OPINI: Ibu, Malaikat Tak Bersayap

 

Oleh: Nurhikmah (Mahasiswa IAIN Parepare, Ketua Hima Tadris IPS)

 

Doa seorang ibu,

Saat engkau berdoa

Mengiringi langkahku

Dengan nada penuh harap

Demi buah cinta yang terindah

 

Ibu

Sosok wanita ayu nan perkasa

Lembut sehalus sutra

Tempatku berkeluh kesah

Tempatku bersandar saat letih

Ibu

Anakmu ini sudah dewasa

Biarkan kami mengalir seperti air

Untuk mencapai cita-cita kami

Doamu adalah perisai untuk  langkah kaki ini

Ibu adalah wanita tangguh wanita perkasa, ibu adalah sumber kasih sayang mengasuh dan membesarkan tanpa batas. Dia adalah pelita bagi anak-anaknya. Dia yang selalu mendahulukan anak-anaknya dari dirinya sendiri mencintai seluas dunia tanpa menuntut balasan. Ibu, sebenarnya tak  ada kata yang pantas untuk menggambarkan sosok pejuang tangguh ini. Tapi karena kekagumanku dari sosok wanita kuat yang kini bersamaku yang setiap hari saya panggil dengan sebutan mama. Dia adalah orang yang paling pertama menderita apabila aku sakit, bahkan aku pernah mendengar langsung dari mulut sosok seorang ibu ini.

Beliau berkata, ’’Kenapa harus engkau yang sakit kenapa bukan ibu saja,’’ pada saat itu hati ini bagaikan teriris pisau yang tumpul sangat sakit, mendengar kata itu, bukan sakit karena disakiti. Tapi sakit mendengar dia rela menggantikan posisi anaknya yang sakit. Ibu, betul kata setiap orang bahwa walau dunia ini kukasih untukmu tak akan pernah tergantikan. Sosok wanita yang selalu ingin mengetahui keadaan anak-anaknya meskipun anak itu sudah tumbuh dewasa bahkan sudah mempunyai kehidupannya sendiri.

Ketulusan hati, kehangatan, pengorbanan dan cinta yang tulus yang diciptakan  Allah pada dirinya, oleh sebab itu Allah berwasiat kepada manusia untuk taat kepada ibunya. Seperti juga Rasulullah telah berpesan agar kita senantiasa berbakti kepadanya.

Di lihat di zaman milenial ini, banyak sekali anak-anak yang durhaka pada ibunya bahkan ada yang tidak mengakui sosok pejuang tangguh ini, bahkan ada yang mengasingkannya ke panti jompo di mana hari tua seorang ibu ingin dihabiskan bersama sang buah hati yang dibanggakannya.

Meskipun begitu ibu menerimanya begitu saja, bahkan beliau tidak pernah berpikiran tidak baik mengenai anaknya, sang ibu pasti hanya bilang tak ada yang bisa merawatku di hari senjaku karena kesibukan anak-anakku, aku rela asalkan mereka bahagia. Ibu betul-betul manusia yang hebat dan kuat.

Di hari ibu ini, saya sebagai penulis ingin menceritakan sepenggal cerita mengenai ibu yang melahirkan saya ke dunia, sosok beliau yang dikirimkan Allah untukku. Beliau melahirkan empat malaikat kecil, beliau membesarkan empat orang anak. Tak pernah sedikitpun kami dengar keluh dan kesahnya dan beliau mampu menyekolahkan empat malaikat kecilnya meskipun tidak semuanya menduduki bangku perkuliahan. Dan saya sebagai anak bungsu ingin melanjutkan kuliah. Dan pada saat itu, ibu betul-betul tak mempunyai apa-apa untuk saya melanjutkan kuliah.

Beliau hanya berkata ibu sangat ingin kau melanjutkan pendidikanmu tapi saat ini ibu tak mempunyai uang untuk kau mendaftar. Pada saat ini, saya sangat kecewa dan marah. Pada saat itu, ibu hanya terdiam tanpa kata. Ibu selalu bilang pasti ada jalan dari Allah dan betul hal itu terjadi. Hal yang tidak diduga terjadi. Saya bebas tes masuk perguruan tinggi dan salah satu keluarga ibu siap untuk menanggung semua uang kuliah saya.

Di situ saya sangat bahagia bahkan ibu sampai meneteskan air mata. Dan pada saat itu saya terdiam dan berkata dalam hati doa ibu yang memuluskan perjalanan saya untuk meneruskan pendidikan.

