OPINI: Membangun Ekosistem Literasi

Oleh:

Arni
(Staf Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Makassar)

Survei World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016 merilis tingkat literasi Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara menyadarkan kita bahwa Indonesia memiliki PR besar dalam membangun budaya literasi masyarakatnya.

Data yang dirilis UNESCO tentang minat baca di Indonesia menyebutkan bahwa indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca buku. Sedangkan tahun 2016 studi dari World’s Most Literate Nations (WMLN) yang dilakukan oleh Central Connecticut State University merilis data bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara berdasarkan tingkat literasi internasional.

Pada tahun 2006 UNESCO memberi statement bahwa pemenuhan akan literasi merupakan hak setiap individu. Terpenuhinya hak literasi berarti membuka akses kepada individu untuk mengetahui sains, ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Sayangnya masih banyak masyarakat yang memahami literasi dari konsep konvensionalnya yaitu sebatas kemampuan membaca, menulis dan menghitung semata. Padahal seharusnya literasi dipahami sebagai alat untuk membentuk pengetahuan, memecahkan masalah, berpikir kritis, merdeka, mandiri, dan berkreasi.

Sejauh ini upaya yang dilakukan pemerintah dan penggiat literasi sudah berhasil menaikkan indeks minat membaca masyarakat Indonesia, tetapi masih perlu upaya yang lebih masif dalam mengubah perilaku membaca masyarakat Indonesia agar bisa mengakar.

Upaya dalam meningkatkan minat baca di Indonesia dapat dijalankan dengan melakukan sinergitas antara pemerintah, orang tua, guru, komunitas penggiat literasi, dan masyarakat. Semua elemen yang terlibat dalam gerakan Indonesia Membaca harus membangun ekosistem kerja sama yang baik agar rakyat Indonesia memiliki tradisi membaca yang mengakar.

Pemerintah
Pemerintah sebagai inisiator pendidikan sepatutnya mendorong perubahan agar budaya membaca bisa mengakar pada masyarakat Indonesia. Arah kebijakan dan strategis pendidikan harus mendukung peningkatan literasi dengan memenuhi ketersediaan infrastruktur dan bersinergi dengan institusi sosial penggerak literasi dengan melakukan kolaborasi, koordinasi dan sokongan dana terhadap komunitas-komunitas penggerak literasi.

Perpustakaan sebagai institusi yang dibutuhkan oleh pencari informasi harus mengubah paradigma konvensionalnya, yang dahulu hanya difungsikan sebagai tempat meminjam dan membaca buku diubah menjadi tempat mencari tahu. Di era informasi ini perpustakaan harus adaktif dan responsif dengan perkembangan zaman (user-oriented). Proses adaktif dan responsif dimulai dengan melengkapi perpustakaan dengan infrastruktur teknologi informasi dan menghidupkan perpustakaan dengan membangun ruang-ruang diskusi (topik yang lagi hangat di masyarakat) dan bedah buku serta menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin mingguan perpustakaan.

Melakukan ekspansi perpustakaan dengan memperbanyak perpustakaan keliling seyogyanya juga dijadikan arus utama program pemerintah dan penggiat literasi untuk memenuhi hak dasar masyarakat terhadap ilmu pengetahuan terutama di daerah-daerah pelosok yang kesulitan mengakses bahan bacaan dan daerah yang penduduknya secara ekonomi kurang mampu.

Orang tua dan Guru
Salah satu problem utama mengapa kecintaan terhadap literasi di Indonesia masih sangat kecil karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui minatnya (sastra, budaya, astronomi dll). Membangun budaya membaca tidak hanya sebatas upaya memfasilitasi masyarakat dengan literatur, tetapi membantu masyarakat dalam mengidentifikasi dan menemukan minatnya juga hal yang sangat penting dalam memotivasi individu mau membaca. Menemukan minat juga mendorong rasa keingintahuan individu terhadap apa yang menjadi fokus perhatiannya. Di sini peran orang tua, guru dan volunteer sangat dibutuhkan.
Memasukkan literasi dalam kurikulum di sekolah. Kurikulum literasi dirumuskan sesuai minat masing-masing anak. Diperlukan kecermatan orang tua dan guru untuk mengidentifikasi minat anak agar orang tua dan guru dapat membimbing anak dengan bahan bacaan yang spesifik. Proses mengidentifikasi minat dapat dilakukan dengan membangun ekosistem antara guru dan orang tua agar kedua pihak dapat bertukar informasi tentang sejauh mana minat anak dapat di-cover oleh masing-masing pihak.

Penggiat literasi
Masalah yang dihadapai para penggiat literasi di lapangan adalah bagaimana mempertahankan taman baca agar bisa sustainable (berkelanjutan). Yang terjadi di lapangan, tidak sedikit taman baca yang dikelola oleh para penggiat literasi yang tidak sustainable karena masih bersifat insidentil. Akhirnya kegiatan mendampingi anak-anak dan remaja dalam menemukan minat mereka tidak dapat terealisasi dengan baik. Membangun budaya membaca itu tidak sekadar melisankan narasi motivasi, anak-anak dan remaja perlu didampingi, apalagi pembaca pemula.

Kondisi tersebut dapat kita maklumi karena hampir setiap kegiatan yang dilakukan penggiat literasi dananya berasal dari dana mandiri atau swadaya masyarakat kalaupun dapat penyangga dana dari instansi atau perusahaan alirannya tidak sustainable. Kesiapan para penggiat literasi harus disokong dengan dana yang memadai. Upaya solutif yang bisa dilakukan pemerintah untuk masalah dana adalah membuat arah kebijakan dan strategi pendidikan dengan mewajibkan setiap perusahaan mengalirkan dananya setiap tahun untuk kepentingan literasi.
Menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan masyarakat Indonesia, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab dari masyarakat Indonesia yang ingin melihat bangsanya menjadi bangsa yang berdaulat adil dan makmur. (*)

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

 

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News