Nilai Nuzulul Quran Bukan Hanya Ritual

Oleh : M. Yasin Soumena, Wakil Dekan Febi IAIN Parepare

 

OPINI — GURU saya, Prof.Dr. Abd. Muin Salim mengatakan, ada dua hal penting yang sangat diharapkan dalam peringatan Nuzulul Quran. Pertama, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai hidayah. Kedua, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai rahmatan.

Alquran adalah hidayah Allah. Melalui peringatan Nuzulul Quran kita harapkan agar nilai-nilai Alquran bisa menjadi petunjuk dan teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin di negeri ini. Sebab jika petunjuk Alquran mereka jalankan dengan benar, maka akan berhati-hati dalam menjalankan tugas kesehariannya.

Kedua, Alquran sebagai rahmatan, pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Jadi kebaikan yang terdapat dalam Alquran bukan semata-mata untuk umat Islam. Kebaikan atau rahmatan yang terdapat dalam Alquran akan mengayomi dan memberi ketenteraman bagi seluruh manusia.

Bagi negeri tercinta ini, masalah berkah jelas sangat dibutuhkan. Sebab ketenteraman menjadi prasyarat utama bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi dalam menghadapi situasi kekinian pascapemilu 2019, hikmah Nuzulul Quran sangat dibutuhkan bagi semua komponen yang terlibat dalam proses pemilu tersebut.

Sayangnya, peringatan Nuzulul Quran selama ini masih sebatas seremonial belaka. Buktinya, setiap tahun kita rayakan secara besar-besaran tapi nilai-nilai yang terdapat dalam perayaan Nuzulul Quran itu terlupakan ketika menata pemerintahan. Kita menganggap itu hanya ritual belaka.

Kebanyakan dari kita hanya menganggap agama sebatas hubungan dengan Allah belaka, sehingga kita menangani sosial-kemasyarakatan, kadang mengabaikan norma-norma agama.

Seperti yang dituturkan Muin Salim, ketika kita salat, ingatan kita ke Tuhan sangat tinggi dan khusu’. Tapi saat kita berada di kantor, pasar, dan tempat kerja, Tuhan malah terlupakan. Jadi kekhusu’an masih sebatas dalam salat. Tidak dirasakan sebagai satu bagian dalam kehidupan.

Umat Islam perlu memperbanyak ibadah dan doa di malam Nuzulul Quran, dan sepuluh malam terakhir Ramadan. Perlu memperbanyak doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT, agar bangsa kita mendapat rahmat dan hidayah, sehingga rakyatnya bisa sejahtera dan pemimpinnya amanah. Tidak perlu kita lakukan persiapan khusus. Beribadalah seperti biasanya, walau kita mengharapkan berkah Lailatul Qadri, seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Kita tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang keliru bahwa, beribadah karena mengharapkan Lailatul Qadri. Ibadah dengan niat untuk mendapatkan Lailatul Qadri adalah tidak murni. Dan ingat, hanya ibadah yang murni yang dapat diterima oleh Allah SWT. (*)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda