Forum Pengembang Ajatappareng

OPINI: Bahaya Liberalisme Dibalik Valentine’s Day

 

Oleh: Dewi Murni (Praktisi Pendidikan, Aktivis Dakwah Pena Balikpapan)

14 Februari adalah hari yang disebut-sebut sebagai Hari Kasih Sayang se-dunia. Valentine’s Day, begitu dunia menyebutnya. Sebuah hari yang diakui sebagai puncaknya pembuktian kasih sayang khususnya bagi kaum muda-mudi, sepasang kekasih yang sebenarnya belum halal. Biasa disimbolkan dengan pemberian cokelat, bunga hingga keperawanan. Wajar bila akhirnya setiap menjelang 14 Februari penjualan produk-produk tersebut meningkat. 

Selain momentum tahun baru, Hari Kasih Sayang atau yang biasa dikenal dengan nama Valentine Day juga menjadi keuntungan tersendiri bagi lapak penjual kebutuhan seks di Jalan Pasar Kembang Surabaya.

Pasalnya, sejak dua hari lalu sebelum Valentine, dagangan mereka seperti kondom dan obat kuat laris terjual. Bukan hanya dua barang itu saja, tisu sakti (penguat kelamin) juga menjadi pilihan bagi para pembeli.

“Tisu sakti, terus kondom, sama obat kuat itu yang laku, Mas. Lakunya bisa empat kali lipat dari hari-hari biasa,” kata salah satu penjual bernama Yusuf, Kamis (14/2) malam.

Pada hari biasanya, Yusuf mengaku hanya bisa menjual kondom sekitar 20 sampai 25 buah per hari. Namun di momen Valentine seperti ini, minimal 50 buah kondom laku terjual (http://www.realita.co 14/2/19).

Aparat Polres Jombang menggelandang enam pasangan kumpul kebo untuk didata, saat malam menjelang perayaan Hari Valentine, Rabu (13/2) malam.

Mereka tertangkap saat berduaan di kamar hotel kelas melati di kawasan Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, guna merayakan malam Valentine Day (www.suara.com 14/2/19). 

Astaghfirullahal adziim. Betapa mirisnya ketika valentine’day (V-day) yang sebut-sebut sebagai hari kasih sayang justru berisi ajang maksiat dan pembuktian cinta yang berujung perzinahan. Cinta dan sayang dijadikan topeng membenarkan aktivitas pacaran, khalwat, hingga seks bebas. Pada akhirnya kasih sayang dalam V-day hanya bualan semata. Dusta! Sangat jauh dari makna kasih sayang yang hakiki.

Sesungguhnya V-day bukanlah budaya Islam. Sebaliknya, ia berasal dari budaya orang kafir. Yakni perayaan Lupercalia, yaitu rangkaian upacara pensucian masa Romawi Kuno, pada masa itu –14 Februari– para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi “pasangannya” selama setahun untuk senang-senang dan objek hiburan. (The World Book Encyclopedia: 1998).

Sebenarnya banyak versi terkait sejarah V-day, namun tetap saja semua sajarah kompak menunjukan eksistensi V-day berasal dari Barat dan kental penyaluran syahwat lewat perzinahan. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim haram merayakan V-day. Rasulullah bersabda, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut,” (HR At-Tirmizi). 

Di samping itu, perayaan V-day yang selalu dikampanyekan tiap tahun merupakan taktik Barat untuk semakin mengaruskan paham liberalisme ke umat Islam khususnya generasi muda. Sehingga para generasi lalai dengan jati dirinya sebagai seorang muslim dan calon pemimpin masa depan. Paham kebebasan dikemas dengan sangat cantik bahkan ngetren di tengah-tengah pemuda sehingga mereka tertarik, padahal sejatinya itu semua adalah jebakan mematikan.
Jebakan yang berdampak pada rusaknya moral bangsa dan hinanya peradaban. Tentu saja, hancurnya generasi muslim adalah cita-cita orang kafir. Sebab dengan begitu kebangkitan Islam akan begitu jauh dari harapan. 

Perdana Menteri Inggris W.E. Gladstone (1809-1898) yang merupakan orang kafir berkata, “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Alquran. Tugas kita sekarang adalah mencabut Alquran dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkan ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Melalui sistem sekulerisme, agama dipisahkan dari kehidupan. Alquran dan hadist dijauhkan dari hati dan pemahaman generasi. Alhasil halal haram bukanlah perkara yang diutamakan dalam kehidupan sehari-hari. Kepuasan fisik menjadi tolok ukur dalam standar perbuatan, tidak peduli halal ataukah haram. Tak heran, walau Islam telah mengharamkan aktivitas mendekati zina dalam surah al-Isro ayat 32, hukum tersebut justru diabaikan. Sungguh, sangat membahayakan.

Dengan demikian, untuk menyelamatkan umat khususnya dari generasi dari bahaya liberalisme tidak cukup hanya dengan menolak perayaan V-day. Perlu ada perubahan sistem secara mendasar. Dari sistem sekuler menjadi sistem Islam. Karena sistem sekuler menjadikan Islam tidak boleh diterapkan secara kaffah mengingat prinsipnya bahwa agama tidak boleh disatukan dengan kehidupan. Sehingga, selama tanpa adanya hukum-hukum Islam yang diterapkan, budaya-budaya kufur begitu mudahnya masuk ke negeri-negeri kaum muslimin. 

Tolak V-day! (*)

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News