OPINI : Lontara Paseng, Spirit Etika Tegas dalam Integrasi Budaya Malu

Agus
Oleh : Dr Agus Muchsin, M.Ag*

OPINI — Nilai merupakan sesuatu yang hidup dan menjadi falsafah tentang kaidah dalam konstruksi sosial di Bugis. Filosofi nilai biasanya berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, berkeadilan pada diri sendiri dan orang lain, dengan tetap mengelaborasi beberapa backgraund kepentingan beragam.

Struktur dari nilai itulah kemudian mencerminkan identititas dan integritas serta watak orang bugis dengan sikap tegas mempertahankan siri (malu), seperti pada kajian lontara paseng sebelumnya yakni:

Engka eppa cappa’ bokonna to laoe, iyanaritu saisanna : Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa kallangnge, enrengnge Cappa’ kawalie.

Artinya

(Terdapat empat ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian, di antaranya, yaitu : Ujung lidah, Ujung kelelakian (ujung kemaluan), Cappa Kallang (Ujung pena/ Pulpen), dan Ujung badik/kawali (senjata).

Kajian integrasi antara Islam dan Budaya berikut ini bokong tammetti na ta cappu (bekal yang tidak surut dan tidak habis) adalah cappa kawalie (ujung badik). Term kawali dalam bahasa merupakan sebuah senjata dari logam dengan ujungnya runcing dan tajam, berkarakter lekukan pamor dan syarat dengan nilai spiritual, digunakan untuk melumpuhkan lawan. Senjata ini disakralkan oleh orang bugis, sehingga tidak boleh mencabut dan mengeluarkan dari sarungnya secara bebas.

Cappa kawali pada lontara paseng tersebut secara runut dimaksudkan bahwa itu merupakan bentuk komunikasi terakhir, jika tuntutan berbuntut pada masalah siri (malu) maka solusinya seperti dalam lontara,

Siri’ patuoki rilino, mate siri’ mate watakkale, siri’ku rikeccaki cappa kawali mabbicara.

Artinya;

Hanya dengan siri’ (rasa malu) kita hidup di muka bumi, kalau tak punya siri’ sama dengan mati, jika siri’ diganggu, maka ujung kawali (badik)lah penyelesaiannya.

Filosofi hidup dengan jargon bernuasa etis, yang kadangkala dipahami secara bebas tanpa mengorganisir emosi akan berdampak pada tindakan fatal, karena menganggap sebagai solusi. Konklusi ini terlalu berlebihan namun tuntutan psikologi lontara ini sejatinya menjadi langkah preventif agar menghindari perbuatan berbuntut pada siri (malu).

Malu dalam makna leksikal bahasa Arab ditemukan dua terminologi yakni : pertana al khajlan (الخجلان) artinya malu, dipermalukan, menjadi malu, dan merasa dipermalukan. Kedua, al haya'(الحياء) artinya malu, perasaan malu, dan sifat takut-takut.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News