OPINI : Integrasi Budaya Komunikasi Antara Etika Bugis dan Islam

Social Distance, Meninggalkan Shalat jum'at Tanpa Beban Munafiq (Intiqal al Madzhab)
Oleh : Dr Agus Muchsin, Dosen IAIN Parepare

OPINI — Engka eppa cappa’ bokonna to laoe, iyanaritu saisanna : Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa kallangnge, enrengnge Cappa’ kawalie.

(Terdapat empat ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian yaitu : Ujung lilae (Ujung lidah), Ujung kelelakian (Ujung kemaluan), Cappa Kallang (Ujung pena/Polpen) dan Ujung badik/kawali (Senjata).

Bugis merupakan bagian dari suku di Indonesia, turut berkontribusi banyak terhadap corak budaya bangsa. Satu diantaranya adalah lontara paseng, menyimpan banyak nilai bijak bagi orang Bugis. Kalimatnya sederhana, namun artikulasi pemilihan katanya memiliki nuansa filosofis cukup dalam.

Seperti dalam salah satu pesan bijak di atas, menyebutkan terminologi “bokongna to laoe” artinya bekal orang bepergian. Saat melakukan perjalanan, tradisi orang bugis lebih awal mempersiapkan bekal. Uniknya bekal bukan dalam pemaknaan barang konsumtif semata melainkan terdapat juga bekal berupa karakter orang bugis.

Kajian integrasi Islam dan Budaya kali ini melacak term “bokong” secara teks dalam bahasa arab al zad (bekal). Allah swt berfirman dalam QS. Al Baqarah (2) : 197
وتزودا فان خير الزاد التقوي
Terjemahnya;
Berbekal dirilah kalian karena sesungguhnya sebaik bekal adalah taqwa.

Kronologi turunnya ayat tersebut, dijelaskan oleh al Aufa melalui riwayat Ibnu Abbas:
كان أناس يخرجون من أهليهم ليست معهم أزودة ، يقولون : نحج بيت الله ولا يطعمنا . فقال الله : تزودوا ما يكف وجوهكم عن الناس .
Artinya:
Orang-orang ramai keluar meninggalkan keluarga mereka namun tidak memiliki bekal. Mereka berkata, kami menunaikan haji di Baitullah sementara kami tidak akan makan (tidak memiliki bekal) maka Allah swt berfirman dalam hadits qudsi, berbekallah kalian dengan sesuatu yang menutupi wajahmu dari manusia (karena malu).

Rasa malu pada teks hadis di atas, jika ditelusuri melalui metode interpretasi munasabah (kolaboratif) maka yang dimaksudkan adalah taqwa. Secara gramatikal taqwa berasal dari fi’il madhi tsulatsi mazid وقي (memelihara). Kata ini kemudian mengalami tambahan dua huruf (مزيد بحرفين), menjadi اتقي (memelihara). Relevansi ayat dengan pesan lontara di atas, ada pada penjabaran terhadap proses pemeliharaan.

Bekal mesti dipelihara dan tidak digunakan secara bebas, ibarat bekal makanan tidak akan di buka saat lapar, maka keempat bekal yang dimaksud tidak akan dibuka terkecuali dibutuhkan. Ke empat bekal yang dimaksud adalah: Cappa’ lilae, Cappa’ orowanewe, Cappa kallangnge, enrengnge Cappa’ kawalie.

Dari empat yang dikemukakan maka pada tulisan kali ini hanya mengupas satu di antaranya adalah cappa lilae (ujung lidah), sebagai simbol komunikasi manual yang umumnya dilakukan oleh hampir setiap individu.

Cappa lila (ujung lidah)

Manusia adalah hewan yang berbicara (الانسان هو الحيوان الناطق). Sederhananya, manusia itu pemantik. Orang bugis menilai kalau lidah akan banyak membantu menyelesaikan problematika dalam perjalanan, komunikasi antara individu lain mesti melalui penguasaan bahasa. Namun selain dari itu komunikasi yang dimaksud adalah disampaikan secara santun dan beretika “malebbi warekkadanna, makkiade ampena”.

Filosofi cappa lila juga ditemukan dalam Al Quran. Allah swt berfirman dalam Surah Ar Rum: 22
ومن اياته خلق السموات والارض واختلاف السنتكم والوانكم
Artinya
Diantara tanda kekuasaan Allah adalah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan perbedaan lisan (bahasa) diantara kalian dan perbedaan warna (anatomi) kalian.

Perbedaan lidah pada teks ayat di atas secara konteks dimaknai ragam bahasa karena lidah adalah alat pengecap bahasa. Ibnu Katsir memaknai teks tersebut sebagai:
واختلاف منطق ألسنتكم ولغاتها وألْوَانِكُمْ يقول: واختلاف ألوان أجسامكم
Atinya
Perbedaan percakapan melalui lidah kalian dan bahasanya. Sementara perbedaan warna berkonotasi pada perbedaan anatomi.

Melalui pesan teks ayat ini memupuk aqidah terhadap kekuasaan Allah swt melalui tanda akan ragam tersebut. Informasi lain yang diajarkan tentang teknik komunikasi dapat dilacak melalui beberapa ayat maka ditemukan bentuk-bentuk komunikasi antara lain:
قولا سديدا (perkataan benar)
قولا كريما (perkataan mulia)
قولا معروفا (perkataan benar menurut tradisi)
وقولوا للناس حسنا (perkataan baik)
قولا لينا (perkataan lembut)
Kolaborasi kajian integrasi Islam dan Budaya dalam pemeliharaan terhadap cappa lila, dilihat dalam konteks sosial sekarang ini, perlahan mengalami tantangan berat akibat dari perkembangan teknologi informasi, sehingga tampak bahwa perubahan nilai-nilai tradisi bugis perlahan terkikis, terutama dari aspek etika komunikasi.

Kalimat sederhana dari orang tua suku bugis, mengajarkan tentang tatanan etika berkomunikasi tersirat dalam pertanyaan: Magi na ipasicawekengi inge’e sibawa timunge, magi na genne dua seggo inge, namagito na genne dua daun culinge (kenapa hidung berdekatan dengan mulut, kenapa hidung memiliki dua lubang dan kenapa pula telinga memiliki dua lubang?

Menurut orang bugis, mulut berdekatan dengan hidung agar segala yang masuk dan keluar dari mulut bisa dirasakan baik atau buruknya, termasuk kata-kata yang keluar, sementara dua lubang hidung bermakna kalau kata yang akan dikeluarkan sebelumnya dirasakan dan dievaluasi dua kali. Demikian halnya dua lubang telinga bermakna bahwa sebelum di dengar oleh orang lain maka dengarlah olehmu dua kali.

Senada dengan hal di atas juga terdapat lontara paseng na iya ada tabbulu massue taniana iko punna, tau maringkalingae na tu mappunna (kata-katamu yang keluar dari mulutmu bukan kamu pemiliknya, dan yang memiliki adalah pendengarnya). Dengan demikian di era komunikasi bebas dengan bantuan teknologi perlu kehati-hatian karena fenomena global ditandai dengan meminimalkan jarak dan mendekatkan ruang. Peluang komunikasi jarak dekat menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat, sehingga butuh kehati-hatian dalam memanage kalimat yang akan dikeluarkan. Bugis berpesan parakai cappa lilamu. (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News