku sosial yang tidak luput dari perkembangan teknologi informasi maka sebuah jargon memberikan dukungan terhadap social distance.

Corak kalimat dengan pola logika terbalik dari biasanya, menyarankan untuk menghindar dari keramaian seperti pada klausa bercerai berai kita sehat. Sebuah pesan terkonstruk untuk memaknai hidup universal bukan individual, seperti yang dipahami oleh sekelompok orang egois.

Berita Terkait

Covid-19 Berlalu, Warga Tanete Ini Masih Hidup Dalam Pilu

Pandemi Covid-19 Masih Ada, Muncul Varian Arcturus

Tahan Laju Kenaikan Covid-19, Pemerintah Kembali Memperpanjang PPKM Level 1 di Seluruh Wilayah Indonesia

Aspek Hukum Aplikasi Peduli Lindungi: Menyelaraskan Kesehatan Masyarakat dengan Hak Privasi Individu

Klaim atas hidup adalah miliknya sendiri, kalau dia sakit maka dia sendiri yang merasakan. Mereka tidak menyadari bahwa penularan virus covid 19 juga membahayakan hidup orang lain.

Perubahan pesan pada slogan di atas mengingatkan pada satu teori konstruksi hukum yang banyak digambarkan dalam khazanah keilmuan Hukum Islam. Ibnu Qayyim al Jauziyah menyebut sebagai perubahan hukum (pembaharuan hukum) seperti dalam kaedah disebutkan تغير الاحكام مع تغير الازمان والامكنة (perubahan dari sebuah hukum didasari oleh perubahan waktu dan tempat).

Teori perubahan ini, dalam Islam berawal dari adanya dua aliran pasca wafatnya Rasulullah saw, yakni al Madrasah al Hadits (المدرسة الحديث) dengan karakter pemahamannya terkesan tekstual dan al Madrasah al Ra’yi (المدرسة الرءي) dengan kontekstualnya.

Tekstual mesti didahulukan atas kontekstual, karena pesan agama disampaikan melalui teks, namun bukan berarti bahwa pemahaman kontekstual diabaikan, seperti pada aliran madzhab al dzahiriyah yang tidak menerima selain dari tuntutan makna (المقتضي المعني). Alasannya sederhana karena budaya Arab berbeda dengan Nusantara, contoh transaksi barter yang legal adalah Dinar dan Dirham, bukan Rupiah.

Pemahaman konteks inilah kemudian memaksa bagi para ulama Ushul al Fiqh untuk membuat rambu-rambunya karena dikhawatirkan akan terlalu jauh dari makna teksnya. Karena itu, pemahaman teks diawali dari penentuan qath’iy al dalalah (sesuatu yang maknanya jelas) atau dzanny al dalalah (sesuatu yang bisa difahami hanya melalui interpretasi).

Peluang untuk pemahaman teks hanya pada persoalan dzanni al dalalah. Maka fenomena pemahaman hukum dikalangan ulama pun berbeda disebabkan metode pendekatan hukum (istinbath hukum) dan pendekatan filosofis yang variatif.

Bagi Islam, ini membanggakan namun jika tidak diikat dengan kekuatan hukum melalui legislasi atau fatwa maka akan sangat berbahaya. Perubahan ini penting untuk diidentifikasi melalui dua kriteria perkembangan hukum Islam yakni; materi hukumnya (syari’ah) dan formil hukumnya (tasyri’). Fatalnya masyarakat belum mampu membedakan keduanya, bagi mereka hanya satu terma yakni syari’ah.

Ragam pendapat dengan persepsi berbeda adalah hal biasa, terlebih jika masuk dalam ranah filosofis yang syarat dengan sederetan aliran untuk menguak kebenaran. Namun ketika ragam kebenaran itu tidak dikuatkan maka masyarakat akan bingung, bahkan akan melahirkan kegaduhan.

Perdebatan tentang implikasi social distance terhadap nilai hidup secara universal cukup menjadi bukti akan dominasi filosofis, mulai alasan ekonomi, kesehatan, budaya, hingga agama. Kesemuanya melahirkan corak pemikiran berbeda, namun selanjutnya disadari oleh pemerintah dan ulama bahwa ini bukan lagi pada ranah adu teori, melainkan perlu tindakan untuk mengeluarkan putusan/fatwa berisi himbauan, yang oleh majelis disepakati memberikan manfaat. (*)

Terkait: CoronaCovid-19Social Distancing

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

BeritaTerkini

Pelayanan Publik 2025,Parepare Raih Opini Kualitas Tinggi dari Ombudsman RI

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Pimpin Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026, Kapolres Sidrap: Persiapan Matang Sangat Dibutuhkan

Pimpin Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026, Kapolres Sidrap: Persiapan Matang Sangat Dibutuhkan

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Panen Bersama Petani di Lasiwala, Bupati Sidrap Mengaku Terharu Karena Ini

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Berbagi di IWD 2026, Koalisi Perempuan Indonesia dan PWI Pangkep Gaungkan Pesan Perlindungan Perempuan

Editor: Muhammad Tohir
12 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan