OPINI-Setiap 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional, sebuah momentum yang mengingatkan kita semua: anak bukan hanya pewaris masa depan, tapi juga cermin dari kualitas hari ini. Tahun 2025, peringatan ini mengusung tema besar: “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, dengan tagline yang menyentuh hati: “Anak Indonesia Bersaudara.” Ini bukan sekadar slogan, tapi panggilan untuk semua elemen bangsa terutama kita sebagai pendidik anak usia dini untuk mengambil peran penting dalam membentuk masa depan Indonesia.
Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan hanya menunjukkan kemurnian jiwa anak, tetapi juga menegaskan tanggung jawab besar orang tua, guru, dan masyarakat dalam membentuk karakter mereka. Fitrah itu bisa tumbuh menjadi pohon kebaikan, atau justru kering karena tidak diberi air kasih sayang dan pupuk akhlak.
Anak bukan sekadar penerus, tapi penentu arah peradaban. Maka, mendidik anak hari ini bukan hanya soal kurikulum dan metode, tapi juga soal cinta, akhlak, dan keteladanan.
Anak-anak tidak hanya butuh disiplin, tapi juga pelukan. Mereka tidak hanya perlu tahu “apa yang salah”, tetapi juga merasakan bahwa mereka dicintai meski melakukan kesalahan. Cinta dalam pendidikan adalah energi yang menumbuhkan kepercayaan diri, keamanan emosional, dan motivasi belajar.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam kasih sayang:
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyayang dan penyantun terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)
Mendidik dengan cinta bukan berarti memanjakan, tapi menyentuh hati anak sebelum mengarahkan akalnya. Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah diarahkan, dinasehati, dan diberi tanggung jawab.
Jika cinta adalah tanahnya, maka akhlak adalah benih yang ditanam sejak dini. Sayangnya, di era digital saat ini, anak-anak lebih cepat belajar bagaimana menjadi viral daripada belajar bagaimana menjadi sopan. Tayangan tidak mendidik, bahasa kasar di media sosial, dan keteladanan yang minim di rumah menjadi ancaman serius.
Pendidikan akhlak harus menjadi fondasi dari semua aspek pembelajaran. Tidak cukup hanya mengajarkan anak menghitung dan membaca, tapi juga mengucapkan salam, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, dan bersyukur kepada Allah.
Di PAUD, akhlak bisa diajarkan lewat cerita, lagu, permainan, dan yang paling penting contoh nyata dari gurunya. Guru PAUD bukan hanya pengajar, tapi orang tua kedua yang membentuk karakter anak dalam masa emas pertumbuhannya.
Dua tantangan besar yang harus dihadapi dalam membentuk generasi emas adalah: digitalisasi yang tidak terkendali dan stunting.
1. Anak Cerdas Digital, Bukan Korban Digital
Anak-anak zaman sekarang lebih akrab dengan gadget daripada dengan permainan tradisional. Tanpa pengawasan dan pendidikan digital yang bijak, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang pandai bermain gim, tapi tidak peka terhadap perasaan temannya.
Maka, penting bagi orang tua dan guru untuk mengenalkan etika digital: bagaimana bersikap santun di dunia maya, memilih tontonan yang baik, dan menggunakan teknologi untuk belajar, bukan sekadar hiburan.
2. Generasi Bebas Stunting adalah Generasi Hebat
Kecerdasan anak tak hanya ditentukan oleh stimulasi otak, tapi juga nutrisi dan kesehatan jasmani. Anak yang mengalami stunting sejak kecil akan mengalami keterlambatan tumbuh kembang, baik secara fisik maupun mental.
Investasi gizi sejak dini adalah langkah strategis untuk membentuk anak hebat. Dan itu dimulai dari pengetahuan orang tua dan guru tentang pentingnya makan sehat, imunisasi, dan pola asuh yang benar.
Menuju 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Tapi bonus itu akan berubah jadi beban jika anak-anak hari ini tidak dididik dengan benar. Rumah adalah madrasah pertama, dan PAUD adalah mitra strategisnya.
Sinergi antara keluarga, lembaga PAUD, masyarakat, dan negara adalah kunci membentuk anak hebat. Guru PAUD harus terus didukung, dilatih, dan dihargai, karena mereka memegang kendali atas fondasi pertama pendidikan karakter bangsa.
Tagline “Anak Indonesia Bersaudara” mengajak kita semua untuk menumbuhkan nilai persaudaraan dan toleransi sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan bahwa temannya yang berbeda suku, agama, dan latar belakang tetap saudara sebangsa. Pendidikan multikultural dan nilai ukhuwah (persaudaraan) harus dihidupkan, agar kelak mereka tumbuh menjadi pemimpin yang adil, santun, dan inklusif. Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini memberi peringatan sekaligus harapan. Kita tidak ingin meninggalkan anak-anak yang lemah iman, lemah akhlak, dan lemah karakter. Maka warisan terbaik bukanlah harta atau jabatan, tapi pendidikan dengan cinta dan akhlak mulia.
Selamat Hari Anak Nasional 2025!
Mari kita songsong Indonesia Emas 2045, dengan anak-anak yang sehat, cerdas, berakhlak, dan dicintai. Mendidik anak bukan tugas satu hari, tapi amal jariyah sepanjang masa.
Semoga ada manfaat
Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penuh penulis secara pribadi. Pijarnewscom tidak bertanggungjawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.



