Tidak ada bantal yang lebih empuk dan lebih nyaman dari pada dada ibuku dan tidak ada tempat paling nyaman selain tempat tinggal ibuku. Ibu sosok wanita yang selalu menganggap kami anak kecil meskipun kami sudah dewasa.

 

Wajar kitab suci menggendangkan perintah patuh kepada Allah dengan perintah bakti dan satu akli lagi bakti. Sungguh tepat ketika Nabi Muhammad SAW. Menyebut ibu, lalu ibu, lalu ibu baru kemudian ayah. Sungguh bermakna ungkapan yang dinisabkan kepada Nabi SAW: surga dicbawah telapak kaki ibu.’ Maka berbaktilah kepada ibu dan ayahmu terutama ibumu.

Jika ada penobatan untuk sebuah istilah terbaik yang pernah ada di dunia ini, maka istilah kasih ibu tak terhingga sepanjang masa adalah istilah paling luar biasa yang pernah kita dengar. Ibu bagi kita tentu saja melebihi apapun, bahkan luasnya dunia tidak bisa membandingi kasih sayang seorang ibu. Bagaimana ibu mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita, belum lagi perjuangannya selama sembilan bulan membawa kita ke dalam rahimnya. Semua itu sungguh amat tidak tergantikan. Bagi seorang ibu anak-anaknya adalah harta yang paling terbesar. Beliau rela melakukan apapun untuk anak-anaknya. Banyak kisah haru yang dibagikan orang di dunia mengenai perjuangan seorang ibu dan bagaimana mereka menginspirasi kita, karena kelak masing-masing dari kita akan menjadi seorang ibu..

 

Saya mengangkat cerita tentang ibu yang menukar nyawanya dengan sang anak. Kisah ini datang dari Amerika Serikat. Seorang ibu bernama Dibene (33) rela menukar nyawanya dengan nyawa anaknya. Kejadian itu terjadi ketika kereta dorong sang anak secara tidak sengaja tersangkut di lintasan kereta api dan sebuah komuter metrolink berkecepatan tinggi melintas dengan sangat cepat.

Sang ibu, akhirnya segera menyelamatkan kereta dorong sang anak yang tersangkut, namun naas bagi seorang ibu karena tidak sempat menyelamatkan diri. Kisah heroik ini pastinya membuat kita berpikir untuk lebih menyayangi ibu kita lebih dari apapun. Kisah ini sangat menyentuh hati.

Ibu, kau segalanya bagi anak-anakmu. Kau tak pernah tergantikan hidup dan matimu. Hanya kau wanita satu-satunya. Bagi kami, ibu malaikat tak bersayap.

 

Tulisan ini khusus saya persembahkan kepada malaikat tak bersayap yang bernama ibu, wanita yang mempunyai hati seluas samudra mempunyai jiwa yang tangguh dan hati yang luasnya seluas dunia dan isinya. Ibu kaulah wanita yang mulia derajatmu tiga tingkat dibanding ayah. Kau mengasuh melahirkan, menyusui merawat lalu membesarkan putra-putrimu ibu.

Lagu yang menggambarkan betapa mulianya seorang ibu. Di dalam Islam kedudukan ibu begitu mulia. Tidak ada ajaran apapun yang lebih memuliakan ibu dari pada ajaran Islam. Sosok ibu mendapat hak kemuliaan yang lebih besar dari pada ayat. Inilah yang ditetapkan oleh Alquran dan disebutkan berulang kali di berbagai surah dalam Alquran, di antaranya tercantum dalam surah Lukman ayat 14 yang menyebutkan bahwa seorang ibu mengalami tiga fase kepayahan;  kehamilan dan melahirkan, lalu menyusui. Karena itu ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lebih besar dibandingkan ayah.

Sungguh berbakti kepada ibu merupakan ibadah yang sangat agung. Bahkan, kebaikan sebesar apapun rasanya belumlah cukup untuk membalas budi baiknya. Sebagaimana dalam hadis dikisahkan, Ibnu Umar pernah melihat seorang lelaki yang menggendong ibunya di pundaknya selama menjalani seluruh proses ibadah haji. Lelaki itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, ia ingin mengetahui apakah perbuatannya itu sudah bisa membalas kebaikan dari seorang ibu, ternyata Ibnu Umar menjawab bahwa semua perbuatan lelaki itu bahkan belum mampu untuk membalas satu kali tarikan nafas sang ibu saat melahirkan (HR.Abi Burdan).

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda