• Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Selasa, 9 Desember, 2025
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Opini

Menggugah Jiwa Pendidikan: Dari Upacara ke Aksi Nyata

Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag. Dosen IAIN Parepare/Ketua Majelis Dikdasmen PDM Parepare

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
22:22, 02 Mei 2025
di Opini
Waktu Baca: 4 menit
Menggugah Jiwa Pendidikan: Dari Upacara ke Aksi Nyata

Oleh: H. Muhammad Saleh (Dosen IAIN Parepare, Pengurus DMI Kota Parepare)

OPINI-Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sebuah momen monumental yang lahir dari penghormatan terhadap Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Peringatan ini tidak sekadar ritual administratif tahunan, melainkan simbol kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan dalam membangun peradaban bangsa. Namun sayangnya, dari tahun ke tahun, peringatan ini semakin terjebak dalam rutinitas formal berupa upacara seremonial tanpa perenungan mendalam terhadap esensi perubahan yang dibutuhkan. Tema Hari Pendidikan Nasional 2025 adalah ‘Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua’. Tema ini menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan inklusif.

Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua mencerminkan semangat kolaborasi antara pemerintah, pendidik, peserta didik, keluarga, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan sistem pendidikan yang adil dan merata. Melalui partisipasi aktif dari semua pihak, diharapkan pendidikan di Indonesia mampu menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing.

Tahun 2025 memberikan tantangan dan peluang baru bagi dunia pendidikan. Transformasi digital, perubahan iklim global, kemiskinan struktural, hingga maraknya disinformasi dan polarisasi nilai, menuntut arah pendidikan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga transformatif. Maka dari itu, opini ini hadir untuk menggugah kesadaran semua pihak: Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi pemantik aksi nyata yang berdampak pada siswa, guru, dan sistem pendidikan kita.

Ki Hadjar Dewantara pernah menekankan bahwa pendidikan harus mampu “memerdekakan manusia”. Pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu, melainkan proses pemanusiaan manusia secara utuh. Dalam konteks hari ini, kita harus merenungkan kembali: apakah sistem pendidikan kita benar-benar memerdekakan peserta didik? Apakah ia mengembangkan daya kritis, empati, kreativitas, dan semangat gotong royong—seperti yang diidealkan dalam Profil Pelajar Pancasila?

Honest Card

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik masih terjebak dalam pola belajar yang menekankan hafalan dibandingkan pemahaman, menuntut skor tinggi ketimbang kebermaknaan pembelajaran. Pendidikan masih disandera oleh orientasi output semata, padahal semestinya berfokus pada proses dan karakter. Hari Pendidikan Nasional harus dijadikan titik tolak untuk meneguhkan kembali nilai-nilai pendidikan yang holistik dan membebaskan.

Baca Juga

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

Peringatan Hardiknas seringkali hanya dilaksanakan dalam bentuk upacara di sekolah dan institusi pendidikan, diisi dengan pembacaan pidato Menteri, menyanyikan lagu wajib, serta mengenakan pakaian adat. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika peringatan ini berhenti sebagai seremoni tanpa transformasi. Sudah saatnya Hardiknas dijadikan gerakan kolektif. Misalnya, menjadikannya momentum evaluasi mutu pendidikan di sekolah masing-masing, mengadakan forum diskusi bersama guru dan orang tua tentang visi pendidikan yang berkelanjutan, atau meluncurkan aksi sosial dan kampanye literasi digital, literasi lingkungan, dan literasi kebinekaan.

Pendidikan adalah gerak hidup, bukan ritual pasif. Maka, aksi nyata perlu dihidupkan sebagai wujud keberpihakan kepada anak-anak bangsa.
Guru bukan sekadar pendidik, tetapi juga pemimpin transformasi di kelas. Namun dalam realitasnya, banyak guru kita yang belum mendapatkan pelatihan memadai, kurang dukungan teknologi, dan bekerja dalam sistem birokrasi yang memberatkan. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus mendorong lahirnya guru-guru pemimpin (teacher-leaders) yang tidak hanya mengajar, tetapi menginspirasi dan memberdayakan.

Hardiknas 2025 mesti menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme dan kesejahteraan guru. Transformasi pendidikan hanya mungkin terjadi jika guru diberikan ruang untuk berinovasi dan bereksperimen. Pelatihan berbasis kompetensi masa depan, seperti penguasaan teknologi pembelajaran, literasi digital, serta pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning) harus menjadi prioritas. Kepemimpinan pendidikan juga perlu hadir di tingkat kepala sekolah, dinas pendidikan, dan para pemangku kebijakan daerah.

Di tengah krisis multidimensi yang melanda dunia—mulai dari perubahan iklim, krisis energi, hingga disrupsi teknologi—pendidikan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan bangsa. Generasi muda perlu dipersiapkan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, inovator, dan penjaga nilai-nilai kebangsaan. Pembelajaran yang menanamkan kesadaran ekologis, toleransi beragama, dan semangat kewirausahaan harus menjadi arus utama dalam kurikulum.

Hari Pendidikan Nasional tidak cukup hanya menjadi panggung refleksi. Ia harus melahirkan komitmen politik, kebijakan nyata, serta budaya belajar yang relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan adalah jalan panjang peradaban. Jika gagal membangunnya hari ini, maka kita sedang menanam benih kehancuran masa depan bangsa.

