Opini; Menumbuhkan Budaya Baca di Sekolah Dasar

Penulis: Ikawati Iskandar 

Pengetahuan adalah investasi paling mahal. Dan paling murah mendapatkannya adalah dengan membaca – Najwa Shihab (Duta Baca Indonesia)

Budaya baca kita sebagai Indonesia cukup memerihatinkan. Berdasar studi bertajuk Most Littered Nation in the World (WMLN) oleh Central Connecticut State Univesity (CCSU) pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai literasi.

Central Connecticut State University merupakan universitas negeri yang didirikan pada tahun 1849, universitas tertua di Connecticut, Amerika Serikat dan didanai publik. Studi tersebut menjelaskan peringkat diberikan pada negara bukan berdasar pada kemampuan rakyat membaca melainkan perilaku literasi (pemahaman) rakyat dan sumber pendukungnya di negara tersebut. Peringkat didasarkan pada lima kategori yakni: perpustakaan, surat kabar, input dan output pendidikan, dan ketersediaan komputer. Pendekatan multidimensi terhadap kualitas literasi ini berdasar kepada kekuatan sosial, ekonomi, dan pemerintahan negara-negara di seluruh dunia.

Kondisi ini seolah menegaskan data yang dipublikasi Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2006 yang menunjukkan masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).

Bersama pemerintah, tidak dapat dimungkiri bahwa masyarakat berusaha menciptakan instrumen literasi strategis guna menumbuhkan budaya baca rendah itu. Gerakan literasi nasional dan visi nasional Indonesia gemar membaca 2019 diluncurkan pemerintah untuk memberikan penguatan kepada masyarakat dan pemerintah di daerah dalam mengembangkan budaya baca.

Tidak sampai disitu, pemerintah juga menggalakkan gerakan Literasi Nasional Pos Indonesia yang bermaksud untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap buku dan mendukung pemerataan pendidikan melalui budaya literasi. Masyarakat dapat mengirim buku bebas biaya di setiap Kantor Pos seluruh Indonesia setiap tanggal 17 setiap bulannya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengapresiasi Program Gerakan Literasi Nasional yang memberikan fasilitas gratis pengiriman buku melalui pos. “Teman-teman, tiap tanggal 17 kita bisa donasikan buku lewat Kantor Pos dengan ongkos kirim gratis. Ayo sebarkan buku dan pintarkan bangsa!” ajak Bapak Menteri Rudiantara.

* Keberadaan guru di sekolah

Tuntutan kepada semua pihak guna menumbuhkan budaya baca pun lahir, tak terkecuali keberadaan guru di sekolah. Tuntutan yang sejalan tujuan pendidikan nasional guna menghadapi laju perkembangan zaman.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy mengatakan bahwa budaya membaca dan literasi masyarakat Indonesia tertinggal empat tahun dibandingkan dengan negara maju. Ketertinggalan tersebut digambarkan pada siswa SMA kelas 3 (kelas XII) karena kemampuan membaca atau literasinya sama dengan siswa kelas 2 SMP (kelas 8) di sejumlah negara maju.

Bahkan, di sekolah daerah pelosok Indonesia ada siswa hingga mahasiswa masih belum mampu membaca secara lancar dan memahami maknanya. Oleh karena itu, Prof Muhadjir mengemukakan masalah perbukuan dan literasi sangat mendesak.

Membincang keberadaan guru, seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi anak yang berbeda, beragam satu sama lain. Keberagaman yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang anak didiknya adalah perbedaan fisik, seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Mungkin sepintas dua orang dilihat hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyata¬annya jika diamati antara keduanya tentu terdapat kemajemukan.

Menurut Atkinson dkk (1996) ada beberapa perbedaan yang dapat diamati pada individu anak, antara lain yaitu: 1) perbedaan kognitif, 2) perbedaan kecakapan berbahasa, 3) perbedaan kecakapan motorik, 4) perbedaan latar belakang, 5) perbedaan bakat, 6) perbedaan kesiapan belajar, 7) perbedaan jenis kelamin dan gender, dan 8) perbedaan kepribadian.

