OPINI: Ibu Saipah dan Ketegaan Kita

 

SAYA mendapat amanah dari bapak saya untuk mengabarkan kepada teman-teman sekalian, ada seseorang yang hidup tidak cukup layak di Bantimurung, Maros.

Saipah namanya. Usia 65 dan sudah bertahun-tahun ditinggal mati suami dan dua anaknya. Sebatang kara dia menempati rumah panggung yang hampir rubuh di kampung Panto-panto.

Kalau Anda ingin bertamu, sebaiknya tak naik ke rumah. Kaki Anda bisa terperosok di antara papan yang lapuk. Tiang-tiang rumah pun telah sangat rapuh. Dinding belakang sudah tak ada.

Tetapi apakah Anda tidak membayangkan jika yang terperosok itu justru Saipah? Tak adakah tebersit di hati Anda untuk turut dalam gerakan menghadiahkan hunian yang lebih manusiawi? Tidak iba kah kita pada perempuan tua yang makan dari hasil menjadi marbot masjid dan belas kasih tetangga ini?

Sebenarnya bapak saya mengusul agar saya menulis surat terbuka untuk bupati. Semacam alarm bahwa kabupaten ini butuh pembangunan lain di luar jalan beton dan jembatan.

Tetapi demi Allah, saya tidak lagi punya banyak harapan pada pemerintahan saat ini.

Tak terhitung persoalan yang sudah dijeritkan warga di media sosial. Mulai dari kesulitan air di Bontoa, perih hati karena pelayanan rumah sakit, beasiswa untuk mahasiswa miskin namun beprestasi, hingga permohonan saya agar ibu saya yang KTP-nya masih Maros agar mendapat perlindungan dari dugaan penzaliman. Tulisan dan bahkan demo dianggap angin lalu sahaja.

Tidak sekalipun orang yang saya coba sentuh hatinya itu keluar dari ruang kerja lalu membuat sebuah pernyataan yang setidaknya bisa sedikit menenangkan.

Maka untuk kesulitan Ibu Saipah ini, saya hanya berharap pada teman-teman sekalian. Barangkali di bulan haji yang sangat baik ini, ada yang sedang dilapangkan rezekinya. Walau beberapa lembar saja, apalagi jika hal yang sama datang dari banyak arah, Insyaallah bisa membuat Saipah tersenyum.

Kalau bisa agak cepat. Sebelum upacara 17 Agustus digelar dan pejabat-pejabat kita tampil gagah dengan jasnya di lapangan berdebu.

Ayo kita tunjukkan bahwa saat negara abai sekalipun, tidak boleh ada manusia di tanah ini yang terlalu lama terjepit dalam penderitaan hidup.

Ibu Saipah telah kehilangan orang-orang yang dicintainya. Tetapi jangan biarkan dia kehilangan harapan jua. (*)

Sumber: Facebook Imam Dzulkifli
Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda