OPINI: Menjadi Pahlawan di Era Milenial (Refleksi di Hari Pahlawan)

Ummu Fikri

OPINI–10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Bermula dari peristiwa 10 November 1945. Pada saat itu terjadi sebuah pertempuran antara militer Indonesia dengan tentara Inggris dan Belanda di Surabaya, pertempuran itu menewaskan setidaknya 6000 sampai 16.000 pejuang Indonesia. Karena Banyaknya pejuang yang tewas hari itu, maka ditetapkanlah 10 November sebagai hari nasional yaitu Hari Pahlawan, melalui keppres No 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959(prfmnews.id 08/11/2020).

Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Pahlawan nasional diberikan kepada para pejuang yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia, berjuang dalam negara indonesia dan merebut kemerdekaan Republik Indonesia (wikipedia). Saat ini Indonesia tidak dalam kondisi berperang melawan penjajah. Indonesia sudah medeka dan diproklamirkan di tanggal 17 Agustus 1945. Kalimat pertama dalam proklamasi tertulis kami bangsa Indonesia menyatakan dengan ini keerdekaan Indonesia. Itulah penggalan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah memproklamirkan kemerdekaan, maka di tetapkan pula UUD 1948 sehari sesudahnya yang lebih memperjelas bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Dan kalimat Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa merupakan kalimat yang terdapat di alinea ketiga menunjukkan dan lebih meyakinkan kepada kita bahwa kemerdekaan ini pun adalah rahmat dari Allah.

Kemerdekaan Indonesia saat ini sudah berusia 75 tahun. Dalam usia seperti ini sepertinya Indonesia justru dalam kondisi yang memprihatinkan. Betapa tidak saat ini Indonesia memiliki hutang hingga menembus angka USD 413,4 miiar atau sekitar Rp 6.074 triliun. Kondisi tahun 2020 ini kembali naik (liputan6com. 21/10/2020. Apalagi saat ini Indonesia dan dunia sedang mengalami pandemi yang secara faktanya sangat membutuhkan anggaran yang besar, dibarengi dengan petumbuhan ekonomi di akhir tahun ini derada pada angka minus.

Semangat pahlawan sejatinya tidak boleh luntur pada diri kita. Jiwa pengorbanan pahlawan harusnya dijadikan motivasi kita dadlam mengisi kemerdekaan. Kemerdekaan yang didapat bukan hadiah dari penjajah. Begitu banyaknya nyawa dan harta yang hilang untuk membayar sebuah kemerdekaan.

Salah satu masalah yang harus dijadikan renungan dan pemikiran kita adalah terkait masalah korupsi. Saat ini Indonesia menjadi negara ke 85 dari 180 negara. Laporan itu disampaikan saat peluncuran hasil Corruption Perception Index 2019 oleh Transparency International Indonesia (TII) seperti dilansir Berita KPK 24/01/2020). Pelaku korupsi saat ini didominaasi oleh para pejabat dan penguasa yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyatnya, berjung dan berkorban untuk rakyat. Ini malah tega melakukan hal yang hina , menyalahgunakan jabatan yang mereka padahal diawal masa kerjanya telah di sumpah atas nama Tuhan yang diyakininya. Detiknews memberitakan di Bulan juli 2019 bahwa pelaku korupsi terbanyak adalah kalangan legslatif.
Jika kita lihat ddan berkaca kepada sang pemimpin Kholifah Umar bin Khottab, khulafaur rasyidin kedua yang menggantikan Abu Bakar Ash shiddik sungguh tak terbayang. Rela meninggalkan kesenangan dan kenikmatan yang seharusnya dinikmati, karena jabatannya menjadi orang nomor satu kala itu. Namun sang kholifah malah sangat takut dengan jabatanyya sehingga akan ada rakyatnya yang merasakan kelaparan. Beliau rela untuk memanggul gandum untuk diberikan kepada seorang janda yang saat itu tidak makan karena tidak memiliki makanan yang dapat di makan.

Contoh kepahlawanan lain yang dapat kita jadikan suri tauladan adalah seorang Bunda Khodijah. Bagaimana seorang yang kaya raya rela memberikan hartanya untuk perjuangan suami tercinta Rosulullah kala itu, bahkan tak jarang baju yang dikenakan banyak tambalan. Malu jika kita saat ini memiliki koleksi baju yang banyak dan bagus padahal kelak yang kita pergunakan untuk menghadap sang kholik hanyalah kain kafan.

Seperti kisah Mus’ab bin Umair yang sangat mashur. Seorang yang sangat tampan dan kaya raya, terlahir dari keluarga terpandang. Namun karena Islam, rela mengorbankan semua yang sudah dimiliki dan disandangnya menjadi pemuda yang sederhana yang mendedikasikan tenaga dan hidupnya untuk Islam. Bahkan orang madinah pernah mengatakan saat pertama kali bertemu Mus’ab “ seorang laki-laki yang belum aku lihat sebelumnya tidak ada orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah lelaki dari kalangan penduduk surga”. Pengorbanan yang telah dilakukan seorang Mus’ab pastinya bukan pengorbanan yang Cuma-Cuma. Lalu? Apa yang sudah kita korbankan untuk negeri dan agama ini? layakkah kita disebut pahlawan?
Menjadi pahlawan memang bukan perkara yang dapat dibeli dengan uang. Namun sejatinya kita harus belajar dan mengambil hikmah dari setiap cerita dan sejarah orang-orang hebat. Karena pahlawan tidak akan melupakan pengorbanan dan perjuangan pahlawan sebelumnya. “Selamat Hari Pahlawan 10 November 2020”.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News