Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
(Dosen IAIN Parepare, Ketua Majelis Dikdasmen Kota Parepare, dan Pengurus DMI Kota Parepare)
Kota Parepare dikenal sebagai kota pesisir yang tumbuh dengan denyut kehidupan religius yang kuat. Sejak lama, Parepare tidak hanya menjadi simpul perdagangan dan mobilitas masyarakat Sulawesi Selatan, tetapi juga berkembang sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan kebersamaan sosial. Masjid-masjid berdiri tidak sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai penanda identitas spiritual masyarakat—tempat bertemunya berbagai lapisan umat, dari anak-anak hingga orang tua, dari nelayan hingga akademisi, dari jamaah awam hingga tokoh agama. Di kota ini, denyut Islam tidak hanya terdengar dari lantunan azan, tetapi juga terasa dalam budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan etos kehidupan masyarakatnya.
Menjelang pergantian tahun 2025 menuju 2026, suasana Kota Parepare diwarnai oleh refleksi kolektif yang mendalam. Tahun yang berlalu menghadirkan dinamika sosial yang kompleks: capaian pembangunan yang patut disyukuri, tantangan sosial yang menuntut kepekaan moral, serta perubahan perilaku masyarakat di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Dalam konteks inilah, Wali Kota Parepare Tasming Hamid menyampaikan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat agar tidak menggelar perayaan malam tahun baru 2026 dengan kegiatan hura-hura.
Kebijakan ini bukan semata pembatasan aktivitas publik, melainkan ekspresi kepemimpinan moral dan empati sosial, khususnya atas musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian besar. Dalam situasi duka nasional, euforia berlebihan tidak hanya tidak pantas, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.
Wali Kota Parepare mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pesta kembang api, konvoi kendaraan, hiburan berlebihan, atau aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan keramaian dan euforia yang melampaui batas kewajaran. Sebaliknya, masyarakat diajak menyambut pergantian tahun secara sederhana dan bermakna, dengan mengisinya melalui kegiatan yang bernilai ibadah, seperti zikir, doa, dan refleksi spiritual.
Himbauan ini sejatinya sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang memandang waktu sebagai amanah. Dalam Islam, setiap detik kehidupan akan dimintai pertanggungjawaban, dan pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka kalender, melainkan undangan ilahiah untuk bermuhasabah. Oleh karena itu, refleksi akhir tahun di Kota Parepare tidak cukup dimaknai sebagai seremoni administratif, tetapi harus dihidupkan sebagai proses pendidikan karakter Islami yang berorientasi pada pembentukan kepribadian umat.
Muhasabah akhir tahun merupakan praktik pedagogis dalam Islam. Ia mengajarkan umat untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan diri, dan menilai sejauh mana nilai-nilai Islam telah terinternalisasi dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Dalam kerangka pendidikan karakter Islami, muhasabah melatih kejujuran pada diri sendiri (ṣidq), keberanian mengakui kekurangan, serta kesungguhan untuk memperbaiki diri. Kepribadian Islami tidak dibentuk oleh simbol atau seremonial semata, melainkan oleh proses refleksi yang jujur, sadar, dan berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, masjid memegang peran strategis. Masjid di Kota Parepare memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan kepribadian Islami. Melalui khutbah Jumat, kajian keislaman, pendidikan Al-Qur’an, majelis taklim, serta aktivitas sosial, masjid berfungsi sebagai “sekolah karakter” yang hidup. Nilai-nilai amanah, disiplin, empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral tidak hanya diajarkan secara normatif, tetapi dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan jemaah.
Ketika masyarakat diajak menghidupkan masjid pada malam pergantian tahun dengan zikir, doa, dan kajian reflektif, sesungguhnya mereka sedang diarahkan pada proses pembentukan kepribadian yang lebih matang dan bertanggung jawab. Islam tidak mengenal tradisi hura-hura yang melalaikan, tetapi mendorong umat untuk mengisi waktu dengan amal saleh dan perbaikan diri. Dalam hal ini, imbauan Wali Kota Parepare mencerminkan prinsip pendidikan karakter Islami yang menempatkan kesadaran moral di atas euforia sesaat.