Disadari bahwa perbedaan-perbedaaan antara satu dengan lainnya dan juga kesamaan-kesamaan di antara mereka merupakan hal yang wajar dan normal. Misalnya, perbedaan kecakapan bahasa anak dapat dipengaruhi oleh bahasa pertama mother tongue yang diperolehnya dari orangtua, perbedaan latar belakang anak menjadikan anak pribadi yang tertutup, dan lain sebagainya.

Terkait budaya baca anak sejak dini, kebiasaan membaca anak perlu ditekankan kepada setiap individu sejak awal. Karena, informasi yang paling mudah untuk kita peroleh adalah melalui bacaan, baik koran, majalah tabloid, buku-buku, dan lain lain. Dalam proses belajar mengajar, mustahil berhasil tanpa adanya “membaca”, oleh guru dan anak didik.

Oleh karena itu, perlu upaya-upaya yang dilakukan agar minat baca dapat tumbuh sejak anak usia sekolah atau bahkan sejak dini. Upaya nyata guru secara sistematis dapat dilakukan dengan: 1) menjadi duta baca di kelas, 2) rutin membaca, dan 3) hadiah buku dan sanksi membaca.

– Menjadi duta baca di kelas

Sehari-hari guru adalah teladan atau model bagi anak didik di sekolah. Sebagai misal, jika guru ingin perilaku sabar anak didik, maka terlebih dahulu guru harus mampu menjadi sosok sabar dihadapan anak didiknya. Begitu juga ketika guru menginginkan perilaku disiplin anak didik, maka guru tersebut harus mampu memberikan teladan terlebih dahulu sebagai guru yang disiplin dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Tanpa keteladanan, anak didik hanya akan menganggap ajakan berperilaku positif yang disampaikan sebagai sesuatu yang omong kosong belaka, yang pada akhirnya karakter yang diajarkan tersebut hanya akan berhenti sebagai pengetahuan saja tanpa makna.

Begitu pula budaya membaca, dapat bermakna dan berhasil, dengan keseharian guru di sekolah yang gemar membaca, menjadi sosok pertama yang gemar membaca. Guru harus berani menunjuk dirinya sebagai duta baca di kelas yang kegiatan kesehariannya di sekolah, khususnya di kelas, menunjukkan kegemaran dan kecintaan pada buku. Dengan demikian, diharapkan akan menulari anak didik untuk gemar membaca.

– Rutin membaca

Rutinitas merupakan kegiatan yang dilakukan anak didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas untuk mengajarkan budaya antri, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan ruang kelas tempat belajar.

Betapa pentingnya kegiatan rutin (budaya) membaca dalam membentuk budaya baca anak didik. Lima belas menit membaca di awal pembelajaran dapat membantu anak didik menumbuhkan minat baca. Artinya, guru berperan menumbuhkan rutinitas membaca (di awal pembelajaran) bagi anak didik. tentu saja kebiasaan membaca ini dapat dibawa ke perpustakaan dan atau ketika istirahat.
Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa melalui penyediaan sarana fisik yang dapat menunjang tercapainya budaya baca. Contohnya ialah dengan penyediaan perpustakaan sekolah, sudut baca, taman baca, majalah dinding, slogan-slogan mengenai nilai-nilai moral yang mudah dibaca oleh anak didik, hingga papan informasi yang memuat aturan/tata tertib sekolah yang ditempel di tempat strategis sehingga mudah dibaca oleh setiap anak didik.

– Hadiah buku dan sanksi membaca

Apresiasi terhadap prestasi penting dalam menumbuhkan motivasi berprestasi anak didik. Apresiasi biasanya diberikan kepada anak yang memiliki prestasi yang membanggakan, misalnya, juara kelas, mewakili sekolah di event tertentu, mengharumkan nama baik sekolah, panutan di kelas, pemimpin upacara, ketua kelas teladan, dan sebagainya. apresiasi tersebut dapat diberikan dengan sebuah hadiah berupa buku guna mendukung anak dalam prestasi dan tentu saja membudayakan membaca.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda