OPINI: Nurani Guru di Hari Pertama Tahun Ajaran Baru

Goresan Pena : Ummu Fikri (Pendidik di Madrasah)

Judul Lagu: Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari ini hari pertamaku
Hari pertama masuk sekolah
Senangnya hatiku diantar ayah ibu
Pergi berangkat ke sekolah
Senangnya hatiku bertemu teman baru
Guru baru tentulah ramah
Ayo sekolah
Ayo sekolah

Lagu di atas adalah gambaran suasana yang seharusnya terjadi di hari pertama tahun ajaran baru. Lagu yang menggambarkan rasa senang yang tiada tara kala pertama masuk sekolah, setelah libur lama.
Senin, 13 Juni 2020 adalah tahun ajaran baru dimulai. Tahun-tahun sebelumnya sebelum pandemi, semua bersuka cita dalam menyambut hari pertama masuk sekolah. Walaupun tak semua, biasanya terlihat ada yang baru, kelas, buku, pensil, tas, penghapus, bahkan ada yang menggunakan seragam baru.

Guru bahagia, pun dengan siswa. Setelah libur tahun ajaran, seolah hari pertama menjadi ajang pelepas rindu. Anak siswa kelas 1 (satu) terlihat ada yang masih enggan berpisah sementara waktu dengan ibu atau ayahnya yang mengantar. Atau kadang terlihat  senyuman yang terlihat masih sedikit malu menghiasi wajah lugu.

Anak kelas dua sampai kelas enam, semenjak pagi berlomba dengan datang lebih pagi untuk mendapatkan tempat duduk sesuai posisi dan teman yang diinginkan.
Yah, itulah gambaran terjadi saat belum ada pandemi. Namun pagi ini keceriaan itu tak kami temui. Pagi ini berbeda, nurani ini seolah ingin menangis,  kemana suasana ini, kemana ceria anak-anak yang biasa terjadi.
Pandemi telah mengubah pola kebiasaan yang terjadi. Sudah hampir empat bulan Indonesia sedang mengalami masa yang dirasakan begitu berbeda dengan masa sebelumnya. Belajar dibatasi, berkumpul dibatasi, bahkan bertatap muka pun dibatasi.

Akhirnya pembelajaran jarak jauh pun dilakukan pada masa pandemi  ini.
Padahal pembelajaran jarak jauh ini sungguh tak lepas dari masalah. Dilansir dari kompas.com edisi 13 Juli 2020,  Permasalahan yang harus dihadapi terutama terkait infrastruktur, seperti listrik, dan jaringan internet. Selain itu faktanya masih banyak keluarga yang belum memiliki gawai sebagai sarana untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh ini. Pengamat Pendidikan Darmaningtyas menilai, PJJ tidak mungkin berjalan dengan baik.
Pandemi ini telah mengubah kebiasaan dan budaya yang senantiasa kita lakukan. Kebiasaan yang kadang menjadi sebuah kesulitan. Pola pembelajaran yang saat ini dilakukan baik daring atau pun pembelajaran jarak jauh pun kadang tak sesuai dengan harapan.  Melalui pembelajaran daring pun  seorang guru tetap  harus memiliki marwah sebagai pendidik. Sosok yang tetap harus dihormati dan tentunya selalu ada di hati dan di nanti. Karena seorang siswa tetap harus menghormati guru dalam kondisi apapun dan dimana pun.

Mengutip nasihat Imam Al Ghazali  bahwa adab murid terhadap guru diantaranya,  mendahului berucap salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru dengan mengatakan “pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman saat di dalam majlis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara,  tidak secara  terang-terangan  karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan, dan terakhir tidak mengajukan pertanyaan kala guru sedang lelah.

Semoga pandemi ini cepat berlalu, kita akan kembali pada kenormalan yang sesungguhnya. Wahai para siswa ibu pun rindu kalian, rindu belajar bersama, tertawa bersama, dan rindu melewati sebagian hari dengan kalian. Terus berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Amin. (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News