Lebih jauh, pemakmuran masjid tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial dan kultural. Masjid yang makmur adalah masjid yang hidup dengan aktivitas pendidikan, solidaritas kemanusiaan, dan kepedulian terhadap sesama—terutama mereka yang terdampak musibah. Penguatan zakat, infak, dan sedekah berbasis masjid merupakan wujud konkret pendidikan karakter Islami yang berorientasi pada empati, keadilan, dan kemaslahatan bersama.
Menjelang tahun 2026, muhasabah akhir tahun menjadi momentum strategis untuk menata ulang orientasi hidup umat. Apakah selama tahun 2025 masjid telah benar-benar menjadi pusat pembinaan karakter? Apakah nilai-nilai Islam telah tercermin dalam etika bermasyarakat, dalam kejujuran bekerja, dan dalam kepedulian terhadap penderitaan sesama? Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan agar refleksi tidak berhenti pada wacana, tetapi melahirkan komitmen kolektif untuk berubah.
Dalam perspektif pendidikan Islam, perubahan kepribadian tidak terjadi secara instan. Ia memerlukan proses berkelanjutan yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan masjid sebagai simpul integratifnya. Oleh karena itu, refleksi akhir tahun perlu diikuti dengan langkah konkret: penguatan program pembinaan karakter berbasis masjid, peningkatan kualitas kajian keislaman, penguatan peran pemuda masjid, serta sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat.
Sebagai penutup refleksi ini, marilah kita meneguhkan kembali niat dan harapan kita kepada Allah Swt. Pergantian tahun bukan sekadar peristiwa waktu, melainkan panggilan iman untuk menjadi pribadi yang lebih baik, masyarakat yang lebih peduli, dan umat yang lebih berdaya. Kota Parepare akan menjadi kota yang diberkahi bukan semata karena pembangunan fisiknya, tetapi karena warganya tumbuh dengan kepribadian Islami yang kuat, berakhlak mulia, serta menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan diri dan umat.
Oleh karena itu, marilah kita menutup tahun 2025 dengan tekad yang tulus: memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkuat peran masjid dalam kehidupan kita. Jadikan tahun 2026 sebagai tahun kebangkitan karakter, tahun penguatan iman, dan tahun pemakmuran masjid yang nyata dalam amal, kepedulian sosial, serta tanggung jawab kebersamaan.
Mari kita tundukkan hati, menengadahkan tangan, dan berdoa bersama:
Allahumma yā Allāh,
di penghujung tahun ini kami bermuhasabah di hadapan-Mu.
Ampunilah segala khilaf dan kelalaian kami sepanjang tahun yang telah berlalu.
Bersihkan hati kami dari sifat lalai, iri, dan sombong.
Hiasilah diri kami dengan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia.
Yā Rabb,
bimbinglah kami menjadi pribadi-pribadi berkarakter Islami,
yang jujur dalam niat, amanah dalam tugas,
dan peduli terhadap sesama.
Jadikanlah masjid-masjid kami hidup dengan ilmu, ibadah, dan kepedulian sosial.
Yā Allāh,
masukkanlah kami ke tahun 2026 dengan keberkahan,
kuatkan persatuan kami sebagai umat,
sejahterakan kota dan masyarakat kami,
serta jadikan kami hamba-hamba-Mu yang mampu menebar rahmat di mana pun berada.
Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah,
wa fil-ākhirati ḥasanah,
wa qinā ‘adzāban-nār.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Semoga doa ini menjadi energi spiritual yang menggerakkan langkah kita, dan semoga setiap ikhtiar kecil menuju perbaikan diri bernilai besar di sisi Allah Swt., demi terwujudnya umat yang beriman, berakhlak, dan berdaya.
#TahunBaruSemangatBaru
#SambutDenganMuhasabahBukanEuforia















