Opini: Catatan Kritis Rakornas PB DDI

Penulis: Nur Khaliq (Ketua Umum PP IMDI)

PIJAR OPINI — Bagi sebuah organisasi, dinamika dan konflik adalah bumbu yang justru akan menjadikannya mantap. Seperti syair lagu Inul Daratista, “dangdut yang tanpa goyang, akan terasa kurang nikmat, kurang sedap”. Dengan catatan, dinamika dan konflik itu mampu dikelola sebagaimana orkestra yang mengkhasilkan simfoni. Dinamika dan konflik Bukanlah “madu ditangan kanan dan racun di tangan kiri” yang musti dipilih dan diperselisihkan.

Pada prinsipnya, semakin berdinamika dan berkonfik sebuah organisasi, juga mencerminkan semakin progresif perkembangan organisasi tersebut. Demikianlah yang terjadi pada organisasi besar sekelas Darl Da’wah wal Irsyad (DDI).

Ket: Ketua Umum PP IMDI Nur Khaliq

Beberapa hal yang penting untuk dimaklumi saat ini adalah bahwa fase dinamis yang dialami DDI saat ini adalah hal yang niscaya. Semua organisasi besar pernah mengalaminya. Tahapan ini diyakini menjadikan DDI semakin tangguh dan kokoh.

Seperti sebatang pohon, yang semakin akarnya menemukan batu, berarti semakin dalam ia menghujam ke bumi, atau semakin batangnya diterjang badai, berarti semakin tinggi pucuk dan rantingnya menjulang ke langit. Mungkin akan ada cabang dan rantingnya yang lapuk atau retak, namun kita tidak seharusnya skeptis bahwa seluruh pohon akan mati.

Untuk itu, Rapat Kerja Dan Kordinasi Nasional yang akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangan, Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang, mendatang, kiranya menjadi ajang silaturahmi Nasional seluruh insan pengabdi dan anak-anak ideologis panrita Bugis, serta sebagai saluran gagasan untuk kemajuan keummatan dan kebangsaan.

PB DDI sebagai pilar puncak penentu kebijakan strategis DDI, memiliki posisi penting dalam menentukan arah dan pencapaian organisasi, untuk itu, sudah seharusnya PB DDI dalam RAKOR-RAKERNAS kali ini mendorong penetapan agenda-agenda strategis dan RENSTRA (Rencana Strategis) yang lebih praktis-sistematis, serta berskala local, nasional, regional dan global.

Tidak hanya melulunya berkutat pada agenda-agenda lokal sektoral yang sempit dan telah kadaluarsa.

Maka untuk itu, beberapa tinjauan kiranya dapat dipertimbangkan, diantaranya; Ditingkat lokal, PB DDI dan seluruh prangkat administratifnya, diharapkan mampu meningkatan kualitas lulusan pendidikan disemua level. Salah satunya, dalam bidang pendidikan, dengan kembali menghidupkan tradisi berbahasa asing yang saat ini terasa hilang.

Selain itu, DDI juga diharapkan mampu memplopori pengajaran dan pembelajaran “Pendidikan Multicultural dan Cross-Cultural Study” disemua level pendidikannya, sebagai respon strategic DDI dalam menghadapi pemberlakuan kerjasama antar negara ASEAN atau yang lebih popular dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Ditingkat nasional, PB DDI diharap mampu mendorong organisasi ini lebih berperan aktif dalam mensukseskan agenda-agenda Pembangunan Nasional. Terutama dibidang-bidang yang erat bersangkut dengan Trilogy DDI. Selain itu, dengan berpahamkan bawa “asset terbesar DDI adalah warga DDI itu sendiri”, maka PB DDI juga diharapkan mampu megusahakan penempatan warga DDI yang memiliki kualitas personan untuk menempati sector-sektor public strategis Nasional. Dengan strategi seperti ini, diharapkan mampu mereduksi berbagai potensi konflik dalam batang tubuh DDI. Dan dengan model ini pula, “akan ada kue yang lebih besar yang biasa kita pertengkarkan”.

Kedepan, sector-sector yang menjadi agenda kerjasama regional ini akan mengalir deras. Akan datang tenaga-tenaga professional asing yang merebut sector-sektor strategis dalam lingkungan kerja dan profesi masyarakat kita. Bukan tidak mungkin masalah ini akan menggerus dan mengeliminasi kader dan warga DDI dari lapangan permainan.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejatinya merupakan peluang besar bagi DDI dan bangsa ini untuk mencapai kemajuan. Dengan catatan, ia mampu merespon positif kebijakan strategis regional ini dengan peningkatan skill dan kualitas sumberdaya manusianya melalui pelatihan dan pendidikan. Maka dengan konsisi ini, PB DDI dalam pertemuan esok, diharapkan mampu “megetuk palu” berbagai rencana strategis yang menyangkut berbagai peningkatan skill, pelatihan dan pendidikan untuk peningkatan kualitas masyarakat DDI secara khusus dan masayarakat indonesia umumnya.
Ditingkat global, agenda-agenda Sustainable Development Goals sudah seharusnya juga menjadi agenda pembahasan di tingkat RAKER-RAKORNAS PB DDI. Dengan mendorong peran dan fungsi aktif organisasi dalam pembicaraan-pembicaraan agenda-agenda global.

Ada banyak agenda global yang biasa ikut didiskusikan dan dimainkan oleh organisasi besar sekelas PB DDI diantaranya, usaha bersama untuk pengentasan kemiskinan dan kelaparan global (End poverty, End hunger) peningkatan kualitas hidup sehat (Good Health and Well-Being), pendidikan yang berkualitas untuk semua (Quality Education), kesetaraan dan keadilan gender (Gender Equality) keadilan dan kedamaian global, dan ratusan agenda global lainnya.

Kami percaya, bahwa RAKER-RAKORNAS PB DDI mendatang adalah implementasi dari keberkahan do’a dan munajad para Anregurutta, dan kami percaya, bahwa pertemuan mendatang akan menghasilkan putusan-putusan yang berkualitas sebagai guideline bagi pengembangan DDI dan seluruh warga addariyah secara keseluruhan.
Minallahil Musta’an Wa Ilayhi Tiqlan (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News