Opini; Karena Aku Seorang Guru

Penulis: Rosita Herawati (Pengurus FGMM Parepare)

PIJAR OPINI — Menjadi seorang guru adalah hal yang membanggakan. Bukan karena tunjangan profesinya. Bukan karena profesi guru lebih baik dari profesi penulis sebelumnya, sebagai Sales Promotion Girl (SPG) di sebuah perusahaan rokok terkenal. Tapi profesi guru adalah profesi mulia, memanusiakan manusia. Kalimat “tak ada sosok sukses tanpa sentuhan guru” tentu saja menjadi sebuah motivasi besar.

Penulis mengajar di sebuah sekolah dasar inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah biasa yang menerima anak luar biasa dengan adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian , sarana dan prasarana untuk anak luar biasa tersebut. Sebagai sekolah yang menerima anak didik berkebutuhan khusus, beberapa anak luar biasa (ALB) bersekolah di sana.

Dari tahun 2006, tercatat dua anak pengidap gangguan penglihatan, tiga anak pengidap gangguan komunikasi (communication disorder), dua anak tuna grahita (retardasi mental) yaitu seorang anak mengidap down syndrom yang dikenal dengan penyakit kembar sedunia. Seorang anak didik lainnya mengidap tuna grahita tipe sedang. Beberapa anak lainnya adalah pengidap kesulitan belajar (learning disabilities).



Anak luar biasa (ALB) adalah anak yang menunjukkan keluarbiasaan yang secara signifikan dari anak normal seusianya, baik yang di atas normal maupun di bawah normal sehingga dampak keluarbiasaan tersebut memerlukan pengaturan khusus dalam pelayanan pendidikan. Keluarbiasaan di bawah normal yaitu tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan komunikasi,dan tunaganda. Keluarbiasaan di atas normal dikenal dengan anak berbakat (gifted and talented person). Sayangnya keluarbiasaan di atas normal belum pernah ada di sekolah penulis.

Tunanetra berarti kurang penglihatan. Namun istilah ini lebih sering digunakan untuk orang yang mengalami gangguan penglihatan sehingga fungsi penglihatan tidak dapat dilakukan. Keluarbiasaan seperti ini sudah tentu membutuhkan layanan khusus sehingga anak didik penyandang tunanetra bisa berkembang secara optimal.

Tunarungu diistilahkan untuk penderita gangguan pendengaran, dari ringan hingga berat. Gangguan ini dapat terjadi sejak lahir ( bawaan) ataupun setelah kelahiran. Tuli adalah salah satu klasifikasi dari gangguan pendengaran (hearing disorder).

Tunagrahita dikenal dengan retardasi mental atau cacat mental. Yaitu kemampuan mental dibawah normal. Tolok ukur yang sering digunakan adalah tingkat kecerdasan atau IQ. Anak normal rata – rata memiliki IQ 100 sedangkan anak tunagrahita memiliki IQ paling tinggi 70. Tunagrahita diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu tunagrahita ringan memiliki IQ 50 – 70, tunagrahita sedang memiliki IQ 30 – 50 dan tunagrahita berat memiliki IQ kurang dari 30. Tunagrahita dengan kelainan fisik disebut tunagrahita tipe klinis. Tipe klinis ini digolongkan dalam down syndrom(Mongoloid), kretin (Cebol), hydrocephal, microcephal (Kepala kecil), macrocephal (Kepala besar). Yang paling sering ditemukan adalah down syndrom atau kembar sedunia. Down syndrom memiliki ciri – ciri raut muka menyerupai orang Mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar dan susunan gigi kurang baik.

Tunadaksa secara harfiah berarti cacat fisik. Karena keluarbiasaannya anak tersebut tidak mampu menjalankan fungsi fisik secara normal. Epilepsi termasuk dalam tunadaksa.

Tunalaras adalah gangguan emosi. Gangguan ini berupa gangguan prilaku menyakiti diri sendiri, menyerang teman atau perilaku lainnya. Autistik adalah contoh tunalaras. Dari jenis tunalaras yang sering dijumpai pada sekolah biasa adalah anak hyperaktive (anak bertingkah kacau balau), distraktibilitas (gangguan dalam perhatian /fokus yang relevan) dan impulsitas (cenderung mengikuti kemauan hati tanpa berpikir panjang).

Tunaganda adalah penyandang keluarbiasaan ganda. Misalnya penyandang tunarungu dan tunanetra sekaligus.

Gangguan komunikasi terjadi karena gangguan bahasa ditandai oleh munculnya kesulitan bagi anak dalam memahami dan menggunakan bahasa, baik berupa lisan atau tertulis. Anak gagap paling sering dijumpai dalam kasus ini.

Anak berkesulitan belajar merupakan anak – anak yang mendapat kesulitan belajar bukan karena kelainan yang di deritanya. Anak – anak ini pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan normal, namun tidak mampu mencapai prestasi yang seharusnya. Oleh karena itu anak berkesulitan belajar tidak mudah diidentifikasi dan paling banyak terdapat diantara anak – anak yang bersekolah di sekolah biasa.

Anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan tinggi dalam berbagai bidang seperti intelektual, seni dan kreatifitas, kepemimpinan dan sebagainya. Mengidentifikasi anak berbakat bukanlah hal yang mudah. Banyak anak berbakat tidak nampak bakatnya dan tidak mendapatkan bimbingan. Kadang anak berbakat berasal dari keluarga dengan masalah ekonomi atau masalah emosional sehingga menyamarkan intelektual anak.

Tidak berbeda dengan anak – anak normal, ALB juga memiliki kebutuhan yang sama. Kebutuhan Fisik (Kesehatan), Kebutuhan Sosial dan Emosional, serta Kebutuhan Pendidikan. Mestinya ALB ini di sekolahkan pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Tapi orang tua menolak memasukkan sang anak di SLB. Biaya yang mahal, anaknya masih kategori normal, malu memasukkan di SLB atau orang tua ingin anaknya mandiri dengan berbaur dengan anak normal menjadi salah satu alasan orang tua memasukkan anak di sekolah biasa.

Menjadi tugas berat ketika menghadapi ALB mengingat keluarbiasaannya membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Sebagai contoh pada anak penderita tunagrahita tipe sedang. Anak memiliki perkembangan mental yang tidak normal, tetapi perkembangan fisik dan seksualnya berkembang normal. Anak yang harusnya berada di sekolah lanjutan masih berada di sekolah dasar.

Menjadi sebuah masalah ketika sang anak melakukan tindak kekerasan terhadap temannya.
Menganggap anak retardasi tapi nyatanya kekuatan memukulnya seperti kekuatan anak sekolah lanjutan. Masalah lain muncul ketika sang anak mulai memasuki masa pubertas. Melihat anak dari sisi retardasi tapi kelakuannya membahayakan. Mencolek, merangkul atau memeluk anak lain jelas – jelas memerlukan perhatian khusus. Tanpa penanganan yang baik, bisa saja ada pihak yang menuding anak melakukan pelecehan seksual. Belum lagi masalah dalam kelas, anak retardasi aktiv mengganggu teman yang sedang belajar.

Namun ada yang unik dari sekolah penulis, seorang anak penderita Down Syndrom justru memiliki kelebihan menghafal surah – surah pendek. Ibu sang anak adalah guru ngaji pada sebuah TPA. Ternyata dengan IQ di bawah normal itulah anak fokus dengan satu hal. Hafalan!. (*)

* Keterangan Gambar: Ilustrasi Sekolah Inklusi (foto: Kompasiana)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda