PAREPARE, PIJARNEWS. COM–Di tengah riuh Pasar Lakessi, Kota Parepare, aroma kelapa segar berpadu dengan suara tawar-menawar pedagang.
Di salah satu sudut pasar itu, berdiri sebuah lapak kelapa milik sang nenek—tempat di mana kisah kemandirian Meylinda Yanti bermula. Lahir pada 1 Mei 2005, Meylinda bukan sekadar mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam angkatan 2023, tetapi juga simbol nyata arti kemerdekaan diri yang ditempa sejak muda.
Sejak kelas 1 SMP, ia sudah terbiasa membantu di lapak. Pekerjaan pertamanya sederhana, membungkus santan ke plastik. Namun, seiring waktu, ia naik level ke pekerjaan yang lebih berat—mengupas batok kelapa—yang mulai ia lakukan sejak kelas 3 SMP. Semua itu bukan karena orang tua tak mampu membiayai sekolahnya, melainkan karena ia melihat peluang dan percaya bahwa dirinya memiliki potensi yang bisa dijual untuk bekerja.
Kini, pola itu tetap terjaga. Setiap pagi, bahkan sebelum kuliah, ia sudah berdiri di lapak, tersenyum menyambut pembeli, melayani dengan cekatan, lalu bergegas menuntut ilmu. Telapak tangannya kasar, tapi setiap guratannya menyimpan cerita tentang dedikasi, kerja keras, dan keberanian mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Sang nenek memberinya upah harian Rp20.000. Selain itu, ada “tabungan rahasia”: Rp30.000 disimpan sang nenek setiap hari hingga terkumpul, lalu diminta Meylinda untuk disetor ke rekeningnya sebagai dana pembayaran kuliah. Sistem sederhana ini membentuk pola disiplin finansial yang menjadi pondasi kemandiriannya.
Bagi Meylinda, kemandirian adalah pilihan sadar. Ia membuktikan bahwa masa depan tidak sekadar menunggu, tetapi dibangun lewat kerja nyata. Kisahnya bukan hanya tentang kelapa, pasar, atau santan. Ini adalah kisah tentang keberanian untuk memulai, kesetiaan pada proses, dan keyakinan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.
Pesan Meylinda kepada para remaja Indonesia menohok sekaligus memotivasi:
“Merdekakan dirimu dari zona nyaman. Lepaskan belenggu kemalasan dan gengsi yang tidak pada tempatnya. Tumbuhkan semangat kemandirian.”
Di tengah zaman yang serba instan, Meylinda Yanti hadir sebagai pengingat bahwa kemerdekaan sejati lahir dari kerja keras, bukan dari kemudahan. Ia adalah cerminan generasi muda yang tidak hanya bermimpi, tetapi juga menggarap mimpinya dengan tangan yang siap bekerja dan hati yang tak pernah menyerah. (*)
Penulis : Sunandar

















