OPINI : May Day Dibungkam Pandemi

Sirajuddin
Oleh : Sirajuddin

OPINI — Hari Buruh Internasional atau May Day yang selalu dirayakan setiap tanggal 1 mei setiap tahunnya dengan gebyar parade turun ke jalan direalisasikan dalam demonstrasi menuntut kelayakan, dan perbaikan nasib disuarakan jutaan pekerja.

Namun May Day tahun ini menjadi kontradiktif karena semua harus dihadapi dalam situasi yang berbeda, semangat orasi di hari buruh dibungkam oleh kondisi yang ditunggangi oleh makhluk kecil bernama covid-19 yang berepidemi mengunjuk episentrum yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok.

Pandemi ini dalam sekejap meruntuhkan segala kemapanan di jagat raya. Negeri sebesar Tiongkok, Amerika Serikat, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, dan negara-negara maju yang memiliki segalanya tiba-tiba terpuruk beserta kedaulatannya konspirasi pandemi covid pun merebak.

Suka atau tidak, semua harus tunduk bermuhasabah dan tunduk pada qodrat iradat-Nya pada garis sunatullah yang diciptakan-Nya. Allah berfirman, yang artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS At-Taghabun: 11).

Pernak pernik dan ritual tumpengan dan gelaran tahlilan menyambut hari buruh tidak lagi terlihat terganti cuma bisa mengucapkan happy May Day atau selamat hari buruh di balik dinding rumah sebagai konsekuensi dari stay at home dan penerapan PSBB dan karantina wilayah yang diberlakukan.

Solidaritas dan Ancaman Ekonomi

Direktur Ketenagakerjaan Relawan Jokowi (ReJO) Institute, Mudhofir Khamid dalam siaran pers kepada wartawan, Kamis (30/4/2020). “Jadi perlu memperkuat solidaritas sesama buruh di tengah pandemik covid-19 dengan saling membantu mengatasi kesulitan ekonomi,” kata Mudhofir.

Di masa tersulit yang mengglobal ini, spirit may day seakan menjadi obat dan kita tidak merasa sendiri, sebab ada ribuan tangan-tangan penderma, relawan bansos dari orang orang yang memiliki kelebihan materi akan menghapus air mata pengobat semangat yang meredup dalam pesimisme menghadapi pandemi global.

Data nasional menunjukkan lebih dari 2 juta pekerja Indonesia yang di PHK dan dirumahkan sebagai dampak keterpurukan ekonomi yang didera.

Hanya kurang dari tiga bulan ramalan ekonomi dunia berubah drastis akibat pandemi virus corona. Pandangan sejumlah lembaga internasional sangat pesimistis. Mereka ramai-ramai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi, bahkan hingga minus.

Pakar ekonomi Indonesia bersiap diri menghadapi ramalan muram IMF yang januari lalu dimana lembaga moneter internasional ini masih memperkirakan ekonomi dunia bisa tergopoh gopoh di tahun 2020 ini karena imbas masalah ancaman kesehatan global.

Budaya Baru dalam Interaksi Sosial

Virus corona baru yang kemudian ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan sebutan Covid-19 menerpa dunia hingga kategori pandemi, bukan hanya menerjang manusia yang auto imun atau mempunyai riwayat penyakit penyerta, bahkan mereka yang punya memori vaksin kuat pun menjadi transmisi sakit covid hingga mengantar sampai ujung napas dan kematian.

Virus ini juga menggiring manusia dalam budaya yang baru yang selama ini enteng namun susah untuk digiatkan, bahkan kebersihan sudah menjadi pesan agama, yang sering diabaikan.

Disrupsi digital semakin nyata, menjamur di satu musim seperti saat ini, para pegiat dumay seakan mendapat suplay waktu untuk berlama-lama berhadapan dengan gawai dan booknote dalam keakraban.

Pendidik, pegawai negeri dan swasta berinteraksi dalam Work From Home (WFH) mencari aneka strategi, melengkapi diri dengan aplikasi yang memudahkan kerja daring menghadirkan nuansa keakraban melebihi keakraban semasa sebelum pandemi.

Begitupun dengan usaha ritel merangkak menuju medan digital, berinovasi untuk terus bertahan. Sebagai bentuk respon pada situasi pasar yang kian condong pada cara digital, maka strategi terbaik adalah memulai maksimalkan toko online.

Pandemi global ini mampu memenjarakan jasad kita untuk tinggal di rumah namun tidak akan pernah mampu memenjarakan rasa persaudaraan dan keakraban kita, rekayasa keterampilan dan tekhnologi akan terus dipacu dan akhirnya setiap insan mampu berkamuflase pada zaman yang serba baru ini. (*) 

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News