Pendidikan adalah pekerjaan semua orang. Bukan hanya guru atau pejabat dinas. Orang tua, komunitas, media, akademisi, bahkan pelaku usaha memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk mendukung pendidikan yang berkualitas. Maka Hari Pendidikan Nasional 2025 adalah waktu yang tepat untuk membangun koalisi lintas sektor demi pendidikan yang lebih baik

Mari kita ubah cara pandang kita terhadap Hardiknas. Bukan sekadar hari libur berseragam adat dan foto seremonial, tetapi sebagai seruan kebangkitan nurani pendidikan. Dari upacara ke aksi nyata. Dari pidato ke perubahan. Dari simbol ke substansi. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang belajar untuk tahu, tetapi belajar untuk hidup, untuk berbuat, dan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Kini saatnya kita menyalakan kembali pelita pendidikan yang menerangi setiap sudut negeri, tidak hanya dengan simbol dan seremoni, tetapi dengan aksi nyata yang berakar pada nilai dan keikhlasan.

Pendidikan bukan semata jalan menuju gelar, tapi jembatan menuju peradaban. Dalam semangat tema Hardiknas 2025: Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua, marilah kita hadir sebagai penggerak perubahan di ruang-ruang terkecil: di rumah, sekolah, komunitas, hingga dalam kebijakan dan kepemimpinan.

Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Pendidikan sejati lahir dari harmoni antara ilmu dan tindakan, antara pengetahuan dan pengabdian. Maka tidak cukup hanya berbicara tentang pendidikan, kita harus menjadikannya laku hidup. Kita butuh lebih banyak guru yang menanam nilai, orang tua yang mendidik dengan cinta, pemimpin yang membuat kebijakan berlandaskan kemaslahatan umat.

Ibnu Khaldun, seorang pemikir agung Islam dalam Muqaddimah, menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama terbentuknya peradaban. Baginya, kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh harta dan kekuasaan, tetapi oleh ilmu dan akhlak yang ditanamkan kepada generasi mudanya. Maka hari ini, kita ditantang untuk melanjutkan warisan keilmuan itu dengan menghidupkan kembali semangat literasi, keadilan, dan keberadaban dalam pendidikan.

Mari kita gerakkan pendidikan dari ruang batin dan tindakan. Jadikan Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan, tetapi ikrar bersama untuk memperjuangkan pendidikan yang inklusif, adil, dan membebaskan. Dari upacara ke aksi nyata. Dari simbol ke substansi. Dari rutinitas ke ruh perjuangan. Karena sejatinya, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari) – sebuah penegasan bahwa pendidikan bukan hanya jalan menuju pengetahuan, tetapi ibadah yang mengubah diri dan masyarakat.

Selamat hardiknas tahun 2025 “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu”
Wassalam (*)

Terkait: HardiknasOpini

BERITA TERKAIT

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

5 Desember 2025
RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

2 Desember 2025
Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

2 Desember 2025
Piring Gizi Anakku Dijual Murah: Kapitalisme yang Menguasai Dapur Sekolah

Piring Gizi Anakku Dijual Murah: Kapitalisme yang Menguasai Dapur Sekolah

30 November 2025
Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

10 November 2025
Anak Sekolah dan Bunuh Diri: Kegagalan Sistem Sekuler

Anak Sekolah dan Bunuh Diri: Kegagalan Sistem Sekuler

10 November 2025
Selanjutnya
Momen Hardiknas 2025, Tasming Hamid Tegaskan Parepare Siap Jadi Kota Pelopor Pendidikan Berkemajuan

Momen Hardiknas 2025, Tasming Hamid Tegaskan Parepare Siap Jadi Kota Pelopor Pendidikan Berkemajuan

Berita Terbaru

Wali Kota Parepare Tasming Hamid Rombak Jajaran Pejabat, Ingatkan Kinerja Diawasi Langsung

Wali Kota Parepare Tasming Hamid Rombak Jajaran Pejabat, Ingatkan Kinerja Diawasi Langsung

9 Desember 2025
Wali Kota Parepare Hentikan Acara Pelantikan Demi Doakan Tokoh Dermawan HSL

Wali Kota Parepare Hentikan Acara Pelantikan Demi Doakan Tokoh Dermawan HSL

9 Desember 2025
Operasi Lilin 2025 Siap Digelar, Kapolres Parepare Blak-blakan Soal Strategi Pengamanan Nataru

Operasi Lilin 2025 Siap Digelar, Kapolres Parepare Blak-blakan Soal Strategi Pengamanan Nataru

9 Desember 2025
Final, KPU Parepare Kantongi 115 Ribu Data Pemilih Akurat

Final, KPU Parepare Kantongi 115 Ribu Data Pemilih Akurat

9 Desember 2025
Ribuan Santri Saksikan Kemegahan Grand Final Debat Ilmiah Keislaman Santri Al-Risalah Batetangnga

Ribuan Santri Saksikan Kemegahan Grand Final Debat Ilmiah Keislaman Santri Al-Risalah Batetangnga

8 Desember 2025
Satu Layar, Sejuta Latar: AERAS Hidupkan Ruang Seni Budaya di SMA 5 Parepare

Satu Layar, Sejuta Latar: AERAS Hidupkan Ruang Seni Budaya di SMA 5 Parepare

7 Desember 2025
Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

5 Desember 2025
Bencana Ini Tak Datang Sendiri

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

5 Desember 2025
Lapor Pak Wali dan Semangat Baru Pelayanan Publik di Parepare

Lapor Pak Wali dan Semangat Baru Pelayanan Publik di Parepare

4 Desember 2025
Bagian Program Bimbingan Karier, Siswa Kelas 12 SMA Bosowa School Makassar  Internship Program

Bagian Program Bimbingan Karier, Siswa Kelas 12 SMA Bosowa School Makassar Internship Program

3 Desember 2025

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.