OPINI : Krisis Ekonomi dan Keuangan Keluarga di Tengah Covid-19

Tamsil Hadi
Oleh : Tamsil Hadi, MM*

Bagaimana cara mengelola pengeluaran keuangan keluarga di tengah dampak Covid-19? Sepertinya kita perlu menerapkan apa yang disebut kebijakan pengeluaran Super Ketat. Komponen belanja yang dikeluarkan harus memenuhi syarat efektif dan efisien. Efektif dalam hal ini artinya kita hanya belanja sesuatu yang dibutuhkan dan mendesak. Adapun efisien artinya kita dalam berbelanja harus pandai memilih barang yang sesuai kebutuhan dengan cara dan harga terbaik. Berangkat dari prinsip-prinsip ini, beberapa langkah praktis bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Menyusun daftar kebutuhan berdasarkan prioritas

Ada baiknya kita membuka kembali pelajaran dasar IPS sewaktu sekolah dasar tentang pembagian jenis kebutuhan manusia. Mari memprioritaskan kebutuhan primer saja dalam rencana belanja yang kita susun secara tertulis. Kita bisa membuat urutan, misalkan nomor 1 (satu) untuk beli beras, nomor 2 (dua) untuk beli air minum, nomor 3 (tiga) untuk beli gas, nomor 4 (empat) untuk beli BBM, dan seterusnya. Meski jenis kebutuhan primer kadang dipersepsikan sebagian orang terus berkembang dan berubah mengikuti jaman. Tapi yang tepat adalah memaknai kebutuhan primer hanya pada hal-hal yang memang berkaitan dengan tujuan mempertahankan hidup. Prioritaskan belanja barang yang jika tidak dimiliki akan menyebabkan kematian atau setidaknya mengancam keberlangsungan hidup kita. Adapun kebutuhan lain yang bersifat penunjang atau sebatas aksesoris hidup, sementara bisa dikeluarkan dulu dari daftar belanja kita.

  1. Estimasi dan Alokasi Anggaran pada Setiap Pos Kebutuhan

Berdasarkan daftar kebutuhan yang telah disusun, kita bisa langsung mengestimasi dan mengalokasikan anggaran yang kita miliki pada pos-pos kebutuhan. Namun alokasi dana yang disiapkan sebaiknya telah dipisahkan dengan dana yang berfungsi sebagai dana cadangan atau dana taktis. Ada kemiripan dengan pembagian pada konsep biaya, dimana kita hanya memasukkan biaya tetap (fixed cost). Adapun biaya variable (variebel cost) itu dibuatkan pos tersendiri. Misalkan, jumlah dana keluarga yang bisa dikelola dalam sebulan Rp. 5.000.000,-, maka kita bisa mengalokasikan Rp. 4.000.000 (80%) masuk ke dalam daftar rencana belanja rutin. Sisanya sebesar Rp1.000.000,- (20%) disisipkan menjadi anggaran yang disiapkan untuk kebutuhan lain yang sifatnya penting juga tapi mungkin belum mendesak atau belum bisa diprediksi, seperti maintenance kendaraan, pengobatan, atau antisipasi jika terjadi shock inflasi.

Kalaupun apa yang dikhawatirkan tidak terjadi dalam satu bulan, maka dana ini bisa berubah fungsi menjadi tabungan. Secara lebih praktis anggaran yang sudah dialokasi ini bisa ditempatkan pada amplop-amplop terpisah yang diberi catatan peruntukkan dan jadwal penggunaannya.

  1. Mengurangi Kunjungan ke Marketplace atau Grup-Grup Dagang

Media virtual telah menjadikan transaksi tradisional model tatap muka mulai tergeser oleh model transaksi online. Ditambah dengan anjuran stay at home saat ini, maka sebagian besar memang penjual dan pembeli melakukan ijab kabul jual beli melalui platform marketplace yang saat ini menjamur. Maka hal yang perlu juga menjadi perhatian untuk mengamankan anggaran keluarga adalah membatasi diri untuk berkunjung pasar-pasar virtual ini. Silahkan sesekali berkunjung jika memang ada barang kebutuhan yang dicari, tapi syaratnya barang itu memang masuk dalam rencana belanja kita. Jika niatnya hanya ingin melihat-lihat maka tidak ada jaminan anda tidak bakal tergoda. Pengalaman penulis ikut pelatihan singkat marketing digital kita didorong menawarkan dengan cara mengemas produk semenarik mungkin. Artinya apa? Penjual produk yang wara wiri di akun sosmed kita paham betul cara menarik hati pembeli sehingga tanpa sadar akan membeli produk mereka yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan.

  1. Tidak Tergiur untuk Mengambil Utang

Hampir semua kita sudah tahu dampak buruk dari utang. Meski dalam situasi tertentu berutang sulit dihindari karena keterpaksaan, tapi tetap saja semua harus bertekad untuk menjauhi utang. Mungkin awalnya hanya coba-coba tapi percayalah bahwa sekali berutang, selanjutnya menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter. Pada saat itu, berutang akan menjadi life style. Ada rasanya yang kurang kalau kita tidak punya utang. Berutang bukan lagi karena kita sangat perlu tapi sudah merasa berutang adalah jalan hidup baik dalam keadaan sulit maupun lapang. Bahaya kalau sudah begini. Di tengah Covid-19, godaan untuk berutang pasti lebih besar. Kalaupun terpaksa berutang itu hanya sekedar untuk kebutuhan pokok yang bersifat mendesak. Upayakan cari pinjaman kepada keluarga terdekat, yang bisa diatur tempo dan tidak bergesekan dengan riba. Hal yang perlu dicamkan, bahwa utang adalah awal dari malapetaka dan hancurnya keuangan kita. Jadi desakan berutang disaat Covid-19 jangan sampai menghilangkan pikiran panjang kita tentang situasi lebih berat jika nantinya kita telah terjebak utang. Terakhir, ada satu kunci menghindari utang ini, pastikan pengeluaran kita tidak melebihi penerimaan. Kunci lain ada pada poin 3 (tiga) di atas.

  1. Komitmen Memegang Prinsip dan Menjalankan Perencanaan

Akhirnya semua berpulang kepada sikap kita masing-masing. Segala macam tips, langkah-langkah, dan teori yang kita pahami hanya menjadi mentah jika tidak ada komitmen besar kita. Dalam kaitannya dengan ini, harus ada keseriusan kita untuk menjalankan apa yang sudah direncanakan secara matang. Kita betul-betul belanja hanya berdasarkan daftar yang sudah dicatat dalam rencana. Kita tidak termakan godaan untuk melepas perekat amplop yang berisi dana peruntukan beras tapi digunakan beli kosmetik, atau tergiur belanja beragam barang tersier di marketplace hanya karena iming-iming diskon, mengharap give away, atau pembayaran bertermin (cicilan).

Semoga tulisan ini bermanfaat. Tentu keadaan sebuah keluarga tidak semua sama sehingga belum tentu langkah-langkah yang disajikan kompatibel dipraktikkan oleh semua keluarga. Ada ungkapan, “jangan mengukur sepatu orang lain menggunakan ukuran sepatu kita” itu ada benarnya, tapi setidaknya tulisan ini berangkat dari apa yang menurut penulis menjadi gambaran yang dihadapi oleh sebagian besar keluarga Indonesia saat ini yang sedang berjuang untuk bisa tetap bertahan di tengah Pandemi Covid-19 dan ancaman krisis ekonomi. Semoga ujian ini cepat berlalu. (*)

*Penulis adalah salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News