• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 14 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI: Nilai Simbol dan Sapi Perahan Kapitalisme Perayaan Idul Fitri

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 April 2024
di Opini

 Oleh: Multazam. R

 (Anggota Lingkar Studi Aktivis Filsafat (LSAF) An-Nahdliyyah)

 

Beberapa waktu lalu, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Beragam cara yang dilakukan oleh umat Islam untuk menyambutnya. Mempersiapkan bahan-bahan dapur dan membersihkan rumah adalah sebagian dari cara yang dilakukan tersebut. Hari Raya Idul Fitri menjadi momen untuk kembali kepada diri yang fitrah, mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Tidak hanya itu, perayaan Idul Fitri juga merupakan manifestasi atas kemenangan umat Islam dalam melawan hawa nafsunya selama kurang lebih sebulan. Selama waktu itu, puasa dilakukan sebagai kewajiban menahan diri dari hal-hal yang sifatnya materil dan non materil. Akan tetapi, bagaimana kiranya jika perayaan Idul Fitri hanya dimaknai secara simbolis belaka? Puasa yang dilakukan selama kurang lebih satu bulan justru tidak menjadi ajang pembiasaan untuk mengekang nafsu.

Berita Terkait

Malam Terakhir Ramadan, Remaja Masjid Nurul Huda Ujunge Menunggu Pengumuman Lomba Festival Anak Saleh

Khutbah Idul Fitri : Puasa Harus Menjadi Sumber Kekuatan Spiritual Mempertahankan Akhlak Mulia

Jalan Amal Bakti, Nuansa Pasar Takjil Bagi Mahasiswa IAIN Parepare

Mudik Tahun Ini Lebih Padat, Dishub Sulsel Prediksi Kenaikan 35 Persen

Nilai Simbol dan Masyarakat Konsumerisme

Nilai simbol pertama kali diperkenalkan oleh Jean Baudrillard. Menggantikan nilai guna dan nilai tukar yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh Karl Marx. Nilai simbol dimaksudkan sebagai perilaku manusia yang menggunakan produk sebagai prasyarat untuk memperoleh ‘simbol’ di lingkungan masyarakat. Simbol inilah yang kemudian menjadi dasar keyakinan – menggunakan produk untuk mengasosiasikan diri terhadap kelas masyarakat tertentu. Maka dengan nilai simbol, kebutuhan manusia tidak lagi berdasarkan pada aspek kerbermanfaatannya, melainkan atas citra simbol yang dibangun atas pemakaiannya.

Menurut Jean Baudrillard, masyarakat hari ini telah menjadi masyarakat yang konsumerisme. Pembedaan antara orang kaya dan miskin sukar diketahui. Ramalan Marx mengenai kesadaran kelas proletar yang akan semakin meningkat justru menjadi kesadaran semu, nilai-nilai kelas masyarakat borjuis telah terinternalisasi dalam diri kelas borjuis.

Golongan masyarakat dari kelas perekonomian menengah ke bawah rela mengeluarkan uang banyak demi membeli produk yang mahal. Penggunaan gawai Iphone misalnya menjadi fenomena yang mulai kita lihat, terutama di kalangan remaja. Bahkan tidak jarang mereka merengek kepada orang tuanya untuk dibelikan bahkan sebagian dari mereka rela ‘menjual diri’ hanya untuk membeli gawai Iphone.

Setelah ditelusuri, penggunaan gawai Iphone hanya untuk mengikuti tren kamera 0.5 yang tengah terjadi. Ketakutan akan ejekan seperti anak yang ketinggalan zaman membuat para remaja mau tidak mau untuk mengikuti tren yang tengah terjadi. Fenomena ini disebut dengan FOMO (Fear Of Missing Out), yakni kecenderungan untuk mengikuti tren zaman. Fenomena inilah yang dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam menjelaskan nilai simbol dan masyarakat konsumeris.

Lantas bagaimana kaitannya antara nilai simbol dan masyarakat konsumerisme pada perayaan Idul Fitri? Pembaca mungkin menyadari, mayoritas umat Islam mengenakan pakaian yang serba baru pada saat perayaan Idul Fitri. Hal tersebut tidak lain salah. Akan tetapi perayaan Idul Fitri tidak boleh dimaknai secara simbolis material belaka. Pemaknaan secara simbolis justru melanggengkan kebiasaan masyarakat menggunakan produk secara buta sehingga melahirkan masyarakat konsumerisme.

Menjadi Sapi Perahan Kapitalisme di Hari Raya Idul Fitri

Perkembangan dalam bidang iptek menjadi faktor yang sangat penting bagaimana masyarakat menjadi sapi perahan kapitalisme. Sapi perahan merupakan metafora atas manusia yang dijadikan objek keuntungan bagi para kapitalis. Sebagai sapi perahan, kapitalisme memanfaatkan kehendak buta dalam diri manusia yang hanya mengenal untung-rugi, mencari kesenangan semu dengan jalan yang serba materialis.

Sebelum hari raya Idul Fitri tiba, pusat-pusat perbelanjaan akan sesak dengan para pengunjung. Mereka rela antri dan berdesak-desakan hanya untuk membeli baju, celana, aksesoris perlengkapan dan lain sebagainya. Tujuannya satu, yakni berpenampilan berbeda dengan yang lain pada saat hari raya Idul Fitri. Secara tidak langsung mereka menegaskan eksistensi kelas sosialnya.

Salah satu cara untuk menarik simpati konsumen yakni menawarkan produk dengan harga yang relatif terjangkau. Produk dengan harga yang relatif murah merupakan strategi kapitalisme untuk memutar modal. Modal yang diperoleh inilah yang kemudian dijadikan sebagai modal baru untuk memproduksi produk yang baru pula.

Penulis melihat perayaan Idul Fitri hanya dijadikan sebagai ajang perlombaan. Bagaimana tidak, masyarakat saling mempertunjukkan pakaian dan aksesorisnya yang serba baru. Seperti pada penjelasan sebelumnya, bahwa masih banyak pakaian dan akseseoris yang sangat layak untuk dipakai yang justru memenuhi lemari.

Hari raya Idul Fitri semestinya dimaknai sebagai hari untuk kembali kepada diri yang fitrah. Sangat miris kiranya jika perayaan Idul Fitri hanya dimaknai secara simbolis materil. Bukankah Islam telah mengajarkan agar tidak terlalu berlebih-lebihan, terutama terhadap hal yang sifatnya kebendaan. Setelah berpuasa selama kurang lebih sebulan, perayaan Idul Fitri justru harus menjadi kemenangan atas sifat ketamakan dan kikir. (*)

Opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan

Terkait: Ramadan 1445 H

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

BeritaTerkini

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

Liga Ramadan 2026 Berakhir, Sekda Parepare: Jaga Semangat Pembinaan

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Pedagang Ikan di Pinrang Dipaksa Setor Rp3 Juta per Tahun, Tak Bayar Meja Jualan Dibongkar

Pedagang Ikan di Pinrang Dipaksa Setor Rp3 Juta per Tahun, Tak Bayar Meja Jualan Dibongkar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan